Tampilkan postingan dengan label Kritik Sosial. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kritik Sosial. Tampilkan semua postingan

Jumat, November 07, 2008

Amrozi dan Surat Ancaman

Di tengah munculnya wasiat —yang diragukan keasliannya— yang mengastanamakan Amrozi Cs, muncul sebuah surat dari Amrozi tertanggal 21 September 2008.

Surat ini asli tulisan tangan Amrozi. Foto kopi surat Amrozi itu didapatkan detik.com , Selasa (4/11/2008). Surat itu diawali dengan tulisan bismillah dalam huruf Arab dan dilanjutkan dengan hamdalah dan shalawat kepada Rasulullah.

Surat ini ditulis Amrozi pada 21 September 2008 di LP Batu Nusakambangan dengan menggunakan tulisan tangan. Tidak ada ancaman bunuh-membunuh dalam surat Amrozi ini. Berikut isi surat selengkapnya:
Assalamualaikum Wr WbAlhamdulillah wassalaatu wassalamu ala rasulillah wa ala alihi wasahbihi wa man walah. Amma ba’du: Alhamdulillah, sampai saat ini saya masih dalam keadaan sehat walafiat, sehat rohani maupun jasmani, lahir maupun batin. Kemudian untuk menanggapi tentang eksekusi, sebetulnya saya tidak pernah berfikir tentang itu. Sebab kalaupun jadi saya diekesekusi - ini urusan mati - sedangkan mati adalah urusan Allah Ta’ala. Bagi saya ini hanyalah resiko jihad. Sebab saya sadar bahwa yang nama jihad itu adalah membunuh ataupun dibunuh. Maka dari itu, seandainya saya jadi dieksekusi, insya Allah saya sahid. Sebab saya yakin yang akan mengeksekusi adalah tentara-tentara Thoghut dan musuh-musuh Allah Taala. Ada pun soal PK, saya akan usahakan bersama-sama tim pengacara saya. Sebab hukum yang dijatuhkan kepada saya tidak sesuai dengan hukum Thoghut sendiri, apalagi dengan hukum Islam. Sekian…. Lapas NK Batu21/9/2008 Amrozi

Ketua Tim Pembela Muslim (TPM) Mahendradatta dalam sebuah acara dialog di tv swasta membenarkan bahwa surat tersebut merupakan surat asli dari Amrozi. “Kalau itu memang benar dari Amrozi,” kata dia.

Mengenai adanya surat atau wasiat yang mengatasnamakan Amrozi, Imam Samudra, dan Muklas, yang di dalamnya merencanakan pembunuhan terhadap para pejabat, Mahendradatta menegaskan bahwa surat itu palsu. “Tolol kalau mainan preman pasar macam begitu dipercaya,” ujar Mahendra.

Jumat, Agustus 22, 2008

Pornografi, Demo, Digital dan Pamor (Por De DiPa)

“Mas, ada aksi mendukung pengesahan RUU APP. Start dr TVRI jam 7.30, jalan ke DPR. Rencananya massif, 1000 orang”

Itu sms (yang telah diedit) dari nomer tanpa nama, tapi aku cukup percaya bahwa informasi itu valid. Akhirnya saya Cuma membalas dengan ucapan ”Makasih infonya”. Mau datang atau tidaknya, ya itu terserah aku. Toh, aku hanya diundang sebagai peliput, bukan peserta. Kebetulan, foto koleksi demo sudah lumayan, bukan cuma dari sekelompok, tapi beragam, dari yang tersopan sampai yang terrusuh, dari demo SD sampai buruh tua di Porong.

Rekan jurnalis diatasku pernah memanggilku ”arya demoholic”, mungkin gerak cepatku yang cukup lumayan jika ada info tentang demo. Kita tidak sedang mengupas masalah demo, tapi akan mengupas makin maraknya aksi pro-kontra atas pengesahan RUU Pornografi menjadi Pornogratis.

Paling tidak, sebagai orang awam, kita sudah bosan dengan ini : Pengunduran jadwal suatu peraturan. Apalagi, jika peraturan itu menyangkut orang banyak, lebih mengarah ke urusan akidah (baca : agama). Kita memang tidak bisa dengan serta-merta menganggap bahwa hanya Islam yang melarang Pornografi, hanya karena demo Pro-RUU yang selama ini dilancarkan dari kelompok Islam.

Muncullah kesimpulan bahwa RUU Pornografi merupakan produk Talibanis –mengambil bahasa dari sebuah milis. RUU yang mulai diluncurkan tahun 2006 ini telah menguras banyak tenaga dan fikiran, dan hingga kini belum juga ada hasilnya. Kian kemari, kian marak pula peredaran rekaman video mesum berdurasi singkat, dengan perkakas yang simple : HP atau kamera digital.

Aku terus terang bingung, (oknum) masyarakat lah yang menciptakan kondisi yang akhirnya bermunculan peraturan sebagai pembatas. Kalau saja tiada kasus-kasus digital semacam itu, mungkin RUU tak pernah ada di jagat wakil rakyat.
RUU ini juga strategis untuk mendongkrak pamor politisi, maklum saja, sekarang zamannya narsis bung, saatnya memburu pamor. Bagi politisi yang Pro dengan RUU ini, pamornya akan naik di kalangan moralis-ideologis. Sebaliknya, pihak yang Kontra, lonjakan dukungan akan datang dari pekerja seni (yang mengaku) cinta keindahan. Oh RUU, nasibmu tak berujung. Andai RUU adalah nama seorang pejabat, mungkin baru berakhir didemo setelah si RUU mati! Seperti Suharto yang tak pernah lagi di demo, ya karena sudah meluncur ke dunia lain.

Minggu, Agustus 10, 2008

Menjadi Gila di Indonesia

FENOMENA gila merambah negeri. Coba perhatikan pemberitaan media akhir-akhir ini, mulai kasus Ryan sampai yang terakhir Yuli Nursanto. Berbagai media masa mengupas kasus ini secara gamblang dan penuh sensasi.

Cobalah tengok kasus Ryan. Pria itu membunuh 11 korbannya. Terbongkarnya pembunuhan berantai yang ia lakukan telah menyita perhatian publik. Majalah Tempo bahkan mengupas secara mendalam pada edisi 23 Juli - 8 Agustus 2008. Sementara, pemberitaan Media Indonesia menempatkan kasus Yuli pada ranah editorial pagi ini (10/8).

Yuli merupakan calon Bupati Ponorogo yang kalah dalam Pilkada. Perlu dicatat, Editorial Media Indonesia jarang sekali mengupas soal seseorang, kebanyakan soal sekelompok orang, lembaga publik atau realitas Indonesia termutakhir lainnya. Satu sisi, gila yang diperankan Ryan bermotif merebut harta. Sementara di sisi lain, gilanya Yudi lantaran kehilangan harta. Dua hal yang sama dalam dua kasus berbeda ini adalah harta.

Harta telah membuat orang gila, namanya gila harta. Ada banyak kejadian di dunia yang mengisahkan kegilaan lantaran harta. Tapi banyak cerita juga yang tidak tersampaikan, misalnya soal korupsi. Para koruptor di negeri ini barangkali dapat dikategorikan gila. Betapa tidak, korupsi yang mereka lakukan sungguh luar biasa jumlahnya. Mulai ratusan ribu hingga trilyunan.

Korupsi menciderai harkat bangsa dan melukai rakyat. Banyak korban berjatuhan karena ulah para koruptor ini, sementara mereka terkesan 'enjoy aja'. Ingat kasus Edi Tansil? kini pria itu sudah tidak terlacak. Ingat kasus dana yayasan milik mantan presiden Soeharto? entah bagaimana kelanjutannya sekarang. Masih segar hari ini, kasus suap Bank Indonesia kepada DPR RI.

Itu hanya kasus-kasus besar. Kasus kecil terjadi di Pariaman, Sumatera Barat. Seorang pegawai dinas Peternakan dilempar kursi oleh Kepala Dinasnya pada Ramadhan 2 tahun yang lalu. Kepalanya berdarah dan harus mendapat perawatan. Semua hanya karena si bawahan tidak mau menanda tangani dokumen proyek fiktif si Kepala Dinas.

Apa yang terjadi kemudian? Hampir satu setengah tahun kasus ini mengendap. Baru mulai disidangkan awal 2008 yang lalu. Juli 2008, Si Kepala Dinas divonis bebas. Hakim beranggapan, Si Kepala Dinas hanya membela diri. Gila.., gila.

Beberapa orang di sekitarku tiba-tiba ditanyai apa yang terbayang dipikiran mereka bila disebut kata 'gila'. Keduanya mengasosiasikan gila dengan sakit, lucu, tidak waras, hilang ingatan, hilang rasa malu. Bagaimana mungkin? Itulah wujud kegilaan.

Semua orang telah terjangkit wabah gila. Banyak jenis gila, selain harta, ada gila hormat, gila kuasa, gila wanita, gila kerja dan sebagainya. Gila atawa gangguan jiwa menjadi alasan pamungkas bagi orang-orang tidak tahan dengan cobaan duniawi. Ia telah pula menjadi akibat bagi orang-orang yang tidak mampu tapi bernafsu besar. Pun, ia menjadi penyebab banyak orang menderita.

Penjelasan tentang gila telah banyak dikupas, terutama kupasan medis dan sosiologi. Ada juga pandangan secara Islam, pernah ditulis oleh Prof. DR. H. Mahmud Yunus, 1984. Ia menyebutkan, bila manusia tuli dan buta pikirannya maka tidak ada harapan bagi mereka untuk menerima kebenaran.

Pertanyaannya, apakah betul mereka yang gila sudah tertutup pikirannya? pikiran itu tertutup sendirinya atau ditutup dengan sengaja? Apa yang terjadi dengan Ryan, Yuli dan para koruptor? Apakah betul mereka gila? atau berlagak gila saja? Agaknya, menjadi gila sudah mulai menjadi tren pada negeri bertajuk Indonesia ini.

Tren yang terkesan baru tapi sebenarnya telah ada sejak negeri ini diciptakan. Apa yang terjadi hari ini tidak lebih dari sebuah pengulangan sejarah. Tapi sayang, kabar tentang gila dimasa lalu tidak begitu mengemuka. Bila tren ini merambah seantero jagad, jangan-jangan nanti dapat pula menjadi bagian dari hak asasi. Siapa tahu? Pada saat itu, Rumah Sakit Jiwa tidaklah terlalu penting artinya. Penjara tidak dibutuhkan lagi. Dapatkah kita berkhayal, suatu saat hal itu terjadi? bgaimana kira-kira keadaannya? Barangkali kita sudah mati, tapi bagaimana dengan anak cucu?
Dimuat disini

Senin, Juli 21, 2008

Manajemen Jenuh

Aku berkenalan dengan seorang karyawan sebuah kantor swasta di Jakarta, anggaplah ia bernama Jojon. Lama kelamaan, Jojon lebih sering mengeluhkan kariernya. Ia merasa bahwa setiap kali bekerja, tidak mendapatkan kepuasan. Karirnya sulit naik. Gaji yang didapat pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena itu ia pun sering berpindah-pindah tempat kerja. Ia berharap, dengan cara itu ia bisa memperoleh pekerjaan yang memberikannnya kepuasan, dari segi karier, maupun gaji.

Setelah sekian lama ia berganti pekerjaan, bukannya kepuasan yang ia dapat, namun justru sering muncul penyesalan. Setiap kali pindah pekerjaan, ia merasa menjumpai banyak kendala. Dan, begitu seterusnya.
Suatu ketika, Jojon berjumpa dengan Irwan, kawan lamanya. Irwan sudah menduduki posisi direktur muda di sebuah perusahaan. Jojon-pun lantas bertanya, bagaimana caranya Irwan bisa memperoleh kedudukan yang tinggi dengan waktu yang relatif cepat.

"Kamu dekat dengan bosmu ya?" tanya Jojon penasaran.
Irwan hanya tersenyum. Ia tahu, kalau Jojon curiga padanya bahwa posisi saat ini dikarenakan faktor koneksi.

"Memang, aku dekat dengan bos aku," jawab Irwan. "Tapi aku juga dekat dengan semua orang di kantorku. Bahkan, sebenarnya aku berhubungan dekat dengan semua orang, baik dari yang paling bawah sampai paling atas. Kamu curiga ya? Aku bernepotisme karena bisa menduduki posisi tinggi dalam waktu cepat?"
Dengan malu, Jojon segera meminta maaf, "Bukan itu maksud aku. Aku sebenarnya kagum dengan kamu. Masih seusia aku, tapi punya prestasi yang luar biasa sehingga bisa jadi direktur muda."

Setelah menceritakan keadaannya sendiri, Jojon kembali bertanya, “Apa sih sebenarnya rahasia sukses kamu Wan?”

Dengan tersenyum bijak Irwan menjawab, "Aku tak punya rahasia apa pun. Yang kulakukan adalah mengaktualisasikan diriku atau fokus pada kekuatan yang aku punyai, dan berusaha mengurangi kelemahan-kelemahan yang aku miliki. Itu saja yang kulakukan. Mudahkan?"

"Maksudmu bagaimana?"
"Aku pun sebenarnya pernah mengalami hal yang sama denganmu, merasa jenuh dengan pekerjaan yang ada dan juga tak bisa naik jabatan. Namun, suatu ketika, aku menemukan bahwa ternyata aku punya kemampuan lebih di bidang pemasaran. Maka, aku pun mencoba untuk fokus di bidang pemasaran. Aku menikmati bertemu dengan banyak orang. Selain itu, aku pun mencoba terus belajar untuk mengusir kejenuhan pada pekerjaan. Dan, inilah yang aku dapatkan.”

Jangan kita memilih pindah tempat kerja hanya karena ingin “melarikan diri” dari masalah. Seringkali kita merasakan sudah berjuang maksimal tetapi belum mendapatkan yang kita inginkan. Jangan pernah putus asa! Kita belum berhasil bukan karena kita tidak mampu, namun, kita belum memaksimalkan semua kekuatan yang kita miliki.

Jika kita mau mengaktualisasikan diri dengan menggali kemampuan dalam diri terus menerus, niscaya, karir kita pasti akan meningkat lebih pesat dan kesuksesan menanti kita di sana.

Minggu, Juni 22, 2008

Fakta Tentang Pornografi

Sebaiknya kita melihat gambar besarnya Pornography adalah suatu multimillion dollar industri, lebih besar dari pemasukan gabungan 8 perusahaan teknologi paling top: Microsoft, Google, Amazon, ebay, Yahoo, apple, Netflix dan Earthlink yang mengkhawatirkan bagi orang tua diseluruh dunia.

Bisnis pornografi ini apakah komik, VCD, HP, terutama melalui internet,adalah bisnis yang nikmat keuntunganya dan pasarnya sangat luas dan global tanpa batas, untuk Indonesia khususnya tidak ada batas umur karena semuamudah diakses siapa saja termasuk anak-anak

RUUP yang dibahas dan digodok di DPR dan oleh 4 Departemen pemerintah, jauh lebih tegas dan lugas memperhitungkan segala aspek menyangkut pornografi jika disandingkan dengan KUHP yang hanya mengatur kesopanan dan kesusilaandalam 2 pasal yang definisinya lebih samar. RUUP memberikan definisi lebihjelas tentang pornografi, sudah mengakomodir keragaman budaya, sama sekali tidak mengatur cara berpakaian, dan menyasar pada industri pornografi,memberi sangsi yang lebih punya efek jera. Saya yakin semua orang tua diseluruh Indonesia yang peduli pendidikan anaknya, mendesak agar RUUP secepatnya diundangkan, karena bahaya sudah dipelupuk mata bukannun jauh disana dalam perandai-andaian.

Bukankah pendidikan anak seharusnya dimulai dari keluarga? Keluarga yangharus membentengi anak anak?Keluarga harus dibantu dalam menegakkan nilai-nilai kekeluargaan dan akhlak, tetapi ketika badai pornografi melanda seperti sekarang ini yanglebih diperlukan untuk membantu keluarga dan orang tua adalah rambu-rambuhukum yang jelas dan lugas untuk membantu penegak hukum. Contohnya, kelompok orang tua di Australia mendesak agar pemerintah memberikan mereka software pemblokir gratis. Di Amerika, organisasi Morality in the Mediayang terdiri dari kelompok-kelompok orang tua lintas agama memantau dan mendesak pemerintah untuk menindak pelanggaran-pelanggaran.

Selasa, April 01, 2008

AAC : Dipuja, Digugat, Dibajak

Masyarakat kita begitu nampak apresiatif pada awal beredarnya Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Novel yang diklaim penulisnya sebagai ’Novel Pembangun Jiwa ini’ mampu menambah geliat sastera Islami yang tengah bangkit mencari tempat para penikmat sastera di Tanah Air. Ide yang ditawarkan Habiburrahman El-Shirazy, Sang Penulis AAC, memang mudah dicerna dengan bahasa universal, yakni cinta.

Namun, romantisme yang ditawarkan memang berbeda dari karya sastera sebelumnya yang kebanyakan bertemakan cinta syahwat nan seronok. Kang Abik, begitu sang penulis ini biasa disapa menawarkan roamantisme dalam Islam, cinta kepada sesama yang tak lebih tinggi dari cinta manusia kepada Sang Pemilik Cinta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Sedemikian indah dan menarik novel ini diceritakan hingga mengalami cetak ulang beberapa kali sejak akhir 2004 digulirkan ke pasar. Efeknya luar biasa, bahkan sebuah suratkabar nasional menyebutkan bahwa AAC merupakan sebuah keajaiban yang ditorehkan oleh seorang penulis Indonesia.

Keajaiban? Benar, kata inilah yang mampu mewakili sebuah karya apik karya anak negeri yang satu ini. Sekitar tiga tahun peredaran AAC, tak kurang sekitar 400 ribu eksemplar telah laris dijual. Dengan angka ini, Kang Abik berhak mendapatkan royalti sekitar Rp.1,8 Miliar dan tercatat sebagai penulis yang mendapat royalti terbesar sepanjang sejarah kepenulisan Indonesia.

Itu baru materil, belum lagi beberapa penghargaan yang berhasil ditoreh, seperti Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional pada tahun 2005. Pada tahun yang sama pula, novel tersebut juga meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006. Yang teranyar, Kang Abik dianugerahi sebagai Novelis No. 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan dinobatkan sebagai salah satu Tokoh Perubahan oleh Republika pada 4 Januari 2008.
AAC Diangkat ke Layar Lebar
Novel AAC yang fantastis ternyata membuat produser MD Picture Manooj Punjabi melirik kesempatan emas untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim (sekitar 80%), MD Pictures setidaknya menargetkan 1% (sekitar 2 juta orang) saja Muslim yang menonton film ini. Dengan hitungan 20 juta dikali sepuluh ribu maka setidaknya diperoleh pendapatan kotor sekitar Rp. 20 Milyar yang akan dikurangi biaya produksi setidaknya Rp. 10 Milyar. Hasilnya keuntungan bersih sebesar Rp. 10 milyar!

Menurut hemat saya, keputusan Kang Abik untuk menerima tawaran AAC difilmkan bukan hanya pertimbangan materi semata. Ada pertimbangan kemaslahatan dan dakwah yang harus dipertimbangkan, meski banyak kalangan dan para ’penggila’ AAC yang menolak novel itu difilmkan. Mereka khawatir nilai-nilai Islam akan luntur dengan selera pasar para kapitalis untuk mereguk keuntungan.

Seperti pernah diberitakan di media, keuntungan royalti selama ini yang ia peroleh digunakannya untuk membangun sebuah pesantren karya dan wirausaha Basmala yang berlokasi di Semarang. Jadi, bisa kita katakan bahwa keuntungan dari film AAC juga akan digunakannya untuk mengembangkan dakwah. Menurut saya, ini merupakan sebuah langkah jitu untuk merambah dakwah di dunia pertelevisian Indonesia, mengingat masih sedikit film yang bertemakan dakwah.

Buktinya, dari informasi yang beredar banyak aktor dan aktris yang ’terwarnai’ dengan film ini menjadi lebih baik dan sadar akan nilai-nilai Islam sebagaimana pesan moral AAC, termasuk sang sutradara Hanung Bramantyo seperti dikisahkan di blognya. Itu artinya, dakwah Kang Abik melalui karyanya dengan sadar atau tidak telah melintasi relung hati para kru dan pemain, itu minimal, belum lagi para pemirsa AAC nantinya.

Karya Itu Dibajak!
Bukan Indonesia namanya kalau tidak ada pembajakan karya. Meski belum sempat film itu diluncurkan di bioskop di Indonesia ternyata sudah beredar AAC versi bajakan. Hal ini membuat Hanung Bramantyo geram dan bingung. Bagaimana mungkin film yang belum diluncurkan tapi versi bajakan sudah ada di pasaran.Menurut saya, di sinilah letak perbedaan mana karya besar dan bukan, yaitu pembajakan. Memang terdengar menyakitkan, tapi mana mungkin sang pelaku mau membajak karya yang ’ecek-ecek’? pasti yang dibajak adalah karya yang bermutu dan bernilai tinggi.
Dalam hal ini, saya tak hendak membela sang pembajak, bukan. Hanya sedikit rasionalisasi bahwa Novel AAC yang megabestseller dan dicintai sekian banyak penikmat sastera ternyata tetap tangguh ketika diangkat ke layar lebar dan berhasil menarik banyak simpati dari setiap elemen masyarakat, termasuk elemen pembajak.

Sabtu, Mei 26, 2007

Hebat, Indonesia Urutan ke-3!!

Indonesia berada di urutan ketiga dalam urusan pornografi setelah Russia dan Swedia. Fakta itu terungkap dalam deklarasi Komite Indonesia Indonesia untuk Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi (KPIP3) di Jogja kemarin. "Itu terjadi karena mudahnya menjangkau media pornografi," papar Dra Hj Numi Akhma dari Dewan Pengarah KPIP3 Jakarta.

Sebuah studi dilakukan Puska Komunikasi FISIP UII pada 2005 di tiga kota, yaitu Palembang, Manado, dan Sumenep. Hasilnya, ketersediaan dan kemudahan menjangkau produk media pornografi merupakan faktor stimulan utama bagi remaja untuk mengonsumsi pornografi.

Perkembangkan teknologi internet adalah satu motivasi penyebab meningkatnya jumlah itu. Dari data yang dihimpun KPIP3 terungkap, pada 1997, terdapat 22.100 situs porno di internet. Tiga tahun kemudian meningkat sepuluh kali.

Pornografi dan pornoaksi di tingkat lokal Jogja tidak kalah marak. Guru gesar Fakultas Psikologi UGM Prof Kuntjoro PhD mengungkapkan banyaknya sex shop di kota budaya dan pendidikan itu.

Menurut dia, lebih dari 25 sex shop di Jogja. "Sebanyak 25 ini hanya di Jogja, belum lagi Sleman dan daerah lain. Tapi, tidak ada yang ngatur," ungkapnya. Dia menyatakan, sex shop turut membantu menurunkan tingkat pelacuran. Dibandingkan dengan prostitusi, dari segi finansial, sex shop lebih murah.

Sabtu, Mei 19, 2007

Dan Satlantas-pun Ngaji

Sabtu pagi itu, jam masih menunjukan pukul 05.45. Tapi, hiruk pikuk sudah terlihat jelas di sekitar Mapolres Kediri. Tidak hanya di pasar yang, memang, lokasinya dekat markas polisi itu, tapi juga di kantor pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kemarin bahkan terlihat ramai. Jika sehari-hari kendaraan yang parkir di depan kantor pelayanan SIM itu berjajar rapi, saat itu justru sebaliknya. Dan, karena lokasinya tidak luas, kendaraan-kendaraan itu meluber hingga depan kantor Bhayangkari. Hampir semua motor yang terparkir adalah motor dinas milik satlantas.

Kesan lain juga terlihat dari polisi sikap polisi yang berdatangan. Mereka terlihat terburu-buru. Dan bergegas memasuki salah satu ruangan di kantor SIM itu.

Dari jauh, sayup-sayup terdengar suara orang mengaji, yang berasal dari ruang tes teori. Lantunan ayat-ayat yang dibaca pun juga tidak asing di telinga orang muslim. "Yaaasiiin....," lantunan ayat Alquran itu disuarakan bersamaan oleh anggota satlantas yang berada di ruangan itu.

Tidak hanya bintara, anggota yang berpangkat perwira pun terlihat khusuk membaca ayat demi ayat. Di tangannya, mereka memegang buku kecil berisi Surat Yasin. Sebagian dari mereka ada yang beberapa kali mengatupkan mulutnya tanda menahan kantuk.

Hampir setengah jam mereka membaca surat yang panjangnya mencapai 83 ayat itu. Selesai membaca surat Yasin mereka menutupnya dengan bacaan doa. Baru kemudian melakukan sarapan bersama. Meski hanya nasi bungkusan, semua anggota sama sekali tidak canggung.

"Ya, pengajian ini kami gelar setiap Sabtu Pagi," ujar Kasatlantas AKP Hariyanto sat ditemui usai acara Yasinan itu.

Hariyanto mengatakan, sebelum dirinya pindah tugas di Kediri, kegiatan pengajian tersebut pernah digalakkan oleh kasatlantas sebelumnya. Sayang, seiring padatnya tugas yang harus dijalankan, kegiatan pengajian tersebut sempat tersendat-sendat pelaksanaannya. Karena merasa sebagai sesuatu yang penting bagi anggotanya, Hariyanto kembali menghidupkannya. "Jangan hanya jasmaninya yang kelihatan sehat, tapi rohaninya juga perlu mendapat suntikan," tutur Hariyanto yang mendampingi Kapolres Kediri AKBP Aries Wahyu Sutikno.

Soal dipilihnya Surat Yasin, Hariyanto mengatakan karena banyak sekali faedah yang didapat bagi siapa saja yang membacanya. Namun selain itu, tujuan lain adalah terciptanya rasa kebersamaan antaranggota kesatuan. Dengan kebersamaan semacam ini, masalah yang dihadapi bisa diselesaikan dengan mudah. "Kadang juga menjadi ajang keluh kesah (curhat) anggota yang punya masalah di lapangan," tambahnya.

Hariyanto berkisah, dulu ketika berdinas di Jakarta, dia melihat polisi yang bertugas selalu sibuk. Beban tugas sangat banyak dan berat. Sampai-sampai, untuk menjalankan kewajiban salat pun mereka terkadang sampai tidak sempat. Begitu pindah dari Jakarta, Hariyanto mengaku bersyukur karena beban tugas yang dipikul agak ringan.

Begitu pentingnya ajaran agama sebagai landasan hidup tampaknya betul-betul ditanamkan oleh Hariyanto kepada anak buahnya. Hariyanto mengaku bisa marah kepada anggotanya yang masih sibuk bekerja saat adzan tanda panggilan salat dikumandangkan. "Apa sih beratnya, tidak usah lama hanya 10 menit saja," terangnya.

Beberapa anggota yang ikut dalam pengajian tersebut mengaku senang dengan digelarnya acara pengajian Sabtu Pagi. Seperti halnya Bripka Bambang Kurniawan, anggota unit kecalakaan. Kendati sebelum digelar pengajian dia harus piket hingga pagi hari, Bambang mengaku tetap senang melakukannya. "Ya dianggap belajar mas, kalau di rumah kan belum tentu sempat," tuturnya.

Menariknya kegiatan tersebut juga diikuti oleh anggota satlantas yang non-muslim seperti Aiptu Ketut Alit, kanit SIM yang beragama Hindu. Saat ditanya keikutsertaannya, Ketut mengaku semua dilakukan karena dia ingin menjaga kebersamaan sesama anggota lantas. "Dari sini saya justru juga dapat ilmu baru yang belum saya ketahui," pungkasnya.

Minggu, April 29, 2007

Ketika Hati Nurani Terkikis Oleh Absensi

Saya sedang berada di ruang front office untuk pelayanan mahasiswa sore itu, sekalian menunggu jemputan pulang. Di depan saya duduk seorang mahasiswi sedang menunggu waktu kuliah. Saya sibuk dengan pekerjaan saya, dia sibuk dengan handphone-nya.

Tiba–tiba masuk seorang mahasiswa dari luar dengan nafas tersengal–sengal. Dia langsung terduduk di lantai, tepat disamping mahasiswi yang duduk didepan saya.

Saya cuma melirik dengan sudut mata saya, tingkah mahasiswa kan aneh–aneh. Ada bangku tapi malah selonjoran dilantai. Freak!

Mahasiswi : “kenapa lu?”
Rupanya mereka saling kenal.
Mahasiswa : “kagak, gue ngejar waktu aja nih, takut telat”
Mahasiswi : “belooom..bu Paulina belom dateng, trus lu kenapa duduk di situ?”
Mahasiswa : “panik gue…!”

Kemudian mahasiswa itu berdiri dan pindah duduk persis disamping mahasiswi.
Mahasiswi : “Bu Paulina udah dateng belom sih mba?”
Mahasiswi ini ganti bertanya kepada karyawan front office disamping saya.
Mba : “belum liat say…, belum dateng kali”
Mahasiswa : “ah sialan! serius mba belum dateng???” dia bertanya kesal kepadanya.
Mba : “Hussss…”
Mahasiswa : “kirain gue udah telat, sial..gue udah nabrak orang tadi sampe nyusruk, buru–buru..eee die belom dateng lagi! Ah kampret!”
Mba : “Innalillahi !!!!” kali ini saya menghardiknya pelan. Mba sebelah saya geleng – geleng.
Mahasiswa : “bukan gitu mba, gue tadi nabrak orang naek motor sampe nyusruk, gue pake mobil, tapi karena gue buru–buru makanya tuh orang gue tinggal. Gue ngabur aja. Untung sepi gak ada orang liat. Kagak tau dah gimana nasibnya tuh orang!”

Dia berdalih. Tapi mukanya nda memperlihatkan kalo dia menyesal. Kayak sedang bercerita abis nonton sinetron. Kali ini saya menatapnya serius. Mahasiswi didepan saya juga menatap nda percaya, “Gila lo!!!serius lo???” tanyanya serius. Mahasiswa itu mengangguk cuek.
Mba : ”trus, kamu nda nolongin orangnya??” penasaran.

Mahasiswa itu menggeleng cuek. Nyengir. Saya ikut mendelik, seakan say ingin langsung mengeluarkan pendapat. Sambil melongo atas mahasiswa itu, saya rampungkan kerja saya yang tinggal sedikit. Mahasiswi disebelahnya geleng – geleng.
Mahasiswa : ”abis gimana mba? Ibu Paulina kan disiplin banget. Gue udah dua kali gak lulus mata kuliahnya dia, masa gara–gara gue nolongin orang yang nyusruk tadi, gue harus nggak lulus ketiga kali sih mba? “ ujarnya berdalih sambil menutup mukanya.
Saya kali ini bener–bener melongo. Saya ikut heran. Sekaligus nda percaya. Hanya bisa beristighfar berulang–ulang.
Saya : “are u insane???? Tolongin dong deee….yang kamu tabrak kan manusia?!! bukan benda atau hewan??!” saya sedikit histeris. Saya stress ngeliat gayanya yang cuek banget.
Mahasiswi : “tau lo, kucing aja lo tabrak bisa cilaka, orang lagi lu tabrak kagak lu tolong!” Saya menunggu responnya. Mahasiswa itu mengusap mukanya.
Mahasiswa : “yah sorry dah, Allah juga tau lah kalo gue buru–buru! Mudah–mudahan tuh orang selamet dah, nggak napa–napa, maap Ya Allah.. saya buru–buru.. swear!”
Mba : “tau nggak kamu, kalo Allah berkehendak, bisa jadi kamu tetep nggak lulus mata kuliah Bu Paulina atau Allah membalik nasib kamu seperti nasib orang yang kamu tabrak tadi gimana?” ujarnya gemas

Dia hanya terdiam, mengusap muka lalu menepuk jidatnya. Kurang pasti juga dia menyesal atau tidak. Sedangkan saya sibuk dengan pertanyaan dalam hati ; bagaimana bisa orang secuek itu ya? emang udah nggak ada hati nuraninya lagi apa ya?

Tiba–tiba teman saya yang menangani masalah perkuliahan masuk. Dua orang mahasiswa tadi langsung menyerbu ,”Bu Paulina udah dateng belum mas?” tanya mereka hampir bersamaan. “udah dateng dari tadi, pindah ke ruang 312” ujar temanku. Sambil menggerutu mereka segera menghambur keluar ruangan. Dan sepertinya mahasiswa yang menabrak orang naik motor dengan mobilnya sampe ‘nyusruk’ tadi, langsung melupakan kejadian naas yang baru saja dialaminya tanpa rasa bersalah. Masalah itu hilang bersama angin yang membawanya serta ke ruang 312. “Innalillahi wa inna illaihi roji’uun…”

Apa yang sedang terjadi dengan ‘hati nurani’ manusia saat ini ya? Yang terkikis ternyata nggak cuma moral dan urat malu, bahkan hati nurani juga sudah terkikis. Lalu bagaimana Allah mengampuni kita semua?

Kamis, Maret 15, 2007

Agar Anak Tidak Maniak TV

Dalam era informasi saat ini rasanya tak ada satu keluarga pun yang tidak memerlukan pesawat TV. Dengan si kotak ajaib ini kita bisa menikmati siaran TV, tayangan dari VCD, play station, nintendo, dan lain sebagainya.

Celakanya, semua itu merebut sebagian besar waktu dan perhatian kita terutama anak-anak. Melarang mereka menonton atau menikmati berbagai bentuk hiburan seperti diatas jelas tak mungkin. Yang diperlukan justru pengaturan yang tepat agar anak-anak kita tidak menjadi maniak nonton berbagai bentuk tayangan TV. Berikut beberapa kiat yang bisa digunakan:

- Untuk satu keluarga cukup sediakan satu pesawat TV. Hindari satu kamar satu pesawat TV, karena hal ini menyulitkan pemantauannya. Dengan cuma ada satu pesawat TV, kita bisa menjadikannya sebagai media berkumpul.

- Matikan pesawat TV pada jam-jam tertentu. Misalnya, Pukul 19.00 - 21.00, yang merupakan jam-jam belajar. Ini memerlukan kesepakatan dengan anak-anak. Sebaliknya, kita juga perlu membuat kesepakatan untuk menonton acara-acara TV atau tayangan VCD pada jam-jam tertentu sebagai media untuk berkumpul dan bisa dinikmati bersama.

- Buat acara tandingan. Bila anak sudah tergila-gila program acara TV tertentu, buat acara keluarga yang lebih menarik pada waktu yang sama. Misalnya, makan di luar rumah atau jalan-jalan.

- Dampingi anak ketika menyewa atau membeli VCD atau piringan game. Ini dimaksudkan agar anak tidak memilih materi yang tidak cocok dengan usianya atau tidak mendidik. Ketika dia bermain pun sebaiknya kita dampingi dan ajak mereka berdiskusi, memberi apresiasi, dan kritik. Beri pula pengertian bahwa adegan yang ditontonnya cuma hasil rekayasa.

- Dorong mereka ikut kegiatan lain di sore hari. Misalnya, kegiatan kesenian, olahraga atau bentuk permainan yang mendidik lainnya.

- Ciptakan kondisi agar anak suka membaca. Caranya dengan menyediakan bacaan sesuai tingkat usia mereka di rumah.
- Libatkan mereka dalam kegiatan rumah. Misalnya, berkebun, membersihkan rumah, atau merawat hewan piaraan.

Kamis, Maret 01, 2007

Memilih Media untuk Anak Kita

Kata-kata kasar, perkelahian, dan berbagai kekerasan lainnya sudah menjadi pemandangan yang biasa di televisi. Bahkan acara anak pun tidak bersih dari adegan-adegan semacam itu. Apa akibatnya?
Beberapa tahun yang lalu, Inggris gempar dengan tewasnya seorang balita akibat penganiayaan yang dilakukan 3 anak berusia 7-8 tahun. Alasan ketiga anak tersebut sangat sederhana, mereka ingin mencoba adegan yang telah mereka saksikan di televisi. Lalu benarkah pendapat bahwa menonton kekerasan di televisi merupakan jalan keluar bagi dorongan agresif yang terpendam ?
Bukan sahabat yang baik orangtua boleh tidak suka, tapi kenyataannya sebagian besar anak banyak menonton televisi. Bahkan sebagian dari mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi daripada di sekolah!

Sudah banyak ahli pendidikan yang bersuara mengenai minimnya tayangan yang layak dikonsumsi anak, tapi tampaknya hal itu belum menjadi perhatian utama insan pertelevisian. Semakin banyaknya acara anak ternyata tidak didukung dengan kelayakan, dalam artian menghibur sekaligus mendidik.
Beberapa acara yang baik seperti animasi impor Blue's Clues atau acara dalam negeri Tatitu memang mengajarkan anak untuk berpikir logis. Tapi kebanyakan acara justru mengajarkan kekerasan dan nilai-nilai kehidupan yang murahan. Salah satu sinetron anak-anak yang ditayangkan pada hari Minggu misalnya, hanya karena ingin mengganti pemain, dimuatlah adegan penyiraman air keras ke muka pemeran utama. Lebih mengerikan lagi, pelakunya sama sekali bebas dari hukuman.

Lalu bagaimana siaran berita yang dulu menjadi tontonan wajib anak sekolah? Banyak orangtua yang menganggap sinetron, telenovela, dan film-film jagoan sebagai 'perusak' moral anak; tapi siaran berita yang diasosiasikan sebagai bentuk pendidikan, bebas dari tudingan tersebut

Tahukah Anda bahwa siaran berita pun sebenarnya merupakan bentuk dari entertainment yang seringkali memberikan pandangan yang keliru dari kenyataan. (Ingat, di luar negeri Indonesia pernah mempunyai citra sebagai negeri yang mengerikan. Padahal di sini kita tetap merasa aman.) Siaran berita pun salah satu panggung kekerasan. Jika dulu berita kriminal hanya dibacakan, kini ditayangkan kondisi fisik korban pembunuhan, penangkapan tersangka yang kerap diwarnai dengan tembak-menembak, bahkan juga rekonstruksi pembunuhan yang menunjukkan bagaimana pembunuhan dilakukan. Berita semacam itu, terkadang terselip di antara acara anak-anak!

Saya pernah mendapatkan pengalaman tidak enak berkaitan dengan penyelipan berita di antara acara anak-anak. Saat anak saya yang berumur 4 tahun sedang menyaksikan kartun, tiba-tiba muncul adegan demonstrasi mahasiswa yang diwarnai dengan keributan dengan aparat. Tayangan itu dengan jelas menunjukkan aparat memukuli mahasiswa. Anak saya yang bercita-cita menjadi polisi langsung berteriak, "Polisinya jahat! Orang cuma demo kok dipukuli sampai berdarah!" Cita-citanya pun berubah, ia tidak mau menjadi polisi lagi.

Dampaknya Beragam
Ada pendapat bahwa tayangan kekerasan merupakan jalan keluar untuk menyalurkan dorongan agresi yang sifatnya bawaan. Pendapat itu mungkin dipengaruhi oleh teori Freud, tapi kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Untuk membuktikannya, beberapa penelitian di Amerika Serikat melaporkan bahwa anak yang menonton film kekerasan menjadi lebih agresif daripada anak yang hanya menonton film kartun tanpa kekerasan.

Sebuah penelitian jangka panjang yang melibatkan 800 anak laki-laki usia 8-9 tahun menunjukkan, anak yang mempunyai kebiasaan menyaksikan acara yang mengandung kekerasan lebih agresif daripada anak yang menyaksikan sedikit acara kekerasan. Setelah 10 tahun - anak-anak yang menjadi objek penelitian sudah berusia 1 8-1 9 tahun - anak yang lebih agresif di masa kanak-kanak ternyata semakin bertingkah laku agresif sehingga sebagian dari mereka mempunyai catatan kriminal.

Lalu bagaimana dengan anak perempuan? Bersyukurlah karena anak perempuan sejak kecil biasanya telah dikondisikan untuk bertingkah laku tidak agresif. Tapi dengan semakin banyaknya jagoan perempuan dalam tayangan anak, kesimpulan penelitian semacam itu pasti segera berubah.

Hal lain yang mungkin muncul dari tayangan kekerasan di televisi adalah rasa takut. Adit (8 tahun) yang menonton berita mengenai bom Marriott menjadi begitu ketakutan, sehingga merasa perlu untuk menelepon ayahnya agar berhati-hati. Ketakutan mencekam juga dialami Dion (4 tahun) ketika menyaksikan adegan Arie dihukum ayahnya dalam film Arie Hanggara. Selama beberapa malam ia tidur mengigau dan di siang hari ia terus membahas tentang film itu.

Agar Dampak (Buruk) Tidak Berkelanjutan
Perlukah orangtua melakukan penyensoran terhadap acara televisi yang ditotonton anak-anak? Tentu saja perlu. Sebagaimana makan, menonton televisi pun memerlukan 'diet'. Sebelum memperbolehkan anak menyaksikan suatu acara, orangtua sebaiknya telah menetapkan aturannya. Diet televisi tidak saja dapat melindungi anak dari tayangan yang berpotensi memiliki dampak negatif, tapi juga mempengaruhi selera anak. Lebih baik lagi jika Anda mendampingi anak setiap kali menonton televisi.

Bagaimana jika tayangan televisi sudah telanjur mempengaruhi tingkah laku anak? Anak yang manis tiba-tiba menjadi kasar atau anak pemberani tiba-tiba berubah menjadi cengeng?

Kebanyakan orangtua biasanya gusar jika anaknya menjadi agresif, suka memukul atau berkata buruk. Jika hal itu terjadi, selain mengurangi waktu menonton televisi dan menggantinya dengan kegiatan yang tidak merangsang agresivitas seperti berenang, anak perlu terapi hadiah dan hukuman (reward and punishment). Berilah hukuman yang berarti, seperti pemotongan uang saku setiap kali anak melakukan kekerasan; dan berikan hadiah mainan, buku, atau makanan kecil yang disukai jika dalam waktu tertentu ia tidak bertindak agresif.

Membatasi waktu menonton televisi juga perlu diterapkan pada anak yang menjadi takut. Tapi selain itu, Anda harus selalu siap dengan berbagai penjelasan. Akan lebih mudah menjelaskan hal yang dilihat jika anak sudah berusia 7 tahun. Dengan pelukan dan mengkomunikasikan perasaannya, anak biasanya sudah bisa tenang.
Tapi menjelaskan pada anak yang masih kecil adalah suatu tantangan. Memberi pengertian pada anak bahwa kisah Harry Potter hanyalah khayalan dan dia hanya purapura diserang oleh troll (sejenis makhluk sihir) cukup menyulitkan. Apalagi jika harus menjelaskan bahwa pembunuh sadis Sumanto itu sudah ditangkap (ia pasti akan bertanya, "Kalau lepas bagaimana?") dan tempatnya jauh dari tempat tinggal Anda (ia mungkin akan bertanya, "Dia 'kan bisa naik bis."). Kesabaran Anda dalam hal ini sangat dibutuhkan.

Kamis, Februari 01, 2007

Anak dan Media (yang Meresahkan)

Media menjelma dalam berbagai bentuk dan sarana yang berkembang dan baru antara lain media cetak, radio, televisi, dan komputer. Dewasa ini merupakan jaman media. Kemajuan teknologi semakin memacu dampak media itu menjadi berjuta–juta kali. Dahulu pengaruh itu melalui gelombang suara, tetapi sekarang sudah meningkat dalam bentuk gambar hitam-putih, berwarna, bersuara, dan hidup. Keunggulan tekhnologi menambah besarnya pengaruh media bagi masyarakat.


Sarana Media :
1. Media Bacaan
Ini merupakan media yang paling luas penyebaran dan pengaruhnya serta mudah berpindah tempat. Ia tidak membutuhkan perantara untuk memindahkan informasi yang ada ke dalam pikiran pembaca, tapi bekerja sendiri untuk menyerap kandungannya.

2. Media Audio
Alat ini memiliki keistimewaan tersendiri karena lebih banyak menyibukkan satu indera saja yaitu 'indera pendengaran'. Ia memindahkan informasi dan menyerapnya ke dalam otak hanya melalui pendengaran.

3. Media Audio Visual
Alat ini merupakan media yang membawakan suara dan gambar sekaligus. Ia menyibukkan dua indera sekaligus, yakni pendengaran dan penglihatan. Ia mampu memukau penoton dengan sempurna pada materi media yang dihidangkan.

4. Media Komputerisasi
Alat ini merupakan media hasil kemajuan dunia tekhnologi. Ia menyuguhkan informasi dalam dunia maya ke seluruh dunia. Komunikasi dan informasi dapat disuguhkan dalam bentuk tulisan, suara, dan gambar dalam waktu lebih effisien.
Media diibaratkan seperti pedang bermata dua. Dia merupakan alat ampuh dalam memberikan manfaat semaksimal mungkin kepada masyarakat, tapi dia juga dapat menghancurkan segala yang telah dibangun sekian lama dalam tempo relatif singkat.
Dampak Media dalam Kehidupan
Dewasa ini media modern mempunyai kecenderungan lebih banyak memasukkan kebatilan daripada kebenaran yang semuanya diperindah dengan gambar, warna, yang dapat mendatangkan keasyikan (melalaikan).

1. Media televisi
Menyuguhkan film – film barat, yang bersifat keras, dan kriminalitas, amoral (film porno), cerita picisan dll, nyanyian dengan lirik yang kurang baik. Terkadang menyuguhkan penjelasan ilmiah tentang bahaya rokok bagi kesehatan tetapi di tempo yang lain menawarkan rokok istimewa.

2. Media Komputerisasi
Menyuguhkan situs – situs porno, dari mulai gambar, suara, kartun, CD porno, game dst. Berjamurnya warnet – warnet yang menyuguhkan media ini, membebaskan orang untuk dapat menggunakan media komputer dan internet tanpa harus memilikinya.

3. Media Bacaan
Dewasa ini menjadi tradisi media cetak berwarna menampilkan berbagai gambar wanita yang menjadi unsur yang hina. Kehormatannya runtuh oleh dunia media dan periklanan dengan cara yang memalukan. Mulai dari iklan pencukur jenggot, mobil, rokok, makanan, shampoo, baju dst, ditawarkan melalui gambar wanita. Ini semua dilakukan dalam rangka melariskan dagangannya.

Wanita yang berpikiran bebas menerima semua ini dengan suka cita, dengan penuh kealpaan, dan dalam dunia sastra picisan wanita dianggap sebagai sumber inspirasi bagi penyair, pembuat cerita dan lagu.

Golongan yang menjadi Sasaran Media
1. Anak – anak
Menurut hasil penelitian secara umum, anak adalah suatu publik yang sempurna di samping sebagai publik peniru. Pada usia ini gambar adalah unsur yang paling menarik. Mereka bersemangat membaca buku bergambar yang dihiasi lukisan dan warna menarik, serta huruf besar yang memikat.

Media Audio-Visual dan komputerisasi + internet merupakan media paling kuat pengaruhnya pada anak-anak. Peneliti Bloumer mengatakan bahwa 'Media Televisi amat menarik perhatian masyarakat terutama anak- anak. Penelitian membuktikan sebagian besar anak terpikat dengan semua keterangan yang disuguhkan film di televisi tanpa ragu sedikit pun.'

Sementara itu Dr. Sbouck mengatakan pengaruh media Audio terhadap anak: 'Saya hampir ketakutan mendengar sebuah lagu yang sentimental namun menyiratkan seksual, yang dibawakan oleh seorang penyanyi professional. Saya takut dan khawatir anak saya mendengar nyanyian itu'

Dalam dunia kenyataan, banyak kita saksikan pengamen-pengamen cilik menyanyikan lagu orang dewasa yang bernapaskan cinta, yang pada dasarnya ia sendiri tidak mengerti akan makna dari lirik lagu yang dinyanyikannya. Hal ini menunjukkan mulai termakannya media dalam memberikan warna serta pengaruh pada anak.

Dr. Sbouck juga mengatakan banyak psikolog menegaskan ketika mereka melakukan pengusutan terhadap beberapa anak yang melakukan kejahatan, jawabannya hampir sama, yaitu diperoleh dari cerita detektif dan film baik di televisi maupun bioskop.

Anak memang memiliki kecenderungan ingin mengetahui seluk beluk kehidupan seksual, tetapi mengapa kita tidak mengajarkan kepada mereka tentang seluk beluk ini secara perlahan dan bertahap ?

2.Remaja
Daya hayalnya luas dan liar, angannya menghembuskan angin sorga yang indah, karena mereka sudah mengamati kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya. Mereka tidak pandai mengatasi perubahan jasmani dan rohaniyahnya. Namun pengarahan dan bimbingan yang sesuai dengan harapannya tidak pernah ada, baik dalam lingkungan keluarga maupun sekolahnya. Di sekolah otak mereka telah sarat dengan ilmu pengetahuan antara benar dan salah sulit dibedakan.

Seharusnya peran yang dituntut remaja kita menjadi tanggung jawab media harus ditangani dengan serius dan terencana, karena jika tidak akan menimbulkan banyak kerugian.

3.Pemuda
Banyak menaruh perhatian pada problema kemasyarakatan dan hal–hal yang bersifat sentimental. Mereka bertindak atas dorongan jiwanya yang halus untuk mengadakan pendekatan dan penyesuaian diri dengan kelompok lain.

Mereka gemar membaca tentang peristiwa besar di Koran dan berusaha memahami pemecahannya. Sebenarnya pemuda sangat membutuhkan orang yang bijaksana, yang mampu mengisi kekosongan waktunya dengan berbagai hiburan dan acara yang bersih.
Mengatasi Pengaruh Media
Hendaknya seluruh keluarga ( khususnya orang tua ) secepatnya meneliti dan memisahkan acara yang boleh dan yang tidak boleh ditonton, dibaca, oleh anak.

Pengawasan yang berkesinambungan menumbuhkan kepribadian pada anak yang sensitive akan timbul 'keenganan' untuk menonton acara televisi yang penuh kriminalitas, horror, atau bermain komputer dengan situs porno, dan bacaan yang kurang baik.
Membekali ilmu agama sebagai benteng dengan 'akhlak' untuk mencegah dan mengstabilkan gejolak anak dengan pengaruh yang kurang baik dari media tersebut. Peranan guru dalam memberikan ilmu pengetahuan tentang gambar tubuh manusia serta fungsinya. Memilihkan bacaan, film, game bagi sang anak dengan terlebih dahulu membacanya, melihatnya atau pun mengeceknya serta menilai isi serta pengaruhnya pada sang anak.

Sabtu, Oktober 28, 2006

Deklarasi Pemuda, Cikal Bakal KNPI

Pemuda Indonesia adalah ahli waris cita-cita bangsa yang syah dan sekaligus adalah generasi penerus, yang telah ikut meletakkan dasar-dasar kermerdekaan bangsa Indonesia, dengan melewati suatu simponi perjuangan yang panjang.

Tapak-tapak sejarah dibelakang kami, adalah kesaksian yang paling nyata dan tonggak kebenaran, tentang usaha dan pengorbanan yang tiada taranya, telah memberikan kesadaran dan tanggung jawab pada kami untuk kami teruskan sebagai pesan suci.Kami pemuda Indonesia menyadari sepenuhnya dengan khidmad menagkap getaran Sumpah Pemuda yang menggariskan dan mengejawantahkan tekad satu bangsa, satu tanah air, satu bahasa dan piranti kesatuan dan kesatuan, lainnya: Sang Saka Merah Putih, lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Bhinneka Tunggal Ika.Kami bertekad untuk mengarahkan seluruh upaya dan kemampuan guna menumbuhkan, meningkatkan dan mengembangkan kesadaran kami sebagai satu bangsa yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945, dengan menjaga dan ikut serta melaksanakan haluan negara yang menjadi penuntun bagi langkah-langkah kemudian.
Oleh sebab itu pengabdian yang menjadi tanggung jawab kami selaku generasi muda masa kini adalah keharusan diri menyatukan tenaga dan pikiran untuk ikut serta mengisi kemerdekaan dengan lebih segera mempercepat pembangunan dan kemajuan masyarakat.Kami menyadari sepenuhnya akan panggilan dan makna kami sebagai kaum muda adalah salah satu faktor penggerak untuk sesuatu yang lebih berarti bagi tercapainya cita-cita bangsa Indonesia, menuju jenjang yang lebih tinggi dan luhur, demi tercapainya masa depan yang lebih baik.Dihadapan kami terbentang masa depan dan hasil pembangunan bangsa kami. Generasi muda dan hasil pembangunan adalah masa depan itu sendiri. Oleh karena itu, generasi muda, pembangunan dan masa depan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan.Dengan rasa tulus dan ikhlas menyatakan diri berhimpun dalam langkah dan gerak bersama demi tercapainya cita-cita generasi muda Indonesia.Maka dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, kami menyatakan dengan resmi berdirinya Komite Nasional Pemuda Indonesia.
Jakarta, 23 Juli 1973
Atas Nama Pemuda Indonesia
David Napitupulu
Drs. H.M Abduh Paddare
Cosmas Batubara
Albert Hasibuan, SH
dr. Abdul Gafur
Aswin Harahap
Drs. Zamroni
Budi Hardjono
Drs. Soerjadi
Aulia Rachman
Akbar Tandjung
Tom Nggebu
S. Oetomo
Awan Karmwan Burhan, SH
Narwan Hadisardjono
Hakim Simamora, SH
Oemar Ghiffary, SH
Eddy Raintung
Amir L. Sirait
Nazaruddin W
M.L Tobing
Hatta Mustafa, SH
Suhardi, SH
Said Budairi
Barnabas Banggur, SH
Drs. Chrissiner Key Timu
Ridwan Saidi Sri Redjeki
Drs. Binsar Sianipar
Ratnawati Fuad
Zabidin Jakub, SH
Freddy Latumahina
Eko Tjokrodjojo
Eddy Sukirman

Sabtu, Juni 10, 2006

Enam Butir 'Prestasi' Pornografi

1. Yayasan Kita dan Buah Hati pernah melakukan survei sepanjang tahun 2005 di antara kalangan anak-anak SD, usia 9-12 tahun. Respondennya 1.705 anak di Jabodetabek. Ditemukan, ternyata 80 persen dari anak-anak itu sudah mengakses materi pornografi dari bermacam-macam sumber: komik-komik, VCD/DVD, dan situs-situs porno.

2. Di Indonesia, komik-komik porno harganya cuma Rp 2.000-Rp 3.000, sementara VCD porno bisa Rp 10.000 dua keping. Itu bisa dibeli di stasiun kereta, di depan sekolah, di depan kantor polisi, bisa di mana saja.
3. Survei lain, misalnya dari BKKBN 2002, menyebutkan hampir 40 persen remaja pernah berhubungan seks sebelum menikah.

4. BBC dan CNN pada 2001 juga pernah melaporkan, Indonesia dan Rusia merupakan pemasok terbesar materi pornografi anak, di mana anak-anak ditampilkan dalam adegan-adegan seksual.

5. Lebih dari 3 juta anak dilibatkan dalam pekerjaan yang berbahaya. Sekitar sepertiga pekerja seks komersial berumur kurang dari 18 tahun; 40.000-70.000 anak lainnya telah menjadi korban eksploitasi seksual.

6. Sekitar 100.000 wanita dan anak-anak diperdagangkan setiap tahunnya, di antaranya untuk bisnis seks. Belum lagi 5.000 anak ditahan atau dipenjara, yang 84 persen di antaranya ditempatkan di penjara dewasa.

Senin, Februari 13, 2006

Seribu Rupiah

Suasana kereta Kahuripan tampak lengang. Yang terdengar adalah suara berisiknya roda yang bergesekan dengan rel. Sesekali memang ada suara manusia yang nadanya sama, menawarkan minuman penghangat tubuh. Digerbong ke-5, aku duduk berhadapan dengan seorang wanita muda berpakaian seadanya. Posisi tidurnya tak menentu, kakina kesana-kemari. Akhirnya malam itu kuhabiskan untuk sekedar berfikir apa yang akan kulakkan ketika tiba di Yogyakarta.8 Jam sudah berlalu. Kereta tak terasa lajunya.Tepat waktu subuh di Lempuyangan, stasiun kereta api kelas ekonomi, kini tumpah ruah ratusan kepala beserta tubuh lelahnya dan barang-barang yang menghiasi genggaman mereka. Penumpang tetap satu tujuan, yaitu kamar mandi. Sudah sewajarnya penumpang memilih kamar mandi sebagai tempat pertama yang dikunjungi penumpang kereta pada umumnya, karena -bukan rahasia umum- kamar mandi di kereta (bahasa halus dari WC) benar-benar tak nyaman lagi. Beda lagi dengan kamar mandi kereta eksekutif.Antrian dikamar mandi begitu panjang. Lima pintu yang tersedia sudah berbaris didepannya laki-laki dan perempuan. Satu orang masuk, yang lain menunggu. Jika didalam WC orang itu terlalu lama, maka suara bernada agak tinggi akan terdengar "Antri nih mas...!!".Kini giliranku. Aku hanya berniat untuk wudhu karna memang tidak ada rasa untuk buang air kecil, apalagi besar dalam kondisi antri seperti itu.Pintu tak kututup sebagaimana orang lain menutupnya, itu kulakukan agar yang antri dibelakangku menjadi saksi bahwa aku hanya wudhu dalam kamar mandi. Selesai.Kuberjalan dengan santai melewati petugas yang tak jauh dari jarakku. Kerumunan antrean menuju kearahku seketika setelah terdengar suara khas penjaga WC "Mas, bayarnya mas..", "saya cuma wudhu pak" jawabku. "Ya tetep bayar mas, ini temapat bisnis" sahutnya lebih keras. "Lho, kan saya disuruh orang masjid supaya wudhu disini, air disana lagi mati" jelasku dengan tenang. Kerumunan antrian makin asyik memandang kami. Tidak ada yang berani memisahkanku meskipun kami sekedar perang mulut.Penjaga WC kemudian menjawab perkataanku dengan langsung berdiri dan bermuka sangat marah "B....... (*** edited) kamu, masih kecil dah bisa ngelawan yang tua, emangnya kamu yang ngasih aku duit, emangnya Tuhan kamu yang bayar WC!!". Dalam kondisi seperti itu, aku khawatir menjadi korban pengeroyokan, maklum, daerah itu bukan tempat yang biasa kulewati, jadi wajahku dilihatnya asing, walaupun aku sering memakai jasa kereta ekonomi.Segera kuambil sepuluh lembar uang seribu rupiahan "Baiklah pak, ini saya infaq buat njenengan, kalau bapak muslim jangan lupa sholat, mudah-mudahan rizki bapak bisa banyak dan berkah..". Omonganku yang terakhir ini tidak dibantah, jelas, karena aku ngomong sambil memberikan uang.Seusai sholat, aku melewati kamar mandi itu lagi. Bapak penjaga WC memandang sepintas setelah itu menunduk. Entah mengapa setumpukan uang seribu rupiah yang sedang dihitungnya itu dianggapnya lebih penting daripada persahabatan dan perbekalan untuk waktu yang lebih kekal. Duh manusia zaman sekarang, seperti inilah contoh kecilnya. Semoga Allah memberinya hidayah kepada seluruh umat yang terlena dengan kebahagiaan semu.

Rabu, Juni 22, 2005

Pustakamasjid, Terobosan Cerdas

Sejatinya masjid tak hanya menjadi tempat beribadah. Menurut J Pedersen dalam bukunya Arabic Book, pada masa keemasan Islam, masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Di era kekhalifahan masjid merupakan tempat para sarjana dan ulama Muslim menyusun buku.

"Sebelum diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik. Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan," papar Ziauddin Sardar. Paparan penulis atau ilmuwan itu lalu didengarkan masyarakat umum dan dikopi oleh seorang warraqin--yang bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya.

Masjid dan perpustakaan pada zaman kejayaan Islam tak bisa dipisahkan. Sebab, masjid juga memainkan peran yang penting lainnya, yakni sebagai perpustakaan. Kehadiran perpustakaan di dunia Islam juga berasal dari aktivitas keilmuan yang digelar di rumah Allah SWT. Menurut Pedersen, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub (perpustakaan).

Masyarakat di hampir seluruh dunia Islam, mulai dari Atlantik hingga ke Teluk Persia, menjadikan masjid sebagai tempat yang aman untuk menyimpan buku. "Buku-buku itu dihadiahkan dan banyak ilmuwan yang mewariskan perpustkaan pribadinya kepada masjid untuk menjamin buku mereka tetap terpelihara," ungkap R Mackensen dalam Background of the History of Muslim Libraries Observes.

Tak heran, jika koleksi buku yang dimiliki perpustakaan masjid begitu melipah. Di Allepo, Suriah, misalnya, perpustakaan masjid tertua bernama Sufiya mengoleksi buku hampir 10 ribu volume. Buku-buku itu merupakan pemberian dari penguasa Kota Aleppo yang termasyhur, Pangeran Sayf al-Dawla. Gerakan wakaf buku ke perpustakaan masjid yang dipelopori pemimpin itu juga diikuti oleh para ilmuwan dan intelektual.

Masjid Abu Hanifah di Irak pun memiliki koleksi buku yang melimpah. Buku-buku yang tersimpan di perpustakaan masjid itu merupakan hibah atau hadiah dari koleksi pribadi. Dengan menyimpan bukunya di perpustakaan masjid, buku-buku itu akan dirawat dan dibaca oleh lebih banyak orang. Sehingga, pengetahuan yang terkandung dalam buku itu bisa tersebar lebih luas.

Salah seorang tokoh yang menyumbangkan koleksinya ke Masjid Abu Hanifah adalah seorang dokter bernama Yahia Ibnu Jazla (wafat 1099 M) dan penulis sejarah Al-Zamakhshari (wafat 1143 M). Perpustakaan masjid lainnya yang juga mengoleksi banyak buku adalah Al-Qarawiyyin. Aktivitas perpustakaan dan keilmuwan di masjid yang terletak di Kota Fez, Maroko, itu telah melahirkan universitas pertama di dunia.

Sejarawan Al-Fasi pada 1548 M mengungkapkan, salah seorang ilmuwan yang menyumbangkan buku yang ditulisnya adalah Abu Abdullah Muhammad Al-Ajmawi. Ia menyumbangkan karya besarnya berjudul Al-Qawl Al-Mutabar kepada para siswa yang belajar di masjid itu. Ilmuwan legendaris, Ibnu Khaldun, juga mewakafkan bukunya yang berjudul Kitab Aal-Ibar ke perpustakaan masjid itu.

Buku yang berharga itu lalu dipinjamkan kepada orang tepercaya selama dua bulan, setelah itu dikembalikan lagi ke perpustakaan. Jadilah perpustakaan masjid menjadi tempat penyimpanan buku-buku yang langka dan tak ternilai harganya. Dengan koleksi buku yang melimpah, para pelajar, serta ilmuwan pun berbondong-bondong pergi ke masjid.

Mereka datang ke masjid dengan dua tujuan. Untuk beribadah, sekaligus meningkatkan pengetahuan dengan membaca buku. Bahkan, para ilmuwan dan sarjana Muslim sampai menetap di masjid. Syahdan, dua ulama dan ilmuwan Muslim terkemuka, Al-Ghazali dan Al-Baghdadi, sempat menetap beberapa periode di menara Masjid Umayyah di Damaskus.

Sedangkan, Ibnu Al-Haitham fisikawan penemu optik sempat tinggal di sebuah qubah Masjid Al-Azhar Kairo, Mesir. Menjelang meninggal, para ulama dan ilmuwan itu mewakafkan koleksi buku mereka ke masjid. Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, pada era kejayaan Islam, juga memiliki empat perpustakaan. Tempat tersuci ketiga umat Islam itu mengoleksi buku dalam jumlah yang sangat banyak. Buku itu tersimpan di Madrasah Nahawiya dan Ashrafyia yang berada di sekitar masjid.

Minggu, Mei 15, 2005

Apa yang Salah dari Anak-anak itu?

Apa yang salah pada anak-anak itu?

Mereka lahir sebagai Muslim, dibesarkan dengan pendidikan Islam, melewati masa kecilnya dengan hafalan ayat-ayat suci Al-Qur'an serta do'a-do'a shalat, dan mengisi masa belianya dengan mengaji di masjid-masjid, madrasah maupun pesantren. Mereka hafal beberapa hadist Nabi maupun bait-bait Barzanji. Tetapi ketika menginjak masa remaja, tak ada kebanggaan di dadanya untuk berkata, "Isyhadu bi anna mulimun! Saksikanlah bahwa aku seorang Muslim."
Apa yang salah pada anak-anak itu?

Mereka telah belajar tentang halal dan haram. Mereka juga belajar tentang makruh dan sunnah. Bahkan puasa-puasa sunnah mereka lakukan demi memperoleh ranking pertama di sekolah, atau untuk memperoleh beasiswa yang tak seberapa jumlahnya, atau bahkan sekedar untuk bisa mengerjakan ujian esok hari. Demi hal-hal yang sepele dan remeh-temeh mereka hadapi dengan puasa sunnah, qiyamul-lail dan dzikir-dzikir panjang. Tetapi ketika mereka mulai menginjak dewasa, apa pun dilakukan untuk memperoleh seperiuk nasi, termasuk dengan menjual agama. Atas nama kemerdekaan berpikir, mereka menadahkan tangan kepada lembaga-lembaga donor dengan proposal untuk mengubah ruh agama.

Apa yang salah pada anak-anak itu?

Ketika kecil mereka dibesarkan dengan tangis orangtua agar kelak menjadi orang yang berguna. Ketika mulai beranjak besar, airmata itu masih belum berhenti mengalir karena banyaknya biaya sekolah yang harus dipikir orangtua. Tetapi ketika mereka telah benar-benar besar, orangtua terkadang masih harus menangis karena anak-anak itu telah melupakan agamanya atau bahkan menodainya. Ada yang bahagia melihat betapa "hebat" anaknya, tetapi diam-diam menabung beratnya pertanggungjawaban di akhirat. Nau'dzubillahi min dzalik.

Teringatlah saya dengan firman Allah, "Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak-anaku hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah pahala yang besar." [Al-Anfaal:28]

Sebagai cobaan, anak-anak bisa membawa kita lebih dekat kepada Allah ta'ala. Amal kita dan anak-anak kita saling disusulkan, sehingga bisa bersama-sama di syurga, kelak setelah kiamat tiba. Tetapi kalau kita salah menata mereka, anak-anak itu bisa menjadi musuh orangtua; di dunia, di akhirat atau bahkan dunia dan sekaligus akhirat . Dan diantara penyebab kehancuran itu adalah niat kita yang salah tatkala mendidik mereka, atau pendidikan yang keliru saat mereka kita besarkan, atau kedua-duanya; niat dan perlakuan sama buruknya.

Kadang ada orangtua yang kurang bisa mendidik anaknya, tetapi karena niatnya yang jernih dan pengharapannya yang kuat, Allah memberi pertolongan. Anak-anak itu menjadi perhiasan orangtuanya, di dunia dan akhirat. Anak-anak itu membawa kebaikan yang besar, penuh dengan barakah, pada hari ia dilahirkan, dimatikan dan dibangkitakan kembali.
Tetapi....
Anak-anak itu bisa menjadi musuh orangtuanya. Kehadirannya menjadi sebab lahirnya keburukan, kerusakan dan kehancuran. Mereka penyebab orang-orang berpaling dari agamanya. Mereka membuat orang-orang yang beriman mengalami keraguan, dan orang-orang yang masih lemah keyakinannya semakin jauh dari Tuhannya. Mereka menjadi sebab kerusakan bukan karena tidak berpengetahuan. Bahkan boleh jadi mereka sangat luas pengetahuannya. Tetapi tidak ada iman dan muraqabah di hati mereka, kecuali sangat tipis.

"Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan/fitnah (bagimu). Di sisi Allahlah pahala yang besar." [At-Taghaabun: 14-15]

Ada perintah di sini. Perintah untuk berhati-hati terhadap mereka. Selebihnya, ada pelajaran yang patut kita renungkan dari peristiwa-peristiwa yang telah berlalu atau pun yang masih terpampang di hadapan kita.

Sesungguhnya tidak ada kebetulan di dunia. Ada hokum-hukum sejarah yang mengikatnya. Kitalah yang harus menemukan prinsip-prinsip itu.
Apa yang salah pada anak-anak itu?
Ada satu hal. Mereka mendapat pembelajaran 'ibadah, sehingga banyak surat-surat pendek yang dihafal saat usianya belum melewati lima tahun. Tetapi pembelajaran itu hanya untuk otaknya. Tidak untuk jiwa. Padahal pangkal perubahan adalah pada jiwa. Bukan otak yang cerdas. Orang yang tahu, tidak dengan sedirinya bertindak sesuai dengan pengetahuannya.

Seorang dokter spesialis penyakit dalam bisa meninggal karena terlalu banyak merokok. Sebabnya, bahaya rokok hanya tersimpan di otak. Tidak menggerakan jiwa. Karena begitu kecilnya pengaruh pengetahuan di otak bagi perubahan sikap dan perilaku, maka perusahaan (rokok: EHz) tidak pernah khawatir mencantumkan peringatan pemerintah tentang bahaya merokok disetiap kemasannya.

Sebaliknya, kalau hati sudah tersentuh dan jiwa sudah tergerakan, pengetahuan tentang resiko tak akan membuat kaki berhenti melangkah. Mereka yang pergi berjihad bukan tidak tahu kalau jiwa bisa melayang. Tetapi ketika keyakinan sudah kokoh, tak ada lagi yang perlu ditakutkan dengan kematian.

Ya, letaknya pada jiwa. Tetapi alangkah sering kita lupa pada jiwa. Letaknya pada iman. Tetapi alangkah sering kita mengabaikan. Letaknya pada 'aqidah yang menghidupkan hati. Tetapi alangkah sering kita hanya mengurusi otaknya. Padahal otak saja tidak cukup.

Diam-diam saya teringat dengan sebuah hadis riwayat Imam Ahmad. Ada contoh yang rasanya amat perlu kita renungkan hari ini, ketika anak-anak kita yang dulu sibuk menghafal matan Alfiyah, sekarang telah merusak agama atas nama ijtihad dan tajdid. Atau bahkan telah secara nyata menentang agama. Sekurang-kurangnya meragukan kesucian agama.

Ada contoh yang patut kita renungkan. Ketika Ibnu Abbas masih amat kecil, Rasulullah saw. mengajarkan beberapa kalimat yang membekas dalam jiwa. Kata Rasulullah, "Jagalah (hak) Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Peliharalah (hak) Allah, niscaya kamu akan mendapatkan-Nya di hadapanmu. Kenalilah Dia di saat kau bahagia, niscaya Dia akan mengenalimu di saat kau susah."

"Apabila kau meminta, mintalah kepada Allah. Sesungguhnya pena telah mongering, mencatat apa yang ada. Seandainya seluruh makhluk bermaksud menolongmu dengan sesuatu yang tidak ditetapkan leh Allah untukmu, niscaya mereka tidak akan sanggup melakukannya. Dan jika (manusia) bermaksud mencelakakanmu dengan sesuatu yang tidak ditetapkan Allah bahwa sesuatu itu akan mencelakakanmu, niscaya mereka tidak akan sanggup melakukannya." [HR. Ahmad]

Adnan Hasan Shalih Baharits menerangkan, nasihat Rasulullah saw. ini membangkitkan muraqabah pada diri anak semenjak dini. Anak memiliki kesadaran bahwa setiap langkahnya senantiasa mendapatkan pengawasan Allah. Ini merangsang anak untuk memiliki kendali perilaku yang berasal dari dalam dirinya (internal locus of control). Ia sekaligus membangkitkan komitmen dan tanggung-jawab, sehingga pikiran dan tindakan anak lebih terarah. Pada gilirannya, ini akan memperkuat dan mensucikan maksud dan tujuan sosialnya sehingga ia akan mudah berkorban.

John W Santrock, Pakar psikologi perkembangan yang terkenal dengan bukunya berjudul Adolescence (2001) menunjukan bahwa kebingungan indentitas hanyalah mitos. Ada remaja-remaja yang tidak perlu sibuk mencari jati-diri. Mereka telah mengenali dirinya, tujuan hidupnya dan makna hidupnya karena sedari kecil telah memiliki keyakinan, komitmen hidup serta persepsi tentang tanggungjawab (perceived responsibility) yang kuat. Inilah yang membuat hidup mereka lebih terarah, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh sebayanya.

Sepanjang sejarah, agama ini telah melahirkan manusia-manusia besar yang di usia amat belia telah menghasilkan catatan sejarah yang mengesankan. Imam Syafi'i telah didengar kata-katanya sebagai fatwa yang otoritatif ketika usia baru 16 tahun. Imam Ahmad bin Hanbal telah sibuk mempelajari ilmu hadis tatkala umurnya baru menginjak 15 tahun. Dan Usamah bin Zaid - seorang sahabat Nabi saw. - telah mendapat kepercayaan sebagai panglima perang, juga ketika usianya baru berkisar 16 tahun.

Barangkali ada benarnya kesimpulan Jean Jaques Rousseau. Kata Rousseau. "L'homme qui medite est un animal deprave'." Manusia yang hanya berpikir saja adalah binatang yang bercacat.

Menurut Rousseau, semua penyakit kemanusiaan timbul karena manusia hanya mempertajam akalnya dan mengesampingkan panggilan hati nuraninya. Artinya, hebatnya pengetahuan agama tanpa iman yang kokoh, justru bisa menjadi sebab rusaknya agama. Bal'am bin Baurah contohnya. Semoga ada yang bisa kita renungkan.

Sabtu, April 23, 2005

Perempuan Pekerja Persfektif Islam

Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia, maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. Jika merujuk kepada hadits Nabi, dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan sosial, maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebutlah misalnya, Asma bint Abu Bakr, isteri sahabat Zubair bin Awwam, bekerja bercocok tanam, yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim, juz II, halaman 1211, nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma, dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw, yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”.

Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja, selama ada jaminan keamanan dan keselamatan, karena bekerja adalah hak setiap orang. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih, dalam pandangan banyak ulama fikih, suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573).

Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah, suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795). Fikih membenarkan suami dan isteri, keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu.

Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan laki-laki. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. Bahkan dalam fikih, perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya, kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir.

Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang, akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. Akhirnya, berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan, tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja.

Rabu, Maret 16, 2005

Membesarkan Anak bagi Orangtua Sibuk

Membesarkan anak dengan baik memang tidak mudah bagi pasangan suami istri yang bekerja. Dengan sepuluh panduan berikut mudah-mudahan mereka dapat menjalankan tugas sebagai orang tua dan pasangan karier secara seimbang.

Lebih dari tiga puluh tahun terakhir, dengan pelbagai alasan sosioekonomi semakin banyak pasangan suami-istri yang harus bekerja. Kegiatan masing-masing anggota keluarga di luar juga meningkat, akibatnya waktu berkumpul antara anak dan orang tua atau saudara-saudara mereka semakin sedikit. Anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh atau malah bermain sendiri di rumah.

Kecenderungan ini, menurut Daniel Amen, M.D., direktur medis The Center For Effective Living, akan menimbulkan dampak sosial serius jika orang tua tidak memberikan kepemimpinan yang kuat kepada anak-anak mereka. Psikiater anak, remaja dan dewasa ini menyodorkan sepuluh panduan untuk membesarkan anak secara sehat dalam keluarga dengan kedua orang tua bekerja.

Waktu. Hubungan orang tua-anak yang baik memerlukan waktu yang memungkinkan mereka berkumpul secara fisik. Tidak perlu berjam-jam. Yang penting, orang tua secara konsisten meluangkan sedikit waktu bersama anak-anak hampir setiap hari. Ketika bersama mereka, jauhkan gangguan dan konsentrasikan perhatian kita kepada mereka. Waktu adalah tonggak penyangga pengasuhan yang baik.

Jadilah pendengar yang baik. Bila anak-anak mengetahui bahwa kita benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan, mereka akan lebih bersemangat untuk berbagi perasaan dan pikiran. Sebaliknya, kalau orang tua merendahkan gagasan anaknya atau "rajin" mengkritik kata-katanya, anak itu akan menarik diri dan memilih lebih dekat pada teman. Karenanya, jika ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, mari menjadi pendengar yang baik. Mereka akan menerima kita bila kita membantu mereka memecahkan masalah.

Tentukan harapan yang jelas. Memberitahukan anak apa yang kita harapkan darinya akan membentuk perilaku yang baik. Jangan ragu-ragu melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari dan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas di lingkungan rumah. Kebanyakan anak pasti akan mengeluh. Begitupun, kita harus berusaha agar mereka senang dilibatkan. Pada anak yang berperan serta dalam urusan rumah tangga, akan tumbuh etika kerja dan umumnya ia lebih merasa menjadi bagian dari keluarga.

Jangan membiarkan rasa bersalah. Banyak orang tua merasa bersalah karena bekerja seharian di luar rumah. Sebagai kompensasinya, mereka membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Orang tua yang baik adalah yang tegas. Merasa bersalah merupakan tindakan kontraproduktif.

Jangan menggantikan kasih sayang atau waktu dengan uang. Memang penting untuk mengajarkan anak-anak bagaimana mengelola uang, tetapi jangan gunakan uang sebagai pengganti waktu atau kasih sayang kita. Pesan materialistis di televisi mudah sekali merasuki anak dan membangkitkan keinginan mereka untuk membeli ini dan itu. Bagaimana kita dapat membentengi mereka dari pengaruh buruk ini? Kita buat mereka untuk selalu berusaha bila ingin memperoleh sesuatu. Sesuatu yang diperoleh melalui bekerja, akan lebih terasa nilainya.

Jangan terlalu sering gonta-ganti pengasuh. Satu dari kebutuhan psikologi yang penting pada anak adalah bahwa ia terasuh dengan baik dan penuh kasih secara terus-menerus. Oleh karena itu kita memerlukan pengasuh. Dengan menggunakan pengasuh kecemasan kita akan berkurang selama kita bekerja.

Namun sebelum menyerahkan anak pada seorang pengasuh, berikanlah kesempatan untuk terciptanya keakraban dan kedekatan antara anak dan si calon pengasuh. Sering gonta-ganti pengasuh dapat membahayakan anak. Untuk mencari orang yang tepat atau situasi yang baik bagi anak, kalau perlu, pergilah ke tempat yang jauh!

Kuncinya: pengawasan. Sering kali ketika ditinggalkan orang tua, anak terjerumus dalam masalah. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak bermasalah sering berasal dari keluarga yang kurang atau tidak diawasi. Anak-anak tidak begitu saja tahu sejak lahir, mana perilaku baik, mana yang buruk. Mereka perlu diajari dan kemudian diawasi.

Karenanya, sangatlah penting bagi orang tua untuk mengetahui di mana anaknya, sedang bersama siapa, dan sedang ngapain. Memang, anak sering mengeluh kalau ia diawasi ketat, tetapi anak-anak yang tidak diawasi juga sering merasa bahwa orang tua mereka tidak peduli dengan mereka!

Beri perhatian lebih saat ia baik. Ini bagian paling berat sebagai orang tua. Kita cenderung lebih memperhatikan anak-anak ketika mereka menjengkelkan. Sebaliknya, jauh lebih sulit untuk memperhatikan perilaku baik mereka. Namun, jika ingin anak berperilaku baik, berilah perhatian pada hal-hal yang kita sukai dari mereka. Kalau anak merasa diabaikan, secara bawah sadar ia akan berperilaku salah untuk menarik perhatian kita. Memperhatikan mereka sewaktu mereka baik, memang memerlukan usaha.
Hukuman itu untuk mendidik. Orang tua yang bekerja di luar rumah, cenderung mengalami kelelahan dan mudah jengkel. Maka mereka lebih mudah kehilangan kontrol terhadap anak-anak. Ini dapat menimbulkan masalah. Jangan pernah menghukum anak ketika kita sendiri tidak dapat mengontrol diri. Gunakan hukuman untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan kemarahan. Berikan teladan dalam relasi. Anak belajar berelasi dari orang tua mereka. Mereka juga merasa paling aman jika melihat orang tua saling memperlakukan pasangannya dengan baik. Maka hal terbaik yang dapat dilakukan bagi anak-anak kita adalah mencintai pasangan kita.

Minggu, Maret 13, 2005

Ketika Mbah Tardi Pergi

Mbah Tardi adalah seorang kakek berusia 65 tahun yang tinggal dekat dengan rumahku. Namun, banyak orang yang mengira, apalagi bagi yang baru melihatnya- kalau usia beliau belum setua itu. Tubuhnya masih kelihatan gagah, jalannya pun masih lincah, beda dengan kawan sepermainannya yang kini sakit-sakitan.

Sebagai seorang Mbah, beliau tentu punya banyak cucu. Karena putra-putri mbah Tardi tersebar di kota Jakarta dan Bandung, maka tak elak lagi ketika kangen dengan cucu-cucunya harus bertandang kesana atau menunggu masa liburan datang agar si mbah dikunjungi. Mbah Tardi itu sosok mbah Kakung (kakek) yang paling disenangi anak-anak kecil dikampung kami. Sejak istrinya, mbah Putri (nenek) meninggal, beliau lebih suka bermain dengan anak-anak kecil yang sudah beliau anggap sebagai cucu sendiri.

Mbah Tardi juga perokok. karena berjiwa muda, rokoknya pun tak mau kalah dengan rokok anak muda. Biasanya si Mbah-mbah di desa kami -dan dimanapun- lebih suka rokok lintingan (rokok kaum, tembakau dan pembungkus dipisah), tapi tidak dengan Mbah Tardi. Beliau suka rokok Dj.... (dilarang iklan!). Bukan main cool-nya nih mbah.

Liburan semester kemarin, si Mbah menanti-nanti kedatangan cucu-cucu tercinta. Namun, penantiannya pupus ketika hari libur sudah habis masanya. Mbah kemudian berniat ke Bandung dan Jakarta. Dia bicara kepada adiknya, Mbah Kono, kalau dia punya firasat tak mengenakkan karena cucunya tak datang.

Diberilah Mbah sangu (ongkos) Rp. 500.000,00 untuk perjalanan ke kota Bandung dan Jakarta. Tiba saat kepergiannya, keluarga Mbah Kono ikut mengantar sampai terminal Giwangan, Jogjakarta. "Mbah, niki tiketipun, mangke kula antar dugi bisipun. Lenggah rumiyin mbah (mbah, ini tiketnya, nanti saya antar sampe bis. Duduk aja dulu).." pesan calo yang beruntung mendapat korban mbah.

Calo tiket bus di Jogjakarta memang masih termasuk calo yang baik, karena tidak mengambil untung berlebih. Rata-rata mereka cuma menambahkan Rp. 10.000 - 20.000. Tukang panggul barang di sini juga masih termasuk sopan, karena tidak menarik barang kecuali jika sudah mendapat izin dari pemiliknya. Kembali ke kisah si Mbah yuk...

Lima menit menjelang keberangkatan, Mbah Kono menitip pesan terakhir (bukan surat wasiat) berupa nomer telpon anak-anaknya yang ada di Bandung dan Jakarta "Mas, niki nomer telpon putro njenengan, mangke dugi mriko langsung nyuwun tulung dipun telponaken nomer niki, ben di pethuk (mas, ini nomer telepon anakmu, nanti pas sampe sana langsung minta tolong orang untuk menelponkan nomer ini, biar dijemput).."pesannya cemas. "Ah, kowe iki koyo ra tau ngerti nek aku lungo adoh wae. Aku wis ngerti coro-corone (Ah, kamu ini kayak ga pernah tau kalo aku pergi jauh aja. Aku dah tau cara-caranya..)" potong Mbah Tardi.

Berjam-jam perjalanan, selama di bis Mbah Tardi tak pernah lelah memandang suasana jalan dari kaca jendela bus. Waktu-demi waktu berlalu, malam pun datang mengusir sang mentari. Seluruh penumpang bus Setya Mulya sudah nampak menikmati perjalanan (baca : tidur lelap). Si Mbah masih tetap pada posisinya, tapi kali ini kakinya diangkat, sehingga duduk bersila diatas jok sambil menghisap beberapa batang rokok Dj.... yang telah disiapkan.Akhirnya mbah lelah juga. Tidurlah beliau.

"Persiapan... kita akan berhenti sebentar untuk istirahat makan." seru Kondektur bis diulang-ulang. Mbah ikut terbangun. Kebetulan juga laper, tapi ada yang lebih penting dari laper, yaitu buang hajat. Mbah berfikir untuk yang mana yang dilakukan terlebih dahulu, makan atau ke WC. Mbah turun, memilih makanan, menikmatinya sambil menebarkan pandangan ke seisi warung besar itu. Setelah kenyang dan membayar, mbah langsung menjalankan misi ke-2, masuk WC.

15 Menit kemudian Mbah keluar sambil menata diri agar terlihat rapi. Setelah itu beliau langsung menaiki bus. Si Mbah sempat heran, karena bus yang ditumpanginya kini lebih adem, bangkunya juga lebih empuk, bangkunya juga 2-2. Tapi emang dasar si Mbah, beliau nikmatin aja dengan gayanya. "Mungkin bangkunya bisa dicopot di rumah makan tadi..." pikirnya ringan.

Selama perjalanan, si Mbah sempat kaget, karena kini didepannya ada TV yang memutar film india. "wah... enek TV-ne to saiki?.. (wah, ada tv-nya ya sekarang?).." bisiknya lirih. Kebetulan film india adalah salah satu acara tv favorit selain infotainment. Aneh kan si Mbah yang satu ini?

45 Menit sudah film ditayangkan. Selesai. TV mati kembali. Suasana hening kembali, penumpang kembali tamasya ke alam mimpi. Merasakan kesepian yang begitu mendalam dan untuk mengusir rasa kantuk, akhirnya Mbah kembali merogoh sakunya. Beliau merokok. Pluss... pluss... pluss... Beberapa penumpang sekitarnya batuk kecil dan menutup hidung.

Sesosok tubuh kutilang (kurus tinggi langsing) tampak menuju ke arahnya. Dia kondektur. "Mbah, maaf ya, ini bis AC, gak boleh merokok.." pesannya. "Pripun mas..? (Gimana mas?)" tanya balik si Mbah. Kondektur mengerti kalau Mbah tidak mengerti bahasa Indonesia, ia pun kembali kedepan, memanggil seorang kondektur lagi yang bisa bahasa Jawa. "Mbah, nyuwun panga punten, niki bus AC, mbotten angsal ngerokok.. (Mbah, maaf, ini bis AC, gak boleh merokok)" ajak kondektur 2. "Lah, kolowawu kulo ngerokok terus koq boten dipun larang (lah, tadi saya merokok terus ko ga ada yang larang).." jawab Mbah. "Cobi nyuwun tiketipun Mbah.. (Coba minta tiketnya mbah)"

"Wah... mbah salah numpak bus, niki bus eksekutif, kolowawu mbah numpak bus ekonomi..(Wah, mbah salah naik bis, ini bis eksekutif, tadi mbah naik bis ekonomi).." kejut kondektur jadi pusat perhatian penumpang lain. "Lah, pripun niki mas... warnane podo je.. (Lah, gimana ini mas, warnanya sama sih!!)" si Mbah makin heran.

Akhirnya supir bus eksekutif tersebut berinisiatif untuk mengejar Setya Mulia Ekonomi. Ketemu. Kedua bis berhenti karena saling memberi kode lampu. Tanya-tanya beberapa detik. Kemudian si Mbah diajak keluar beserta tas ranselnya. "Niki loh mbah bus njenengan.." kata kondektur 2. mau tak mau si Mbah harus ikhlas dipindahkan. Begitu legowonya si Mbah.

Kembali mbah duduk di bangku yang panas, asap rokok yang mengepul sana-sini, dan tanpa TV. Yah... udah enak naik bis yang tadi malah balik lagi. Kasian deh Mbah...