Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Anak. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 28, 2008

Mainan Baru untuk Anak Kita

Waspadalah pada mainan anak-anak! Mungkin kalimat ini yang pantas untuk disampaikan kepada orang tua. Kemarin (27 Oktober 2008), stasiun TV swasta Trans 7 memberitakan bahwa ada mainan anak-anak yang berbahaya bagi mereka. Pasalnya mainan anak-anak tersebut berasal dari limbah rumah sakit. Diantaranya botol infus yang telah dipakai, selang infus, kantong darah, pipet suntikan dan lain sebagainya. Yang namanya bekas terpakai, pastilah dihinggapi oleh berbagai macam penyakit atau kuman. Dalam wawancara yang ditayangkan TV 7 pada saat itu, seorang dokter menjelaskan bahwa limbah rumah sakit itu dihinggapi oleh ratusan kuman.
Bagaimana jadinya, bila salah satu limbah rumah sakit itu dijadikan mainan? Salah satunya adalah pipet suntikan. Pipet suntikan ini dijadikan mainan anak-anak sejenis pistol air.
Hal ini dapat ditemukan di salah satu rumah sakit di Cirebon, begitu yang dilaporkan stasiun TV swasta itu. Limbah rumah sakit seperti botol infus, selang infus, kantong darah dan pipet suntikan dibuang pihak rumah sakit bercampur dengan sampah-sampah pada lazimnya.
Kemudian limbah-limbah rumah sakit itu dipungut oleh para pemulung dan disetor kepada bos pemulung. Limbah-limbah rumah sakit itu banyak dicari oleh para penjual mainan anak-anak. Pada umumnya para penjual mainan anak memburu pipet suntikan. Sesampai di rumahnya, mereka mencuci pipet suntikan itu dengan air sabun, dibilas dengan air bersih dan selanjutnya dibungkus dengan kantung plastik serta siap dijual kepada anak-anak. Sasaran pistol air ini adalah anak-anak TK dan SD. Dengan lugunya, anak-anak itu bermain pistol-pistolan air yang terbuat dari pipet suntikan tanpa rasa khawatir sedikitpun.
Limbah-limbah rumah sakit –seperti pipet suntikan itu- seharusnya dilenyapkan/dibakar dan diperlakukan beda dengan sampah-sampah biasa.
Arya Nur Amarsyah

Selasa, Desember 18, 2007

Pentingnya Bercerita untuk Anak

Kapan terakhir kali anda bercerita pada anak anda? Ada yang belum pernah sama sekali? Anda yang belum memiliki anakpun juga bisa mencoba mengingat-ingat kembali: kapan (atau pada umur berapa) terakhir kali anda didongengi oleh orangtua anda? Kalau anda mempunyai pengalaman mendongengi anak atau didongengi orangtua, maka selamat buat anda. Kalaupun anda tidak mempunyai pengalaman, anda juga tidak sendirian. Masih banyak orangtua yang belum menyadari pentingnya bercerita bagi anak mereka, dan hal ini patut disayangkan.

Kondisi sosio-kultur yang semakin sibuk dan ramai bisa dibilang turut memperparah gejala ini. Orangtua, dan tak jarang keduanya (ayah dan ibu), bekerja lebih keras dan lebih lama di luar rumah, sehingga mereka sudah kehabisan tenaga (kecuali untuk memencet remote control TV) untuk menghabiskan waktu bersama anaknya. Banyaknya pilihan media juga cenderung membuat orangtua membiarkan anaknya ’didongengi’ oleh film, acara TV, musik, buku, komik, internet, dan game yang belum tentu sesuai perkembangan usia mereka dan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orangtua kepada anaknya. Padahal bercerita mempunyai dampak yang lebih buat anak dibandingkan dengan media-media yang lebih modern.

Yang pertama-tama harus diingat adalah bahwa bercerita (storytelling) tidak sama dengan membacakan cerita (reading). Bagus Takwin dalam bukunya, Psikologi Naratif: Membaca Manusia sebagai Kisah (2007), memaparkan pendapat para tokoh-tokoh antropolog dan folklore mengenai keunikan aktivitas bercerita.

Pada intinya, bercerita lebih dari sekedar membacakan cerita; dalam bercerita, kita juga menghidupkan kembali kisah (entah itu tulisan atau lisan) dengan menggunakan beragam keterampilan dan alat bantu. Dasar-dasar ilmu peran, seperti pengubahan suara, ekspresi wajah, gerak tubuh, menjadi sangat penting dalam proses bercerita. Pencerita juga melibatkan sebanyak mungkin Meskipun tidak menjadi kewajiban, penggunaan media bantu, seperti gambar sederhana, musik pengiring, atau model (misalnya boneka atau rumah-rumahan) dapat membantu menghidupkan kisah yang kita sampaikan dalam benak pendengarnya.

Namun yang paling membedakan bercerita dari membacakan cerita adalah dimungkinkannya interaksi antara pencerita dan pendengar dari awal hingga akhir aktivitas bercerita. Dalam hubungan orangtua-anak misalnya, anak bisa mengusulkan atau memilih cerita tertentu yang ingin ia dengarkan pada saat itu. Ketika aktivitas bercerita tengah berlangsung, anak juga dapat memberi masukan kepada pencerita, bisa dari dari segi teknis (cara bercerita) atau dari isi cerita itu sendiri. Setelah cerita selesai, interaksi tetap bisa dipertahankan, misalnya dengan memandu anak untuk mengambil hikmah dari cerita tersebut.

Jika keterampilan, alat bantu, dan interaksi yang telah disebut di atas digunakan dengan baik, banyak manfaat yang bisa diperoleh anak (dan juga orangtua sebagai pencerita) dari aktivitas bercerita. Berikut adalah manfaat-manfaat yang bisa diperoleh tersebut (Takwin, 2007):

· Berbagi dan menciptakan pengalaman bersama dengan bantuan cerita dapat mengembangkan kemampuan anak menafsirkan peristiwa yang ada di luar pengalaman langsungnya. Melalui cerita-cerita yang disampaikan, pemahaman anak tentang dunia dapat diperluas dalam atmosfer yang penuh cinta dengan cara yang aman. Anak tidak perlu mengalami sendiri kejadian-kejadian berbahaya untuk memahami adanya bahaya. Anak tidak perlu mengalami penderitaan untuk memahami adanya penderitaan. Anak dapat memahami apa itu kebahagiaan dan bagaimana mencapainya, lalu memproyeksikan pemahamannya itu ke masa depan dan bergerak mencapainya di kemudian hari.

· Penceritaan memperkenalkan pola bahasa lisan kepada anak. Anak butuh pengalaman yang luas mengenai bahasa agar bisa belajar membaca dan menjadi pembaca yang unggul.

· Penceritaan mengembangkan kemampuan menyimak dan mendengar aktif pada diri anak.

· Penceritaan mengembangkan sikap positif anak terhadap buku dan membaca. Bercerita merupakan alat yang prima untuk memperkenalkan anak dengan dunia bacaan yang menakjubkan. Untuk tujuan ini, pencerita memegang dan membaca buku ketika bercerita agar anak memiliki asosiasi positif antara buku dengan kesenangan yang ia dapat dari mendengarkan cerita. Pencerita pun menjelaskan buku apa yang dibacanya sebagai sumber cerita yang disampaikannya.

· Penceritaan menyumbang kepada perkembangan sosial dan kognitif melalui pengalaman yang dibagikan lewat cerita serta ikut serta menghayati kebahagiaan atau kesedihan, keberuntungan, atau kemalangan orang lain. Melalui penceritaan, anak-anak dapat belajar empati, dalam arti menempatkan diri pada posisi orang lain, mengembangkan kepedulian, serta memahami keterkaitannya dengan orang lain dalam dunia bersama.

· Penceritaan menyumbang kepada kesehatan mental anak serta menolong anak belajar mengatasi persoalan-persoalan yang dihadapinya. Dengan bercerita, pencerita dapat membantu anak mengembangkan kemampuan pengelolaan dirinya melalui pemberian struktur bagi khayalan dan fantasinya.

· Penceritaan membantu anak untuk mengembangkan sebuah sistem nilai etis.

· Kegiatan bercerita memperkenalkan anak dengan kisah-kisah klasik yang teruji kualitasnya dan umum dikenal orang karena hal-hal baik yang dikandungnya.

· Penceritaan membantu anak menambah perbendaharaan kata.

· Cerita menghibur dan menyenangkan anak.

· Penceritaan memperkaya anak di pelbagai ranah kurikulum, seperti bahasa, sejarah, budi pekerti, ilmu pengetahuan alam, dan ilmu pengetahuan sosial. Bahkan dewasa ini bercerita sering dijadikan media untuk belajar matematika.

· Cerita membantu anak untuk dapat menghargai kekayaan budayanya serta kekayaan budaya bangsa lain.

· Penceritaan memfasilitasi anak untuk mendapatkan hikmah dari cerita yang dapat ia perbandingkan dengan pengalamannya sehari-hari.

· Penceritaan melenturkan pikiran anak dan membantu anak belajar memahami hal-hal dari beragam sudut pandang; meningkatkan kompleksitas pikiran anak. Cerita memfasilitasi imajinasi dan fantasi dalam rangka pengembangan kreativitas.

Senin, Agustus 20, 2007

Training Shoum Buat Anak

Anak di training untuk shoum (puasa)? Bukankah bermain itu dunia anak–anak? Dan sudah pasti mereka menyukainya. Bagi kita orang tua,walaupun kelihatannya sepele hal ini tidaklah mudah.

Bagaimana menyampaikan apa yang kita tahu tentang puasa itu dengan cara yang menyenangkan kalau bisa melalui bermain. Ini melalui persiapan dan ketekunan. Apa saja yang perlu dilakukan?

1.PERSIAPAN
a. Persiapan Ruhiyah dan akal.
Anak yang akan dilatih perlu dipersiapakan dulu mental/ruhiyahnya dan akalnya.Semua keharusan dan larangan dalam berpuasa dijelaskan dan disajikan dalam bentuk cerita,demikian juga faedah dan ganjaran yang akan diperoleh. Dalam menyampaikan pesan-pesan tersebut gunakan kalimat yang positif, ringkas dan jelas serta menggunakan contoh yang kongkret. Misalnya “kAlau kita puasa ,kita makan paginya lebih cepat, makan siangnya ditahan dan makan malamnya pas waktu maghrib tiba. Jangan dikatakan bahwa kalau puasa itu kita tidak makan sepanjang hari,dari pagi sampai sore.

Begitu juga saat menjelaskan manfaat puasa bagi kesehatan,yaitu dengan mengumpamakan perut kita sebagai mobil yang jalan terus tanpa pernah diservis. Tentu mobil itu akan rusak. Nah sekarang perut kita perlu istirahat waktu siang saja, supaya tidak mudah rusak. Kan perut kerjanya juga seperti mesin mobil dstnya. Pahala Ramadhan juga diceritakan dengan mengambil kisah-kisah nabi dan apa yang dialami Rosulullah. Cerita ini bisa didapatkan di toko-toko buku. Dalam persiapan mental ini agar anak dibawa berkunjung ke rumah kakek nenek atau famili, teman tetangga untuk saling bermaafan sebelum menjalankan puasa. Ajarkan niat berpuasa. Kita harus menyampaikan yang sebenarnya, bahwa berpuasa itu dimulai sejak matahari terbit sampai matahari tenggelam. Bukan kalau umurnya sekian bisa sepertiga hari kalau sedikit lebih besar bisa setengah hari. Tetapi kalau anak tidak kuat mereka bisa berbuka.

b. Persiapan fisik
Pastikan anak dalam kondisi kesehatan yang prima sebelum Ramadhan mulai. Jika perlu lakukan pemeriksaan kesehatan. Libatkan anak baik untuk membersihkan rumah maupun menghiasnya. Hiasan yang dibuat sebaiknya ditentukan oleh anak sendiri. Latih anak dengan lagu-lagu yang gembira atau nasyid mengenai Ramadhan.
2. PELAKSANAAN
-Jadikan rumah bernuansa shoum dengan tidak meletakkan makanan di tempat yang terbuka.
-Tidak ada yang makan di depan anak yang berpuasa, termasuk menyuapi adik kecil di depan mereka.
-Berusaha menjauhkan anak dari teman-temannya yang tidak berpuasa.
-Memberitahukan guru bahwa anak berpuasa, sehingga di sekolahpun anak mendapat dorongan.
-Bila anak merengek lapar, besarkan hatinya. Buatlah mainan seperti yang disebut dalam hadits tadi, bacakan cerita atau mengerjakan pekerjakan pekerjaan yang tidak banyak mengeluarkan energi.
-Usahakan agar siang hari anak tidur siang dahului dengan membacacerita atau bermain ditempat tidur.
-Siapkan menu berbuka dan sahur yang sesuai dengan kesukaannya.
-Patokannya : cukup gizi, halal dan baik,aman bagi kesehatan (tidakterlalu dingin, panas, pedas atau asam.
-Libatkan anak untuk menyiapkan bukaan. Siapkan makanan yang? manis-manis(3 butir korma=2.000 kalori).
-Buatlah jadwal imsakiyah yang menarik dengan gambar warna-warni. Gambar ini kalau bisa berfungsi untuk menghitung berapa hari anak sudah berpuasa.
-Siapkan hadiah setiap hari untuk anak, walaupun itu bentuknya pujian, dekapan dan ciuman, makanan buka puasa, membacakan buku cerita, main congklak bersama, stiker kecil atau hal-hal lain sesuai dengan keadaan dan kreatifitas orang tua.
-Hindari suasana membangunkan yang tergesa-gesa dan tegang. Siapkan dulu makanan dan minuman yang disukai dan bangunkan anak dengan menyebutkan nama makanan tersebut. Untuk anak yang lebih besar tanyakan bagaimana cara yang dia inginkan untuk dibangunkan sahur. Dan ikuti kesepakatan tersebut.
-Variasikan makan waktu sahur, bisa roti, kentang atau mie. Perhatikan minum anak, karena mereka tidak boleh kekurangan cairan . Minuman tidak harus air, kalau ada rezeki bisa susu atau jus buah. Selama berlatih tetaplah peka akan kondisi anak, janagan sampai? anak terlalu lemah atau mengalami dehidrasi. Kaidah melatih anak untuk shoum.

Dalam menjalankan pelatihan ini ada beberapa hal yang sangat perlu kita perhatikan:
1. Kegiatan ini harus dipahami sebagai kegiatan pelatihan, pengkondisian dan penyiapan anak agar akrab denagn aktifitas ibadah bukan hal yang final. Ini adalah proses pendidikan jadi bukan hasil yang kita harapkan Oleh karena itu kebijaksanaan yang diterapkan harus tetap fleksibel bergantung pada keadaan anak, umur,fisik dan mentalnya.

2. Anak-anak masih dalam proses tumbuh kembang, supaya diperhatikan agar proses pelatihan shoum ini tidak mengabaikan kenyataan ini. Artinya anak balita yang shoum harus diperhatikan kebutuhan gizi dan tidurnya selama platihan berlangsung. Karena jika tidak., pelatihan ini akan berubah menjadi penganiayaan anak.

3. Pendidik harus istiqomah niat dan tekadnya karenba Allah azza wa jalla bukan supaya tidak malu jika ditanya teman atau untuk meningkatkan status sosial di masyarakat. Ingatlah pahala yang dijanjikan karena pada hakekatnya keberhasilan pelatihan ini bukan melulu prestasi anak namun lebih menunjukkan pada prestasi orang tua karean merekalah yang banyak berperan baik sebagai promotor maupun sebgai supervision.

4. Ada banyak dampak psikologis yang harus dimengerti orang tua:
a. Anak biasanya akan menjadi sedikit rewel karena puasa menimbulkan ketidakseimbangan fisik dan mental biasanya sekitar jam 10.00 pagi, selepas dzuhur,ketika ashar dan menjelang berbuka. Perhatikanlah jam-jam rewel anak dan siapkan diri.
b. Puasa melatih anak untuk bisa mengendalikan dorongan dalam dirinyasehingga bisa menahan pemuasan segera (melatih kecerdasan emosi)
c. Puasa menumbuhkan kemampuan anak untuk merasakan kesulitan oranglain dan memupuk rasa santun pada orang-orang yang kurang beruntung.
d. Membantu anak memiliki akhlaq mulia terutama jujur. Allah swt melihat dan tahu apakah anak puas atau tidak.
e. Meningkatkan penghayatan dan pengamalan agama kareana suasana dan semua orang Islam di seluruh dunia melakukannya.
f. Pelatihan puasa membuat anak menjadi lebih dekat dan akrab dengan orang tuanya. 5. Saat pelatihan shum sebaiknya orang tua mengurangi kegiatannya dan jika bekerja di kantor usahakan segera pulang bila jam kantor telah selesai.

Rabu, Agustus 01, 2007

Melatih Anak Puasa, Why Not?

Tanpa dirasa, sebentar lagi Ramadhan tiba. Bulan yang penuh rahmah dan berkah. Bulan yang penuh dengan pengampunan dan pembebasan dri api neraka. Buat kita orang tua, yang telah berpuluh kali menjalani puasa tentu sudah tahu apa tujuan, makna dan faedah puasa, tapi bagaimana dengan anak-anak kita?

Apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita tentunya mendorong kita untuk semakin memperhatikan pendidikan anak-anak kita agar mereka bisa menjadi anak-anak yang sholeh dan solihah . Anak-anak yang ketika dewasa nanti bisa menjadi muslim yang baik, anak yang taqwa dan selalu mendahulukan Allah, ketika kita harus pergi menghadap Allah, dia bisa menyembahyangkan dan selalu mendoakan kita pula, ketika kita menjadi penghuni alam barzah.

Untuk itu marilah kita manfaatkan semaksimal mungkin kesempatan emas dengan datangnya Ramadhan yang mulia ini untuk memberikan latihan-latihan ruhiyah bagi anak-anak kita, dengan mempersiapkan dan melatih mereka menjalankan ibadah puasa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Kapan anak sudah bisa kita latih berpuasa? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita simak sebuah hadits ketika seseorang bertanya kepada Rosulullah tentang : Kapan seorang anak dilatih untuk shalat? Rosulullah menjawab: “ Jika ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kirinya.” Kalau kita memperhatikan hadits di atas, menurut bapak ibu usia berapa anak kita bisa membedakan tangan kanan dan tangan kirinya? Tentu sekitar 2 sampai 3 tahun bukan?. Pada hadits yang lain Rosulullah saw bersabda : “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat pada usia 7 tahun dan pukulah ia pada usia 10 tahun (jika meninggalkannya )” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani ra).

Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam mengatakan bahwa perintah mengajar shalat ini dpat disamakan untuk ibadah lainnya seperti shoum dan haji bila telah mampu. Mengikuti kedua hadits dan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa seperti halnya shalat maka puasapun sudah dapat diperkenalkan pada anak sejak mereka berusia dua atau tiga tahun, yaitu ketika mereka sudah tahu membedakan tangan kanan dan tangan kirinya. Kalau memang sudah demikian kata Rosulullah tentu tidak ada alasan buat kita membantahnya.

Bagaimana dasar ilmiyah dan psikologisnya melatih anak anak sejak dini?
1. Hasil temuan tentang otak yang dipublikasikan bulan Oktober tahun 1997 di Amerika menunjukkan bahwa pada saat lahir Alllah iu membekali manusia dengan 1 milyar sel-sel otak yang belum terhubungkan satu dengan yang lainnya. Sel-sel ini akan saling berhubungan bila anak mendapat perlakuan yang penuh kasih sayang, perhatian, belaian bahkan bau keringat orang tuanya. Hubungnan sel-sel tersebut mencapai trilliun begitu anak berusia 3 tahun.
Dari usia 3 sampai 11 tahun terjadi apa yang disebut proses restrukturisasi atau pembentukan kembali sambungan-sambungan tersebut. Hal-hal yang tidak ulang-ulang akan menjadi lapuk dan gugur. Bila temuan ini kita hubungkan dengan hadits di atas, maha benar Rosulullah bahwa kita perlu memperkenalkan berbagai hal kepada anak kita termasuk di dalamnya masalah beribadah sedini mungkin dan mengulang-ulangnya selama 7 tahun, sehingga pada usia 10 tahun anak kita bukan saja sudah mampu melakukannya dengan baik tapi juga insya Allah telah memahami makna pentingnya ibadah tersebut sehingga ia rela menerima sanksi bila ia tidak menunaikan ibadah tersebut dengan baik.

2. Kita mengetahui bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah, sehingga mudah dibentuk sesuaidengan apa yang diinginkan orang tuanya.

3. Pada usia muda, anak menerima nilai dan kebiasan yang kita tanamkan dengan mempercayainya tanpa argumen . Usia 0-3 tahun ego anak belum begitu berkembang sehingga dia tidak seperti anak yang lebih besar yang egonya sudah mengalami perkembangan lebih baik, sehingga gampang protes.

4. Masa anak-anak adalah masa yang sangat menentukan bagi pembentukan kepribadiannya kelak. Hal-hal yang baik maupun buruk yang terjadi dimasa balita mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupannya kelak.

5. Memanfaatkan daya ingat anak yang kuat semasa kecil seperti pepatah Arab : Belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir di atas air.

6. Sebelum usia 5 tahun tokoh identifikasi anak adalah orang tua. Bila dia bertambah besar dan lingkungan pergaulannya sudah melebar dari hanya rumah maka anak juga mulai mengidentifikasi orang-orang lain di sekitarnya.

7. Mendidik anak tidak sama dengan mengajar. Mendidik anak adalah membantu anak mencapai kedewasaan baik dari segi akal, ruhiyah dan fisik.Jadi apa yang kita lakukan adalah membantu anak untuk kenal dan tahu sesuatu, kemudian dia mau dan bisa kemudian menjadi biasa dan terampil mengamalkannya. Hal ini bukan saja membutuhkan waktu yang lama tetapi juga kemauan yang kuat, kasabaran, keuletan dan semakin awal memulainya semakin baik.

Kamis, Maret 15, 2007

Agar Anak Tidak Maniak TV

Dalam era informasi saat ini rasanya tak ada satu keluarga pun yang tidak memerlukan pesawat TV. Dengan si kotak ajaib ini kita bisa menikmati siaran TV, tayangan dari VCD, play station, nintendo, dan lain sebagainya.

Celakanya, semua itu merebut sebagian besar waktu dan perhatian kita terutama anak-anak. Melarang mereka menonton atau menikmati berbagai bentuk hiburan seperti diatas jelas tak mungkin. Yang diperlukan justru pengaturan yang tepat agar anak-anak kita tidak menjadi maniak nonton berbagai bentuk tayangan TV. Berikut beberapa kiat yang bisa digunakan:

- Untuk satu keluarga cukup sediakan satu pesawat TV. Hindari satu kamar satu pesawat TV, karena hal ini menyulitkan pemantauannya. Dengan cuma ada satu pesawat TV, kita bisa menjadikannya sebagai media berkumpul.

- Matikan pesawat TV pada jam-jam tertentu. Misalnya, Pukul 19.00 - 21.00, yang merupakan jam-jam belajar. Ini memerlukan kesepakatan dengan anak-anak. Sebaliknya, kita juga perlu membuat kesepakatan untuk menonton acara-acara TV atau tayangan VCD pada jam-jam tertentu sebagai media untuk berkumpul dan bisa dinikmati bersama.

- Buat acara tandingan. Bila anak sudah tergila-gila program acara TV tertentu, buat acara keluarga yang lebih menarik pada waktu yang sama. Misalnya, makan di luar rumah atau jalan-jalan.

- Dampingi anak ketika menyewa atau membeli VCD atau piringan game. Ini dimaksudkan agar anak tidak memilih materi yang tidak cocok dengan usianya atau tidak mendidik. Ketika dia bermain pun sebaiknya kita dampingi dan ajak mereka berdiskusi, memberi apresiasi, dan kritik. Beri pula pengertian bahwa adegan yang ditontonnya cuma hasil rekayasa.

- Dorong mereka ikut kegiatan lain di sore hari. Misalnya, kegiatan kesenian, olahraga atau bentuk permainan yang mendidik lainnya.

- Ciptakan kondisi agar anak suka membaca. Caranya dengan menyediakan bacaan sesuai tingkat usia mereka di rumah.
- Libatkan mereka dalam kegiatan rumah. Misalnya, berkebun, membersihkan rumah, atau merawat hewan piaraan.

Kamis, Maret 01, 2007

Memilih Media untuk Anak Kita

Kata-kata kasar, perkelahian, dan berbagai kekerasan lainnya sudah menjadi pemandangan yang biasa di televisi. Bahkan acara anak pun tidak bersih dari adegan-adegan semacam itu. Apa akibatnya?
Beberapa tahun yang lalu, Inggris gempar dengan tewasnya seorang balita akibat penganiayaan yang dilakukan 3 anak berusia 7-8 tahun. Alasan ketiga anak tersebut sangat sederhana, mereka ingin mencoba adegan yang telah mereka saksikan di televisi. Lalu benarkah pendapat bahwa menonton kekerasan di televisi merupakan jalan keluar bagi dorongan agresif yang terpendam ?
Bukan sahabat yang baik orangtua boleh tidak suka, tapi kenyataannya sebagian besar anak banyak menonton televisi. Bahkan sebagian dari mereka lebih banyak menghabiskan waktu di depan televisi daripada di sekolah!

Sudah banyak ahli pendidikan yang bersuara mengenai minimnya tayangan yang layak dikonsumsi anak, tapi tampaknya hal itu belum menjadi perhatian utama insan pertelevisian. Semakin banyaknya acara anak ternyata tidak didukung dengan kelayakan, dalam artian menghibur sekaligus mendidik.
Beberapa acara yang baik seperti animasi impor Blue's Clues atau acara dalam negeri Tatitu memang mengajarkan anak untuk berpikir logis. Tapi kebanyakan acara justru mengajarkan kekerasan dan nilai-nilai kehidupan yang murahan. Salah satu sinetron anak-anak yang ditayangkan pada hari Minggu misalnya, hanya karena ingin mengganti pemain, dimuatlah adegan penyiraman air keras ke muka pemeran utama. Lebih mengerikan lagi, pelakunya sama sekali bebas dari hukuman.

Lalu bagaimana siaran berita yang dulu menjadi tontonan wajib anak sekolah? Banyak orangtua yang menganggap sinetron, telenovela, dan film-film jagoan sebagai 'perusak' moral anak; tapi siaran berita yang diasosiasikan sebagai bentuk pendidikan, bebas dari tudingan tersebut

Tahukah Anda bahwa siaran berita pun sebenarnya merupakan bentuk dari entertainment yang seringkali memberikan pandangan yang keliru dari kenyataan. (Ingat, di luar negeri Indonesia pernah mempunyai citra sebagai negeri yang mengerikan. Padahal di sini kita tetap merasa aman.) Siaran berita pun salah satu panggung kekerasan. Jika dulu berita kriminal hanya dibacakan, kini ditayangkan kondisi fisik korban pembunuhan, penangkapan tersangka yang kerap diwarnai dengan tembak-menembak, bahkan juga rekonstruksi pembunuhan yang menunjukkan bagaimana pembunuhan dilakukan. Berita semacam itu, terkadang terselip di antara acara anak-anak!

Saya pernah mendapatkan pengalaman tidak enak berkaitan dengan penyelipan berita di antara acara anak-anak. Saat anak saya yang berumur 4 tahun sedang menyaksikan kartun, tiba-tiba muncul adegan demonstrasi mahasiswa yang diwarnai dengan keributan dengan aparat. Tayangan itu dengan jelas menunjukkan aparat memukuli mahasiswa. Anak saya yang bercita-cita menjadi polisi langsung berteriak, "Polisinya jahat! Orang cuma demo kok dipukuli sampai berdarah!" Cita-citanya pun berubah, ia tidak mau menjadi polisi lagi.

Dampaknya Beragam
Ada pendapat bahwa tayangan kekerasan merupakan jalan keluar untuk menyalurkan dorongan agresi yang sifatnya bawaan. Pendapat itu mungkin dipengaruhi oleh teori Freud, tapi kenyataan menunjukkan hal yang berbeda. Untuk membuktikannya, beberapa penelitian di Amerika Serikat melaporkan bahwa anak yang menonton film kekerasan menjadi lebih agresif daripada anak yang hanya menonton film kartun tanpa kekerasan.

Sebuah penelitian jangka panjang yang melibatkan 800 anak laki-laki usia 8-9 tahun menunjukkan, anak yang mempunyai kebiasaan menyaksikan acara yang mengandung kekerasan lebih agresif daripada anak yang menyaksikan sedikit acara kekerasan. Setelah 10 tahun - anak-anak yang menjadi objek penelitian sudah berusia 1 8-1 9 tahun - anak yang lebih agresif di masa kanak-kanak ternyata semakin bertingkah laku agresif sehingga sebagian dari mereka mempunyai catatan kriminal.

Lalu bagaimana dengan anak perempuan? Bersyukurlah karena anak perempuan sejak kecil biasanya telah dikondisikan untuk bertingkah laku tidak agresif. Tapi dengan semakin banyaknya jagoan perempuan dalam tayangan anak, kesimpulan penelitian semacam itu pasti segera berubah.

Hal lain yang mungkin muncul dari tayangan kekerasan di televisi adalah rasa takut. Adit (8 tahun) yang menonton berita mengenai bom Marriott menjadi begitu ketakutan, sehingga merasa perlu untuk menelepon ayahnya agar berhati-hati. Ketakutan mencekam juga dialami Dion (4 tahun) ketika menyaksikan adegan Arie dihukum ayahnya dalam film Arie Hanggara. Selama beberapa malam ia tidur mengigau dan di siang hari ia terus membahas tentang film itu.

Agar Dampak (Buruk) Tidak Berkelanjutan
Perlukah orangtua melakukan penyensoran terhadap acara televisi yang ditotonton anak-anak? Tentu saja perlu. Sebagaimana makan, menonton televisi pun memerlukan 'diet'. Sebelum memperbolehkan anak menyaksikan suatu acara, orangtua sebaiknya telah menetapkan aturannya. Diet televisi tidak saja dapat melindungi anak dari tayangan yang berpotensi memiliki dampak negatif, tapi juga mempengaruhi selera anak. Lebih baik lagi jika Anda mendampingi anak setiap kali menonton televisi.

Bagaimana jika tayangan televisi sudah telanjur mempengaruhi tingkah laku anak? Anak yang manis tiba-tiba menjadi kasar atau anak pemberani tiba-tiba berubah menjadi cengeng?

Kebanyakan orangtua biasanya gusar jika anaknya menjadi agresif, suka memukul atau berkata buruk. Jika hal itu terjadi, selain mengurangi waktu menonton televisi dan menggantinya dengan kegiatan yang tidak merangsang agresivitas seperti berenang, anak perlu terapi hadiah dan hukuman (reward and punishment). Berilah hukuman yang berarti, seperti pemotongan uang saku setiap kali anak melakukan kekerasan; dan berikan hadiah mainan, buku, atau makanan kecil yang disukai jika dalam waktu tertentu ia tidak bertindak agresif.

Membatasi waktu menonton televisi juga perlu diterapkan pada anak yang menjadi takut. Tapi selain itu, Anda harus selalu siap dengan berbagai penjelasan. Akan lebih mudah menjelaskan hal yang dilihat jika anak sudah berusia 7 tahun. Dengan pelukan dan mengkomunikasikan perasaannya, anak biasanya sudah bisa tenang.
Tapi menjelaskan pada anak yang masih kecil adalah suatu tantangan. Memberi pengertian pada anak bahwa kisah Harry Potter hanyalah khayalan dan dia hanya purapura diserang oleh troll (sejenis makhluk sihir) cukup menyulitkan. Apalagi jika harus menjelaskan bahwa pembunuh sadis Sumanto itu sudah ditangkap (ia pasti akan bertanya, "Kalau lepas bagaimana?") dan tempatnya jauh dari tempat tinggal Anda (ia mungkin akan bertanya, "Dia 'kan bisa naik bis."). Kesabaran Anda dalam hal ini sangat dibutuhkan.

Kamis, Februari 15, 2007

Anak Kita atau 'Anak TV'?

Tiap pagi, pekerjaan rutin saya adalah mengantar keponakan saya dan enam anak lainnya ke sekolah. Mereka adalah anak kelas 1 hingga 3 SD. Saya sekaligus merangkap menjadi sopir. Tiap pagi pula, saya menyetelkan lagu anak-anak untuk mereka. Pilihan saya tentulah Tasya, Sherina, Kenny tau si Kembar Ita dan Tara. Kenapa mereka? Menurut penilaian saya, mereka menyanyikan lagu anak yang relatif sehat.

Suatu hari, seorang dari anak-anak itu berkata, "Abang (mereka semua memanggil saya Abang, meniru keponakan saya), sekali-kali nyetel Westlife dong..." Waduh! Saya terkejut mendengar permintaan itu. Saya katakan, saya tidak punya kaset Westlife. Tetapi ternyata, beberapa hari sesudahnya, toh Westlife terdengar juga dari radiotape mobil kami. Seorang anak membawa kaset Westlife dari rumahnya. Oke-lah, saya pikir, sesekali boleh juga mengalah. Dan saat lagu Westlife mengalun, hampir semua anak ikut bernyanyi. Tentu saja dengan lirik berbahasa Inggris yang amburadul.

Pada kesempatan lain, saya tak sengaja menyetel kaset berlabel "Swara Perempuan". Ini adalah kaset kumpulan lagu para penyanyi perempuan Indonesia yang konon "bersuara empuk". Ketika saya ingin mengganti kaset itu dengan kaset lagu anak-anak, para penumpang cilik itu protes. "Yang tadi aja Bang! Yang tadi aja!" Akhirnya, dengan sekali lagi berkomentar "waduh!", saya kembali menyetel kaset itu dengan berkata, "Sekali ini saja ya... soalnya ini bukan kaset untuk anak-anak. Ini kaset lagu orang besar." Seorang anak menyahut, "Ah... aku biasa kok mendengarnya!"

Saya terkejut karena dua di antara anak-anak itu amatlah fasih ikut menyanyikan lagu-lagu yang diputar. Padahal, dari lagu-lagu tadi, hanya ada satu yang dinyanyikan oleh anak-anak, yakni Sherina. Selebihnya adalah penyanyi perempuan dewasa antara lain: Reza, Kris Dayanti, Rossa, Melly Goeslaw, Shelomita, dan Shanti. Dan lagu-lagu yang dinyanyikan sungguh bersyair dewasa.

Ampun, pikir saya, dua anak ini benar-benar anak TV! Lagu-lagu yang diputar itu adalah lagu yang biasa mereka dengar dan lihat videoclipnya di televisi. Mereka pasti sering menontonnya hingga hapal syair-syairnya. Padahal, saya ingat, sejumlah videoklip itu menyajikan adegan sensual di dalamnya. Videoklip Reza atau Shanti misalnya.

Anak-anak ini pada kesempatan lain mengobrol tentang hantu. Ternyata, obrolan itu datang karena mereka menonton serial Ghost Stories yang ditayangkan Metro TV. Saya menghela nafas. Itu acara TV yang terlarang di rumah saya. Saya segera teringat dengan buku-buku teks ilmu komunikasi yang saya pelajari. Di dalam buku-buku itu dituliskan berapa makin lama anak-anak kita makin terbiasa dengan media sejak usia dini. Anak-anak kita besar dengan media. Media laksana babysitter bagi mereka. Sayangnya, kualitas babysitter ini kebanyakan buruk.

Saya juga teringat dengan buku After the Death of Childhood. Sesuai dengan judulnya, buku bagus ini bercerita tentang matinya masa kanak-kanak, antara lain akibat kehadiran media. Mengapa demikian? Media massa mengenalkan anak-anak pada kehidupan dewasa. Itulah yang membuat anak-anak tercerabut dari masa kanak-kanak yang seharusnya.

Sejak kecil anak-anak sejak kecil sudah mengenal banyak hal dari aspek kehidupan orang dewasa, sehingga ia terperangkap dalam kedewasaan baik secara fisik, psikologis, ataupun sosial. Anak-anak tahu hubungan laki-perempuan, seks, kekerasan, dan perilaku-perilaku anti-sosial sejak mereka masih sangat kecil. Dari mana? Dari media tentu. Padahal, anak-anak belum siap untuk itu.

Lihatlah film kartun anak-anak. Isinya banyak yang terkait dengan hubungan laki-perempuan dan seks. Popeye, Crayon Sinchan, dan Sailor Moon adalah beberapa diantaranya. Kemudian, iklan TV. Mari lihat Irex, Promag, Rapet Wangi, atau pompa air Sumitsu, dan juga beberapa iklan yang di perankan oleh Inul. Semuanya menjual seks, padahal iklan-iklan itu bisa saja ditayangkan pada jam tayang keluarga, dan tentu saja anak-anak ikut menontonnya.

Atau, lihatlah tabloid-tabloid porno yang dijajakan di pinggir jalan. Anak-anak setiap saat dapat melihatnya. Mereka sejak kecil sudah melihat gambar perempuan dewasa nyaris telanjang, dan itu seks. Kemudian, ada pula sinetron, telenovela atau film yang menampilkan hubungan laki-perempuan atau seks secara eksplisit. Sekaligus, dari kisah-kisahnya anak-anak dapat menangkap cerita tentang penyelewengan, perceraian, dan krisis hubungan laki-perempuan lainnya.

Ada pula videoclip yang menjual seks. Ada perempuan-perempuan nyaris telanjang di danau yang menari dan bergoyang sensual. Belum lagi, syair yang dinyanyikan yang kadangkala mengandung muatan seks pula.

Kemudian, mereka juga belajar kekerasan dari media melalui film kartun, film dewasa, dan sinetron. Dari sini kadang-kadang anak belajar bahwa kekerasan adalah jalan keluar untuk menyelesaikan masalah.

Mereka juga mengenal horor sejak mereka sangat kecil. Kemungkinan karena dirumah para orang dewasa menonton acara TV Ghost Stories, Percaya tak Percaya atau serial yang menampilkan Mak lampir. Sekaligus, dengan menonton acara-acara yang demikian, anak-anak berkenalan dengan dunia klenik. Daftar ini akan bertambah panjang jika kita juga berbicara tentang profanity, kata-kata vulgar, kasar, dan tidak sopan yang sering jadi langgam bicara para tokoh yang tampil di sinetron atau film.

Bahkan, menyedihkan sekali, kalau toh anak-anak kita jejali dengan hanya materi TV berlabel "acara anak-anak", mereka juga tidak dapat terbebas dari virus yang buruk itu. Anak-anak yang tampil dalam acara anak-anak banyak yang telah teracuni, tampil bak orang dewasa. Mereka sungguh-sungguh miniatur orang dewasa. Gaya bicara dan penampilan anak-anak itu persis seperti orang dewasa, karena mereka meniru gaya orang dewasa. Contohnya adalah Joshua.
Jadi begitulah. Potret media kita memang mengkhawatirkan buat anak-anak kita. Karena itu, sedapat mungkin, jauhi anak kita dari media-media yang potensial membawanya ke arah pengenalan kehidupan orang dewasa. Kalau toh kita dengan selektif mengizinkan anak kita mengkonsumsi media, jangan biarkan dia mengkonsumsinya sendirian. Dampingi anak kita, ajak dia bicara jika ada muatan media yang kita rasakan "terlalu dewasa". Tentu saja anak perlu mengenal kehidupan orang dewasa, tapi itu nanti, pada saat yang tepat.

Kamis, Februari 01, 2007

Anak dan Media (yang Meresahkan)

Media menjelma dalam berbagai bentuk dan sarana yang berkembang dan baru antara lain media cetak, radio, televisi, dan komputer. Dewasa ini merupakan jaman media. Kemajuan teknologi semakin memacu dampak media itu menjadi berjuta–juta kali. Dahulu pengaruh itu melalui gelombang suara, tetapi sekarang sudah meningkat dalam bentuk gambar hitam-putih, berwarna, bersuara, dan hidup. Keunggulan tekhnologi menambah besarnya pengaruh media bagi masyarakat.


Sarana Media :
1. Media Bacaan
Ini merupakan media yang paling luas penyebaran dan pengaruhnya serta mudah berpindah tempat. Ia tidak membutuhkan perantara untuk memindahkan informasi yang ada ke dalam pikiran pembaca, tapi bekerja sendiri untuk menyerap kandungannya.

2. Media Audio
Alat ini memiliki keistimewaan tersendiri karena lebih banyak menyibukkan satu indera saja yaitu 'indera pendengaran'. Ia memindahkan informasi dan menyerapnya ke dalam otak hanya melalui pendengaran.

3. Media Audio Visual
Alat ini merupakan media yang membawakan suara dan gambar sekaligus. Ia menyibukkan dua indera sekaligus, yakni pendengaran dan penglihatan. Ia mampu memukau penoton dengan sempurna pada materi media yang dihidangkan.

4. Media Komputerisasi
Alat ini merupakan media hasil kemajuan dunia tekhnologi. Ia menyuguhkan informasi dalam dunia maya ke seluruh dunia. Komunikasi dan informasi dapat disuguhkan dalam bentuk tulisan, suara, dan gambar dalam waktu lebih effisien.
Media diibaratkan seperti pedang bermata dua. Dia merupakan alat ampuh dalam memberikan manfaat semaksimal mungkin kepada masyarakat, tapi dia juga dapat menghancurkan segala yang telah dibangun sekian lama dalam tempo relatif singkat.
Dampak Media dalam Kehidupan
Dewasa ini media modern mempunyai kecenderungan lebih banyak memasukkan kebatilan daripada kebenaran yang semuanya diperindah dengan gambar, warna, yang dapat mendatangkan keasyikan (melalaikan).

1. Media televisi
Menyuguhkan film – film barat, yang bersifat keras, dan kriminalitas, amoral (film porno), cerita picisan dll, nyanyian dengan lirik yang kurang baik. Terkadang menyuguhkan penjelasan ilmiah tentang bahaya rokok bagi kesehatan tetapi di tempo yang lain menawarkan rokok istimewa.

2. Media Komputerisasi
Menyuguhkan situs – situs porno, dari mulai gambar, suara, kartun, CD porno, game dst. Berjamurnya warnet – warnet yang menyuguhkan media ini, membebaskan orang untuk dapat menggunakan media komputer dan internet tanpa harus memilikinya.

3. Media Bacaan
Dewasa ini menjadi tradisi media cetak berwarna menampilkan berbagai gambar wanita yang menjadi unsur yang hina. Kehormatannya runtuh oleh dunia media dan periklanan dengan cara yang memalukan. Mulai dari iklan pencukur jenggot, mobil, rokok, makanan, shampoo, baju dst, ditawarkan melalui gambar wanita. Ini semua dilakukan dalam rangka melariskan dagangannya.

Wanita yang berpikiran bebas menerima semua ini dengan suka cita, dengan penuh kealpaan, dan dalam dunia sastra picisan wanita dianggap sebagai sumber inspirasi bagi penyair, pembuat cerita dan lagu.

Golongan yang menjadi Sasaran Media
1. Anak – anak
Menurut hasil penelitian secara umum, anak adalah suatu publik yang sempurna di samping sebagai publik peniru. Pada usia ini gambar adalah unsur yang paling menarik. Mereka bersemangat membaca buku bergambar yang dihiasi lukisan dan warna menarik, serta huruf besar yang memikat.

Media Audio-Visual dan komputerisasi + internet merupakan media paling kuat pengaruhnya pada anak-anak. Peneliti Bloumer mengatakan bahwa 'Media Televisi amat menarik perhatian masyarakat terutama anak- anak. Penelitian membuktikan sebagian besar anak terpikat dengan semua keterangan yang disuguhkan film di televisi tanpa ragu sedikit pun.'

Sementara itu Dr. Sbouck mengatakan pengaruh media Audio terhadap anak: 'Saya hampir ketakutan mendengar sebuah lagu yang sentimental namun menyiratkan seksual, yang dibawakan oleh seorang penyanyi professional. Saya takut dan khawatir anak saya mendengar nyanyian itu'

Dalam dunia kenyataan, banyak kita saksikan pengamen-pengamen cilik menyanyikan lagu orang dewasa yang bernapaskan cinta, yang pada dasarnya ia sendiri tidak mengerti akan makna dari lirik lagu yang dinyanyikannya. Hal ini menunjukkan mulai termakannya media dalam memberikan warna serta pengaruh pada anak.

Dr. Sbouck juga mengatakan banyak psikolog menegaskan ketika mereka melakukan pengusutan terhadap beberapa anak yang melakukan kejahatan, jawabannya hampir sama, yaitu diperoleh dari cerita detektif dan film baik di televisi maupun bioskop.

Anak memang memiliki kecenderungan ingin mengetahui seluk beluk kehidupan seksual, tetapi mengapa kita tidak mengajarkan kepada mereka tentang seluk beluk ini secara perlahan dan bertahap ?

2.Remaja
Daya hayalnya luas dan liar, angannya menghembuskan angin sorga yang indah, karena mereka sudah mengamati kehidupan masyarakat yang ada di sekitarnya. Mereka tidak pandai mengatasi perubahan jasmani dan rohaniyahnya. Namun pengarahan dan bimbingan yang sesuai dengan harapannya tidak pernah ada, baik dalam lingkungan keluarga maupun sekolahnya. Di sekolah otak mereka telah sarat dengan ilmu pengetahuan antara benar dan salah sulit dibedakan.

Seharusnya peran yang dituntut remaja kita menjadi tanggung jawab media harus ditangani dengan serius dan terencana, karena jika tidak akan menimbulkan banyak kerugian.

3.Pemuda
Banyak menaruh perhatian pada problema kemasyarakatan dan hal–hal yang bersifat sentimental. Mereka bertindak atas dorongan jiwanya yang halus untuk mengadakan pendekatan dan penyesuaian diri dengan kelompok lain.

Mereka gemar membaca tentang peristiwa besar di Koran dan berusaha memahami pemecahannya. Sebenarnya pemuda sangat membutuhkan orang yang bijaksana, yang mampu mengisi kekosongan waktunya dengan berbagai hiburan dan acara yang bersih.
Mengatasi Pengaruh Media
Hendaknya seluruh keluarga ( khususnya orang tua ) secepatnya meneliti dan memisahkan acara yang boleh dan yang tidak boleh ditonton, dibaca, oleh anak.

Pengawasan yang berkesinambungan menumbuhkan kepribadian pada anak yang sensitive akan timbul 'keenganan' untuk menonton acara televisi yang penuh kriminalitas, horror, atau bermain komputer dengan situs porno, dan bacaan yang kurang baik.
Membekali ilmu agama sebagai benteng dengan 'akhlak' untuk mencegah dan mengstabilkan gejolak anak dengan pengaruh yang kurang baik dari media tersebut. Peranan guru dalam memberikan ilmu pengetahuan tentang gambar tubuh manusia serta fungsinya. Memilihkan bacaan, film, game bagi sang anak dengan terlebih dahulu membacanya, melihatnya atau pun mengeceknya serta menilai isi serta pengaruhnya pada sang anak.

Senin, Januari 15, 2007

Sesekali, Katakan 'Tidak' Bagi Anak Kita

Cinta, dan kasih sayang terhadap anak adalah satu ‘kewajiban’ yang sudah lumrah. Kalaupun ada orangtua yang menelantarkan anaknya atau membenci anak kandungnya sendiri, itu satu hal diluar kebiasaan atau karena memiliki alasan-alasan khusus yang hanya dia yang paling tahu. Sekarang, bicara soal bagaimana mengimplementasikan cinta dan kasih sayang itulah yang hendak dibahas dalam tulisan kali ini.

Adi, bocah berusia 4 tahun, serta merta melemparkan mainannya dan mengenai wajah Rita, ibunya, hanya karena si ibu menolak membelikan es krim kesukaannya. “Bukannya tidak mau membelikan, anak saya itu sedang sakit di tenggorokannya, semacam radang,” jelas Rita.

Kejadian serupa juga dialami Nia dengan anaknya, Dinda. Dinda yang baru berusia 2 tahun mengacak-ngacak mainannya dan membuangnya keluar kalau permen kesukaannya tidak dibelikan. Bahkan tidak jarang menurut Nia, Dinda membanting piring atau apa saja yang bisa diraihnya.

Apa yang dilakukan Adi dan Dinda, sebenarnya bukan hal baru. Bukan tidak mungkin hampir setiap ibu di rumah mengalami hal serupa. Meski dengan bentuk dan alasan yang beragam, seperti tidak boleh nonton TV, atau minta dibelikan ini-itu. Dan tidak jarang para ibu muda itu kerepotan menghadapi ulah si anak yang dinilainya keras kepala. Bagaimana mengatasinya?

Rita, ibu muda yang terbiasa dimanja sewaktu kecilnya, langsung memukul si anak, yang terkadang secara tidak disadari, pukulannya jauh lebih banyak (dan lebih sakit) dari apa yang diterimanya. Bahkan masih ditambahi kata-kata, “dasar anak kurang ajar!”. Bisa dipahami, Rita yang berlatar belakang keluarga berada, dan yang semenjak kecilnya tidak pernah merasakan kesulitan akan merasa bahwa ulah Adi yang ‘kurang ajar’ itu adalah bentuk pembangkangan anak yang mesti ‘diberi pelajaran’. Tidak hanya itu, Rita juga merasa kalau Adi adalah anak yang tidak tahu diuntung karena menganggap sikapnya menolak membelikan es krim saat si anak sakit adalah bentuk kasih sayangnya. Tapi sayangnya, Rita terlambat menyadari, padahal Adi baru empat tahun lho …

Lain halnya dengan Dinda yang setiap kali melancarkan aksi protesnya, Nia tidak mau ambil pusing dan tidak banyak omong langsung mengunci Dinda di ruang tidur atau bahkan di kamar mandi. Sambil menunggu tangis Dinda reda, Nia tak membuka pintu sambil sedikit mengancam, “Hayo! Kalau masih nangis ibu nggak akan bukain …”

Namun Nia tidak menyadari sikapnya, bayangkan, Dinda yang masih 2 tahun, bagaimana kalau ia terpeleset di kamar mandi yang licin dan kepalanya terbentur sudut bak mandi yang tajam. Atau ketika dikunci di ruang tidur, bagaimana jika sesuatu yang membahayakan justru terjadi? Bukankah penyesalan yang justru timbul dari sikap ‘tidak mau ambil pusing’nya itu? Padahal target awalnya hanya untuk memberikan pelajaran kepada Dinda.

Akan ada banyak cerita lain tentang bagaimana sebuah punishment diberikan si ibu kepada anak-anak mereka, yang tidak jarang justru sangat berlebihan dan tidak adil. Kenapa tidak adil? Pertanyaannya adalah, apakah para ibu juga memberikan reward ketika anak-anak melakukan hal baik atau membuat satu prestasi sekecil apapun. Misalnya, Dinda yang baru berusia 2 tahun itu ternyata sudah bisa menghitung sampai angka 10, apakah tidak sebaiknya ia diberikan satu hadiah yang membuatnya senang, sekaligus menambah semangat belajarnya. Atau saat Adi baru pertama kali bisa mengendarai sepeda roda duanya, kenapa ia tidak diberikan hadiah? Inilah bentuk ketidakadilan yang hampir tidak disadari para orangtua, bahwa anak-anak (yang kita anggap belum mengerti itu) sangat merasainya. Makanya jangan heran, jika ia kerap ‘marah’ jika setiap bentuk ketidakadilan yang terjadi padanya. Termasuk soal, kenapa biasanya dibelikan es krim, sekarang tidak?

Ada yang lebih dini bisa dilakukan oleh ibu. Kasih sayang, bukan berarti memberi segalanya tanpa seleksi. Curahan cinta kepada anak, jangan diimplementasikan dengan pemberian tanpa penolakan. Misalnya permen, demi kesehatan pertumbuhan gigi, sebaiknya tidak selalu anak dibelikan. Atau es krim, jika kita tidak senantiasa “yes” untuk setiap permintaannya, maka anak akan terbiasa dan memahami bahwa tidak semua keinginannya harus terpenuhi, bahwa ada permintaan-permintaan yang tidak selalu harus dituruti dan tidak semestinya ‘marah’ ketika permintaannya ditolak sang ibu karena ia telah mengerti bahwa ada “ya” dan “tidak” untuk segala hal.

Hanya saja, proses ini tidak serta merta, dan butuh proses dan konsistensi yang berkesinambungan dari ibu, ayah, termasuk juga pihak lain yang dekat (nenek, om, tante dan lain-lain). Karena tidak sedikit, anak-anak yang ‘lari’ ke neneknya ketika permintaannya tidak dituruti orangtuanya. Ini tentunya akan menjadi masalah selanjutnya.
Sesekali mengatakan “Tidak”, butuh komitmen dan konsistensi. Dan juga dibutuhkan kesabaran. Bukan untuk membunuh kasih sayang, karena terkadang alasan kasih sayang inilah yang melunturkan niat untuk mendidik anak tentang “ya” dan “tidak”. Jadi, mulailah dari sekarang dengan mengatakan “Tidak” saat harus mengatakan “Tidak”.

Senin, Januari 01, 2007

Pendidikan Sex Bagi Anak, Perlu?

Diberitahu, itu masalah tabu, tidak diberitahu anak akan penasaran. Justru itu bahaya. Lalu bagaimana? Pergaulan bebas, telah sangat banyak dilakukan remaja Muslim dalam masyarakat kita. Dan sebagian besar dari mereka, mencontohnya dari teman dan lingkungannya. Kenyataan seperti itu sama sekali tidak mengherankan jika dilihat, memang di rumah dan di sekolah anak tak memperoleh pengetahuan yang cukup tentang pendidikan seksual tersebut.

Di rumah, kebanyakan orang tua merasa rikuh jika harus menerangkan kepada anak-anaknya. Bagi kebanyakan masyarakat kita, persoalan seksual dianggap sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan. Apalagi kepada anak-anak! Sementara di sekolah, tak ada kurikulum yang membidangi masalah ini. Tentang apa itu seksual, apa saja yang termasuk di dalamnya, tentang organ-organ seksual dan fungsinya, hingga proses reproduksinya, dan bagaimana menyikapi rangsangan seksual, semuanya membutuhkan ruang lingkup pengetahuan tersendiri yang cukup rumit. Ternyata sekolah pun tak memilikinya!

Jadi, dari mana anak memperoleh pengetahuan seksual? Mengharapkan mereka akan mengerti dengan sendirinya? Nonsens. Sementara di lingkungan hidup mereka hampir di setiap ke mana arah mata memandang, terdapat pemandangan yang menumbuhkan gairah seksual. Maka, anak akan lebih banyak belajar dari lingkungan tersebut. Juga dari temannya, yang juga menemukan pengalaman-pengalaman seksualnya sendiri, tanpa ada yang membimbing.

Yang Dialami Anak-anak Kita
Apa yang terjadi kepada anak-anak kelas 5 SD yang belum pernah sama sekali mendengar apa itu seksual, merasakan rangsangan seksual dalam tubuhnya, saat memandang wanita cantik di hadapannya dengan belahan dada yang merangsang? Darah berdesir, kenikmatan ia rasakan, dan ada dorongan kuat untuk menyalurkannya!

Anak-anak ini terlalu dini merasakan rangsangan-rangsangan sebelum matang usianya. Pikiran kekanak-kanakan mereka cenderung ingin mengulang-ulang rasa nikmat yang pernah dialami itu. Dan mereka pun mengajak teman-teannya untuk ikut menikmatinya!

Sesekali pernah juga mereka mempertanyakan hal-hal baru itu kepada ayah ibunya, tetapi apa jawaban yang didapat? "Huss, tidak pantas menanyakan itu!" atau, "Kamu masih kecil, belum saatnya mengerti" atau "Hal-hal seperti itu tidak boleh dibicarakan." Justru kalimat-kalimat larangan seperti itu semakin menumbuhkan rasa penasaran, sehingga mendesak-desakkan keingintahuannya.

Kapan Mereka Perlu Tahu?
Apakah pengetahuan tentang kehidupan seksual hanya dibutuhkan oleh mereka yang hendak menikah? Padahal anak kelas 2 SD pun sudah dapat merasakan serbuan rangsangan birahi dari lingkungannya? Maka, sebaiknya pengetahuan tentang seksual itu diberikan sedini mungkin. Tentu saja, disesuaikan dengan batas kemampuan berpikir anak.

Adalah sebuah kenyataan menarik bahwa pendidikan seksual paling dasar, yaitu pembentukan persepsi anak terhadap kehidupan seksual, justru paling bagus diberikan di usia kanak-kanak .

Alasannya, karena di usia dini ini anak belum mengerti akan gairah seksual, sehingga saat ini menjadi saat paling tepat untuk memperkenalkan komponen-komponen dasar kehidupan seksual. Biarkan anak mengenal satu demi satu anggota badannya, termasuk alat kelaminnya tanpa rasa jengah. Tunjukkan bahwa alat seksual itu adalah satu bagian tubuh yang sama juga dengan bagian tubuh yang lain. Biarkan pula anak-anak itu berbaur dengan teman lawan jenis, karena inilah saatnya mereka bisa mengenal lebih dekat bentuk badan serta sifat lawan jenisnya itu.

Ketika Penasaran Mulai Muncul
Menjelang usia 7 -8 tahun, anak mungkin mulai banyak menanyakan hal-hal berbau seksual dengan lebih detil. Tugas orang tualah yang harus memberikan jawaban yang memuaskan bagi anak. Jika tidak, anak menyimpan rasa penasarannya untuk dicarikannya jawaban di luar rumah!

Seorang anak kelas satu SD memiliki adik bayi yang masih harus menetek ibunya. Si kakak laki-laki ini sering mengamati payudara ibunya sewaktu meneteki adik. Sesekali dielusnya payudara ibu penuh rasa ingin tahu. Sesekali pula dipijit-pijit dan diciumnya. Pernah terlontar pertanyaan lirih dari bibirnya, "Bu guru juga punya, ya ma?"

Ibu yang mendengar dan memperhatikan perilaku anak sulungnya ini sebenarnya risih juga. Tetapi ia faham bahwa putranya itu bukannya sedang terangsang birahi, tetapi sedang mempelajari sesuatu yang baru. Sesuatu yang membuat teman-temannya tertawa-tawa, sesuatu yang disembunyikan ibu-ibu agar tak diketahui orang lain. Ia sedang sungguh-sungguh penasaran.

Dua kemungkinan akan terjadi selanjutnya. Jika si kakak puas dengan pengetahuan barunya, selanjutnya ia akan memandang payudara sebagai sebuah persoalan yang biasa-biasa saja. Bentuknya secara fisik ia sudah tahu, fungsinya pun ia mengerti, mengapa hanya dimiliki perempuan pun ia faham. Maka, satu tahapan pendidikan seksual telah ia lewati dengan baik.

Tetapi jika terjadi kemungkinan berikutnya, dimana ibu bereaksi negatif terhadap perilaku anak, menepis dengan keras tangan si kecil yang meraba-raba, mengoloknya tak pantas, semua itu hanya akan menambah-nambah rasa penasarannya. Si anak akan menganggap masalah ini sebagai sebuah rahasia yang ia pendam dalam hati untuk ia gali jawabannya di tempat lain. Anak seperti ini yang rawan terhadap rangsangan-rangsangan seksual yang menyerbu dari lingkungan sekitar.

Menjelang Masa Baligh
Umumnya, anak-anak mengalami baligh di usia sebelas hingga tiga belas tahun. Pada saat baligh tiba, otomatis mereka sudah terkena kewajiban untuk menjalankan semua syariah Islam. Berarti pula, kehidupan seksual pun sudah menjadi bagian dari kehidupannya. Itu berarti, mereka sudah harus mengerti dan memahaminya ketika datang saat baligh.

Berarti pula, pendidikan seksual lebih detil harus diberikan kepada anak menjelang usia baligh. Kira-kira di usia sepuluh tahun-an, mereka sudah harus mengenal apa itu menstruasi, apa itu mimpi indah. Mengapa laki dan perempuan tak boleh berdekatan, tak boleh berpacaran. Mereka pun sudah mengenal secara umum, fungsi organ reproduksinya. Tentu saja, dalam batas kemampuan berpikir mereka.

Ketika Nikmat Mulai Terasa
Dalam keadaan masyarakat yang bercampur baur laki dan perempuan baik di sekolah, pasar, toko-toko, dan berbagai tempat umum lain, rangsangan lebih kerap terjadi. Anak-anak kita mengalami kemungkinan perkembangan hormon yang lebih cepat pula. Masa akil baliq bagi mereka pun bisa lebih cepat datang. Rangsangan-rangsangan seksual pun semakin cepat bisa mereka nikmati.

Tak heran jika anak-anak perempuan kelas lima SD sudah banyak yang menjadi gadis, dan anak- laki-lakinya sudah pandai bermimpi indah. Di masa-masa rawan seperti ini, semestinya mereka sudah menerima sebagian besar dari materi pendidikan seksual.

Ketika mereka mulai bisa merasakan kenikmatan rangsang, bersamaan dengan itu harus dipisahkan pergaulan laki-laki dengan perempuan. Segala sesuatu yang menumbuhkan rangsang pun harus dihindari. Seperti film, lagu-lagu bertema asmara, juga cerita-cerita cinta. Semua itu dilakukan untuk menghindari serbuan rangsangan seksual, sehingga memudahkan mereka menahan gejolak seksualnya.

Rabu, Desember 20, 2006

Mengasah Skill Bicara Anak

Konon, untuk membentuk anak agar gemar membaca orangtua harus rajin memberi rangsangan pada anak sejak dini. Rangsangan apa saja yang perlu kita berikan pada anak?

Dalam buku 'Membantu Putra Anda Belajar Membaca' karangan seorang pakar dari Pusat Informasi Bacaan dan Bahasa di Universitas Reading Inggris, Betty Root, menyimpulkan bahwa belajar membaca melibatkan perangkuman banyak ketrampilan yang berlainan yang dapat mulai diperoleh anak-anak pada usia dini. Berdasarkan riset yang dilakukannya selama puluhan tahun, pengajaran membaca secara efektif ternyata ada pada orangtua, bukan pada guru.

Bicara, mendengar, berirama Kemampuan dasar membaca sangat ditunjang oleh kemampuan bicara. Sebelum bisa membaca, anak-anak harus sudah memiliki perbendaharaan kata-kata dasar yang baik. Anak akan memahami kata-kata yang mereka lihat jika telah mengenal kata-kata tersebut. Karena itu, modal awal gemar membaca adalah kemampuan berbicara.

Cara terbaik untuk mendorong perkembangan bahasa anak adalah meluangkan waktu untuk berbicara dengan anak-anak. Pertama-tama, ajaklah anak untuk mengenal nama-nama benda yang di sekitar mereka sebanyak mungkin. Perkenalkan fungsinya, warnanya, atau bentuknya.

Anak-anak biasa belajar kata-kata baru dengan mendengarkan bunyi kata-kata itu yang digunakan dalam konteks percakapan. Misalnya, "Ini gelas untuk minum." Anak akan mengingat kata 'gelas' dan 'minum'.

Peragakan cara pengucapan kata yang benar dengan menerangkan kata dalam pembicaraan seraya menghentikan penggunaan bahasa bayi secara perlahan. Bila anak berkata, "Ma...CUCU." Ulanglah dengan jelas. "Oh adek haus, mau minum SUSU ya?" Jangan sekali-kali terdorong untuk menirukan kecadelan anak meskipun menggemaskan.
Selain berbicara, anak juga harus dilatih mendengar kata-kata. Mendengarkan adalah suatu ketrampilan yang harus dipelajari lewat praktik. Latihan mendengar ini bisa dilakukan dengan permainan, misalnya:

1. Bermain tebak bunyi. Mintalah anak untuk menutup mata dan diam selama satu menit. Setelah itu, tanyalah berapa banyak suara yang mereka dengar. Juga apa saja jenis suara yang ia dengar.

2. Mendengar rekaman kaset Berjalanlah keliling rumah bersama anak Anda. Rekamlah suara yang ada. Misalnya, suara kucuran air, detak jam, derit daun pintu, dan lain-lain. Lalu minta anak untuk menjelaskan suara itu.

3. Bisikan berantai Lakukan permainan ini bersama empat atau lima orang. Bisikkan pada anak pertama sebuah pesan dengan suara yang hampir sama. Misalnya, "Kuku kakiku kaku." Perintahkan anak untuk meneruskan pesan. Anak yang ada pada urutan akhir diminta untuk mengucapkan dengan lantang. Apakah pesan yang diucapkan benar? Gantilah urutan anak setiap kali mengganti pesan.

Selain ketrampilan mendengar, anak juga perlu diperkenalkan irama. Misalnya dengan mengajak anak mendengar sajak. Anak-anak yang kesulitan membedakan kata-kata yang sama bunyi suku akhirnya akan mengalami kesulitan membaca. Dengan melagukan bersama anak-anak kecil dendang bayi, anak akan membedakan kata-kata yang akhirannya sama.

Bersama orangtua menikmati buku Tugas awal orangtua memperkenalkan buku pada anak adalah dengan membangkitkan rasa senang anak pada buku. Bukan hanya senang melihat gambar dan mendengarkan cerita. Tapi, orangtua juga dapat memberikan perhatian individual, kedekatan jasmani, perasaan hangat dan perasaan aman. Jika rasa senang anak terhadap buku sudah muncul, maka anak akan melihat buku sebagai sumber kesenangan, hiburan, dan informasi. Sehingga, akan menimbulkan dorongan yang kuat untuk belajar membaca.

Sikap seorang anak terhadap buku akan dikondisikan dari sikap orangtuanya terhadap buku. Jika anak melihat orangtuanya suka membaca, maka anak akan cenderung menganggap buku sebagai sesuatu yang dapat dinikmati.
Anak yang terbiasa menggunakan buku akan banyak menyerap banyak informasi yang diperlukan sebelum ia belajar membaca. Ia akan memahami, cerita dimulai dari halaman depan ke belakang, setiap kata dipisahkan spasi kosong, bahwa cerita memiliki bagian awal, tengah, dan penutup. sehingga, pada saatnya anak membaca, ia sudah terbiasa

Sabtu, Desember 02, 2006

Menumbuhkan Semangat Belajar Anak

Setiap orang tua pasti mengharapkan anaknya mencapai prestasi belajar yang baik. Prestasi itu tentu dapat diraih bila si anak memiliki kemauan dan semangat untuk belajar. Berikut beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk meningkatkan semangat belajar pada anak:

Memberikan motivasi. Semakin kuat motivasinya semakin bersemangat pula ia belajar. Karena itu, orang tua hendaknya memberi motivasi agar dorongan untuk belajar tumbuh dari diri anak sendiri.

Menjelaskan tujuan belajar. Tujuan dapat memberi arah yang jelas bagi anak dalam belajar. Dengan tujuan belajar yang dipahaminya, anak akan lebih tekun dalam belajar.

Menjelaskan manfaat belajar. Menjelaskan manfaat belajar dapat dilakukan dengan memberi contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari di sekitar anak. Misalnya, Si Anu yang tadinya pernah tidak naik kelas, akhirnya bisa lulus dan diterima di sekolah terbaik.

Memberi kesempatan belajar. Memberi kesempatan berarti juga tidak mengganggu anak pada saat sedang tekun belajar. Orang tua bisa pula mengajak anak berkunjung ke tempat-tempat yang memberi suasana bejalar, misalnya perpustakaan.

Menciptakan suasana bersaing. Persaingan bisa dilakukan dengan diri sendiri atau orang lain. Contohnya, orang tua mendorong anak berlomba mengejar prestasi terbaik di antara teman-temannya. Prestasi di sini tidak melulu berupa angka yang baik, tetapi juga peningkatan-peningkatan yang dicapai.

Mencukupi sarana belajar. Dalam memenuhi sarana belajar hendaknya sesuaikan dengan tingkat kebutuhan anak, karena kebutuhan mereka berbeda-beda.

Memberikan contoh. Anak akan lebih bergairah dalam belajar bila melihat orang tuanya juga selalu belajar.
Memberi hadiah. Anak yang menunjukkan prestasi baik dari hasil belajarnya layak mendapat hadiah. Bentuknya bisa materi, kasih sayang, perhatian, pujian, dll

Rabu, November 22, 2006

Merawat Empati pada Anak

"Jangan sekali-kali memaksa anak harus mengikuti kemauan kita. Belajarlah berempati menyelami alam pikiran anak-anak dan kemauannya."
Itulah nasihat bijak yang selalu diingatkan oleh para pendidik sejati.
Alasannya sederhana, karena anak memiliki dunia dan "parameter moral" sendiri yang tentunya sangat berbeda dengan dunia dan parameter moral orang dewasa. Dan memang untuk keduanya tak boleh dan tak bisa digunakan parameter yang sama.

Pada hakikatnya anak tak pernah sengaja melakukan kesalahan. Jadi seyogyanya, anak tak boleh dianggap salah oleh orang tua. Karena memang, apa yang dianggap kesalahan oleh orang dewasa, tidak serta merta bisa diterapkan pada pada anak. Anak usia 2-4 tahun yang naik ke atas meja makan misalnya, jangan dulu dianggap kesalahan. Bagi anak tingkah laku ini barangkali justru merupakan ekspresi kesenangannya yang bersifat spontan dan wajar.

Tentu saja anak akan dianggap melakukan kesalahan berat bila tindakan di atas, ditakar dengan parameter moral orang dewasa. Dan sekali anak dimarahi dan diperlakukan secara kasar, itu akan menjadi preseden buruk bagi pandangan jiwa anak dalam memahami lingkungan sosialnya.

Karena itu sekali lagi, belajarlah berempati dengan dunia dan alam pikiran anak-anak kita. Ada beberapa kiat dalam menerapkan empati pada anak.

1. Terjemahkan empati dengan teladan
Ketika anda menjumpai atau mengetahui persoalan orang lain, jangan tunda memperlihatkan rasa empati anda, apakah itu berupa perasaan suka maupun duka. Terutama ketika kejadian ini berlangsung di depan anak-anak. Awalilah rasa empati dengan beberapa pertanyaan misalnya, misalnya; "Ya Allah, gimana keadaannya? Sakit ya?" - "Mari nak, ibu bantu angkat".

2. Hindari oleh kita tingkah laku negatif yang pernah dilakukan anak
Perlakuan ini untuk mendidik anak, bahwa sesuatu perbuatan yang keliru tidak boleh diulangi lagi. Misalnya ketika seorang anak meletakkan sepatu bukan pada tempatnya. Atau ketika seorang anak meninggalkan pakaian kotor dan handuk basah di kamar tidur.

3. Ajari anak menyadari dampak tingkah lakunya yang keliru pada orang lain
Jangan biarkan anak ketika dia melakukan tingkah laku negatif, misalnya mencubit temannya. Ajarkan padanya, bagaimana sakitnya jika diri kita dicubit orang lain. Ini artinya anak diberikan hukuman yang mendidik. Tapi tidak perlu dengan kasar, sebaliknya pengajaran itu dilaksanakan dengan penuh kelembutan. Misalnya dengan kata-kata "Ayo nak, tidak boleh mencubit. Biar sini mama cubit rasanya sakit enggak?".

4. Manfaatkan waktu menonton tivi dan kegiatan sosial lainnya dengan anak untuk melatih empati
Ketika ada adegan film yang mempertunjukkan perbuatan negatif, katakanlah bahwa hal itu tidak baik dan menyakitkan hati. Misalnya, kata-kata hinaan atau umpatan yang kasar. Bawalah anak sekali-kali untuk mengenal kehidupan sosial masyarakat yang secara ekonomi tidak menguntungkan. Lalu latih mereka untuk memberikan santunan langsung kepada anak-anak sebayanya.
5. Berikan penghargaan sewajarnya pada prestasi anak Anak pasti butuh perhatian. Perhatian dalam bentuk apapun akan memotivasi anak untuk meningkatkan prestasinya dalam hal kebaikan. Salah satu bentuk perhatian yang baik adalah, memberi hadiah yang wajar pada anak-anak yang memiliki prestasi positif. Misalnya memberi hadiah kue atau mainan misalnya, bagi anak yang sholat subuhnya tidak pernah telat berturut-turut dalam seminggu. Hadiah bisa berupa dengan mengajaknya jalan-jalan dan makan di suatu tempat.

Sabtu, November 04, 2006

Cara Bijak Memarahi Anak

Sebagaimana senyuman yang damai, kadang kita harus memarahi anak. Ini bukan berarti kita meninggalkan kelembutan, sebab memarahi dan sikap lemah-lembut bukanlah dua hal yang bertentangan. Lemah-lembut merupakan kualitas sikap, sebagai sifat dari apa yang kita lakukan. Sedangkan memarahi -bukan marah-merupakan tindakan. Orang bisa saja bersikap kasar, meskipun dia sedang bermesraan dengan istrinya.

Persoalan kemudian, kita acapkali tidak bisa meredakan emosi pada saat menghadapi perilaku anak yang menjengkelkan. Kita menegur anak bukan karena ingin meluruskan kesalahan, tetapi karena ingin meluapkan amarah dan kejengkelan. Tidak mudah memang, tetapi kita perlu terus-menerus belajar meredakan emosi saat menghadapi anak, utamanya saat menghadapi perilaku mereka yang membuat kita ingin berteriak dan membelalak. Jika tidak, teguran kita akan tidak efektif. Bahkan, bukan tidak mungkin mereka justru semakin menunjukkan "kenakalannya".

Sekali lagi, betapa pun sulit dan masih sering gagal, kita perlu berusaha untuk menenangkan emosi saat menghadapi anak sebelum kita menegur mereka, sebelum kita memarahi mereka.

Selebihnya, ada beberapa catatan yang bisa kita perhatikan: Ajarkan Kepada Mereka Konsekuensi, Bukan Ancaman

Anak-anak belajar dari kita. Mereka suka mengancam karena kita sering menghadapi mereka dengan gaya mengancam. Mereka melihat bahwa dengan cara mengancam, apa yang diinginkannya dapat tercapai. Dari kita, mereka juga belajar meluapkan kemarahannya untuk menunjukkan "keakuannya".

Saya tidak memungkiri, banyak pengaruh luar yang bisa mengubah perilaku anak. Teman-teman sebaya, khususnya yang sangat akrab dengan anak, bisa mempengaruhi anak. Ia meniru temannya dari cara bicara, bertindak, mengekspresikan kemarahan, sampai dengan kata-kata yang diucapkan. Kadang anak memahami apa yang dikatakan, tetapi terkadang anak tidak tahu apa maksudnya. Ia hanya menirukan apa yang didengar.

Perbincangan kita kali ini bukanlah tentang peniruan. Karena itu marilah kita kembali berbincang bersama bagaimana ancaman kepada anak, acapkali tidak menghasilkan perubahan yang baik. Ancaman tidak banyak bermanfaat untuk menghentikan kenakalan anak atau perilaku yang membuat kita sewot. Sebaliknya, ancaman justru membuat anak belajar berontak dan menentang.

Salah satu sebabnya, anak merasa orangtua tidak menyayangi ketika kita meneriakkan ancaman di telinga mereka. Selain itu, kita sering lupa menunjukkan apa yang seharusnya dikerjakan anak manakala kita asyik melontarkan ancaman.

Lalu apa yang perlu kita lakukan?
Pertama, kita kembali pada prinsip qubhunal 'iqab bila bayan. Adalah buruk menyiksa tanpa memberikan penjelasan. Sekali waktu kita perlu duduk bersama dalam suasana yang mesra dengan anak untuk berbicara tentang aturan-aturan.

Kedua, kita bisa membuat komitmen bersama dengan anak untuk mematuhi aturan. Misalnya, mintalah kepada anak agar tenang ketika ada tamu. Kalau ada yang perlu disampaikan, atau anak menginginkan sesuatu, hendaknya menyampaikan kepada orangtua dengan baik-baik dan bersabar bila belum bisa memenuhinya.

Bersama dengan komitmen ini kita bisa membicarakan dengan anak konsekuensi apa yang bisa diterima bila anak mengamuk di saat ada tamu. Sekali lagi, konsekuensi ini disampaikan dengan nada yang akrab. Bukan ancaman.

Bila anak melakukan hal-hal negatif yang sangat mengganggu, orangtua bisa mengingatkan kembali kepada anak dan lagi-lagi tidak dengan nada mengancam. Di sinilah letak beratnya. Kita acapkali mudah kehilangan kendali. Kita mudah membelalak saat marah, tetapi lupa untuk konsisten.

Astaghfirullahal 'adzim. "Ibu Sudah Bilang Berkali-kali."

Perilaku yang menjengkelkan memang lebih mudah diingat, lebih membekas dan cenderung menggerakkan kita untuk segera bertindak. Sebaliknya perilaku positif cenderung kurang bisa mendorong kita untuk memberi komentar, kecuali jika perilaku tersebut benar-benar sangat mengesankan. Konsumen yang kecewa pada suatu produk, akan segera menggerutu ke sana kemari, meski kekecewaan itu sebenarnya tidak seberapa. Tetapi konsumen yang puas cenderung akan diam saja, kecuali jika kepuasan itu sangat menakjubkan. Orangtua dan anak juga demikian. Orangtua mudah ingat perilaku negatif anak, sementara anak mungkin tidak bisa melupakan tindakan orangtua yang menyakitkan hatinya.

Salah satu kebiasaan umum orangtua yang menyakitkan hati anak sehingga bisa melemahkan citra dirinya adalah ungkapan, "Ibu sudah berkali-kali bilang, tapi kamu tidak mau mendengarkan."

Ungkapan ini memang efektif untuk membuat anak diam menunduk. Tetapi ia diam karena harga dirinya jatuh, bukan karena menyadari kesalahan. Jika ini sering terjadi, anak akan memiliki citra diri yang buruk. Dampak selanjutnya, konsep diri dan harga diri (self esteem) anak akan lemah. Anak melihat belajar memandang dirinya secara negatif, sehingga lupa dengan berbagai kebaikan dan keunggulan yang ia miliki. Sebaliknya orangtua juga demikian, semakin sering berkata seperti itu kepada anak, kita akan semakin mudah bereaksi secara impulsif. Kita semakin percaya pada anggapan sendiri bahwa anak-anak kita memang bandel, menjengkelkan dan susah dinasehati.

Tidak mudah memang, tetapi kebiasaan memarahi anak dengan ungkapan "Bapak kan sudah bilang berkali-kali" atau yang sejenis dengan itu, harus kita kikis secara sadar dari sekarang. Kita perlu menguatkan tekad untuk berkata yang lebih positif, betapa pun hampir setiap komentar kita masih buruk.

Jangan Cela Dirinya, Cukup Perilakunya Saja
Suatu saat, kira-kira jam setengah dua dini hari seorang anak saya bangun dari tidurnya. Ia kemudian beranjak dan mengajak adiknya yang masih bayi bercanda, padahal adiknya baru saja tertidur. Sebagaimana ibunya, saya juga sempat emosi. Hampir-hampir saya tidak dapat mengendalikan emosi, tetapi saya segera tersadar bahwa yang dilakukan oleh anak saya merupakan cerminan dari dari rasa sayangnya kepada adik. Nah, apa yang terjadi jika saya mencela anak saya? Apalagi kalau saya memelototi dan menghardiknya keras-keras, iktikad baik itu bisa berubah menjadi kemarahan sehingga anak justru mengembangkan permusuhan kepada adiknya. Ia bisa belajar membenci adiknya.

Apa yang saya ceritakan hanyalah sekedar contoh. Tidak jarang anak menampakkan perilaku "negatif", padahal ia tidak bermaksud demikian.

Suatu ketika, pulang dari play-group anak saya berkata, "Bapak kurang ajar." Setelah saya tanya maksudnya, ternyata dia tidak mengerti makna kurang ajar. Ia mengatakan, "Kurang ajar itu ya main-main, sembunyi-sembunyian."

Kita sangat mudah keliru menangkap maksud anak. Kita gampang terjebak dengan apa yang kita lihat. Karenanya kita perlu belajar untuk lebih terkendali dalam menilai anak. Jangan sampai terjadi anak punya maksud baik, tetapi justru kita cela dirinya sehingga justru mematikan inisiatif-insiatif positifnya. Bahkan andaikan ia memang melakukan tindakan yang negatif, dan ia tahu tindakannya kurang baik, yang kita perlukan adalah menunjukkan bahwa ia seharusnya bertindak positif. Kita luruskan perilakunya. Bukan mencela dirinya. Sibuk mencela anak membuat kita lupa untuk bertanya, "Kenapa anak saya berbuat demikian?" Di samping itu, celaan pada diri -dan bukan pada tindakan-bisa melemahkan citra diri, harga diri dan percaya diri anak. Pada gilirannya, anak memiliki motivasi yang rapuh. Na'udzubillahi min dzalik.

Sebagian kita merasa tidak merasa mencela anak, padahal ucapan kita menyudutkan anak. Misalnya, "Kamu kenapa tidak mau mendengar nasehat bapak? Heh? Kamu selalu saja ngeyel."

Pada ucapan ini, fokus kemarahan kita adalah anak sebagaimana kita tunjukkan dengan kata kamu. Bukan tindakannya yang salah.

Jangan Katakan "Jangan"
Barangkali tidak ada kata yang lebih sering diucapkan oleh orangtua pada anak melebihi kata "jangan". Kita menggunakan kata "jangan" begitu melihat anak melakukan tindakan yang kurang kita sukai. Kita juga menggunakan kata "jangan", bahkan di saat kita mengharap anak melakukan yang lain.

Padahal kata "jangan" tidak membuat mudah mengerti apa yang seharusnya dilakukan. Akibatnya, anak sulit memenuhi harapan orangtua, sementara orangtua bisa semakin jengkel karena merasa nasehatnya tidak didengar anak. Orangtua merasa anaknya suka ngeyel (kepala batu, orang Bugis bilang).

Lalu, apakah kita tidak boleh memberi larangan? Saya tidak dapat membayangkan betapa hancurnya sebuah dunia tanpa ada larangan sama sekali.

Begitu pun keluarga. Tetapi bercermin pada Nabi, jangan katakan "jangan" pada saat ia sedang melakukan kesalahan. Tunjukkanlah apa yang seharusnya dilakukan. Atau bersabarlah sampai ia menyelesaikan maksudnya, sebagaimana ketika seorang Badui di zaman Nabi kedapatan kencing di masjid. Kalau kita tidak mau anak bermain pasir di teras, katakanlah, "Nak, main pasirnya di teras saja, ya?" Singkat, padat, jelas dan positif. Bukan, "Ayo, jangan main pasir di teras. Saya pukul kamu nanti."

Kapan sebaiknya kita sampaikan larangan? Saat terbaik adalah ketika anak sedang akrab dengan orangtua. Dalam suasana netral, larangan yang kita berikan pada anak akan lebih efektif. Anak lebih mudah memahami. Mereka bisa menerimanya sebagai aturan. Bukan menganggapnya sebagai serangan kepada dirinya. Khusus mengenai bagaimana melarang anak, insya-Allah akan kita perbincangkan pada kesempatan lain.

Senin, Oktober 23, 2006

Melatih Anak Berkata Sopan

Adi dan Ilham sedang bermain bersama. Tiba-tiba seorang anak lain ikut nimbrung dan memicu pertengkaran. Lalu sekonyong-konyong kata-kata yang berkonotasi penghuni kebun binatang dan mengejek berlompatan keluar dari mulut mereka. Bu Irma segera tergopoh-gopoh menengahi pertengkaran anak asuhnya. Hal seperti ini bukan pertama kali terjadi di sekolah bu Irma. Taman bermain yang mencantumkan label Islam di depan namanya itu ternyata tidak menjamin anak didiknya akan selalu bertingkah-laku dan berkata sopan.

Demikian juga anak-anak kita. Terkadang para orang tua terkaget-kaget mendengar kata-kata baru yang tiba-tiba diucapkan anaknya. Para orang tua akan berpikir keras kira-kira dari mana anak mereka belajar kata-kata tersebut.

Kenyataannya, kita tidak bisa menciptakan lingkungan yang sempurna. Lingkungan yang steril dari kata-kata yang buruk, kasar, atau tidak sopan. Coba perhatikan, anak-anak bisa saja mendapatkan kata-kata barunya dari mana saja. Dari obrolan orang dewasa, dari anak-anak yang lebih tua, dari televisi dan dari teman-temannya.

Sebagai orang tua kita mengharapkan agar anak-anak belajar bersopan santun dalam berbicara. Secara umum gaya bicara anak diharapkan mengikuti gaya bicara yang baik dan sopan, walau bukan bahasa baku. Namun adakalanya juga anak berbicara dengan kata-kata yang kurang pas dengan situasi. Misalnya menggunakan kata elu dan gue kepada orang yang lebih tua. Jika hal ini terjadi di keluarga Betawi mungkin masih bisa diterima, tapi untuk keluarga lain, bisa dianggap kurang sopan.

Beberapa kata lain juga memiliki arti yang berbeda di berbagai tempat. Hal ini karena kekayaan bahasa daerah yang ada di Indonesia. Misalnya kata bujur dalam bahasa Banjar artinya benar, sedangkan bujur dalam bahasa Sunda artinya, (maaf) bokong.

Atau anak memang berbicara dengan menggunakan kata-kata yang benar-benar tidak bisa dikatakan sopan. Misalnya kata-kata yang berkonotasi porno, hinaan, ejekan, diskriminatif atau mengancam. Jika ini yang terjadi, kita sebagai orang tua sebaiknya:
- Dengarkan baik-baik kata apa yang diucapkan anak. Jangan buru-buru marah.

- Coba amati situasi dan kondisi pada saat itu, cari tahu mengapa anak berkata begitu. Ada beberapa kemungkinan, pertama anak memang berkata tidak sopan. Kedua, mungkin ada maksudnya anak berkata tidak sopan, tapi ia tidak berniat kurang ajar. Misalnya, "Si anu badannya bau...!" Ketiga, mungkin anak hanya sekedar mengucapkan kata tersebut tanpa mengerti artinya. Misalnya "Ibu suka pacaran sama ade bayi" Kemungkinan lainnya adalah anak sedang marah dan melampiaskan emosinya atau sedang mencari perhatian.

- Kemudian, pertimbangan usia anak. Anak usia balita biasanya mengucapkan kata-kata tertentu hanya untuk memancing reaksi dari orang dewasa. Ia belum memahami arti kata-kata tersebut. Sebagai contoh anak balita sering terbalik-balik menggunakan kata cantik dan ganteng, kiri dan kanan, atas dan bawah, dan lain-lain. Sehingga untuk anak seusia ini sebaiknya orang tua tidak menunjukkan sikap yang reaktif jika anak menggunakan kata-kata yang tidak sopan. Jika kita menunjukkan sikap reaktif, anak akan mengingatnya sebagai kata yang efektif untuk mendapatkan perhatian orang dewasa. Sehingga anak cenderung untuk menggunakan kata tersebut pada kesempatan lain.

Sekali lagi, simak baik-baik, kemudian amati apakah kira-kira anak memahami arti kata-kata tersebut. Kalau perlu tanyakan artinya kepada anak dengan sikap santai dengan ekspresi biasa. Misalnya, "Bang, Abang Ilham tahu enggak arti pacaran itu apa, sih?" Kalau si kecil menjawab tidak tahu atau artinya salah, jangan dianggap masalah besar. Katakan saja, "Jika Abang tidak tahu artinya enggak usah ngomong gitu lagi, ya?" Namun jika anak memahami arti kata-katanya, katakan dengan baik-baik agar tidak mengulanginya. Jelaskan bahwa kata tersebut tidak baik dipergunakan.

- Anak usia sekolah dasar biasanya juga memiliki perbendaharaan kata-kata yang lebih beragam. Di kelompok bermainnya terkadang juga berlaku kata-kata tertentu yang bisa digunakan sebagai bahasa pergaulan di kelompoknya. Ada yang memang tergolong kata-kata kotor atau tidak sopan. Ada juga yang sekedar bahasa slank, atau bahasa gaul. Bahasa gaul ini kadang-kadang mereka ciptakan sendiri. Misalnya blo'on menjadi o'on, atau bolot menjadi beot, dan lain-lain.
- Bahasa juga dipelajari dari keteladanan. Anak yang dibesarkan dalam lingkungan yang tidak memberikan teladan berbicara yang baik dan benar, akan dengan entengnya mengucapkan kata-kata apa pun yang didengarnya. Apalagi jika lingkungan itu justru menunjukkan reaksi positif jika anak mengucapkan kata-kata kotor. Misalnya, menyoraki dan menertawakan anak yang berkata-kata kotor. Anak akan merasa senang dan mendapat dukungan jika mengucapkan kata-kata kotor. Sehingga perlu sekali lingkungan yang bersih dari polusi kata-kata. Kalaupun misalnya ada pertengkaran, usahakan tidak terjadi di hadapan anak atau didengar anak. Repotnya pertengkaran ataupun contoh kata-kata yang tidak baik itu dengan mudahnya ditiru anak dari televisi. Kata-kata seperti brengsek, keparat, bajingan dan sejenisnya dengan entengnya berhamburan dari tayangan-tayangan televisi. Bahkan dari program yang maksudnya untuk konsumsi anak-anak, misalnya film kartun atau film anak-anak lainnya.
Seleksi tayangan televisi yang ketat perlu diberlakukan jika memang anak mengadopsi perbendaharaan kata-kata kotor dari televisi. Juga perlu dicermati lirik-lirik lagu yang biasa dinyanyikan anak-anak atau orang dewasa atau bahkan buku-buku bacaan. Terkadang ada kata-kata yang sebenarnya kurang pantas jika diucapkan anak.

- Anak-anak berbicara kotor di sekolah biasanya karena bawaan dari lingkungan keluarga. Sayangnya si anak juga menularkan kebiasaannya kepada teman-temannya di sekolah. Sehingga bagi para orang tua, sebaiknya juga mencermati gaya bicara anak yang didapat dari sekolah.

- Anak baru boleh dibilang bermasalah jika ia terbiasa menggunakan kata-kata tidak sopan untuk menghina, mengejek dan untuk tujuan negatif lainnya. Atau jika anak memang terbiasa melampiaskan emosinya dengan menggunakan kata-kata kotor. Karena anak yang melampiaskan secara eksplosif mungkin memendam kelainan psikologis. Misalnya karena akibat kekerasan dalam keluarga.
- Jika anak memang secara sadar dan sengaja menggunakan kata-kata yang tidak sopan, anak boleh dihukum dengan hukuman yang mendidik. Misalnya dengan puasa bicara kecuali bicara yang baik, atau denda

Jumat, Oktober 06, 2006

Melatih Anak Disiplin

Disiplin dalam keluarga sebenarnya adalah pendidikan. Mendisiplinkan anak tidak identik dengan menghukum atau mengatur, namun lebih pada mengajarkan dan mendidik anak untuk berperilaku dan menerapkan nilai-nilai moral.

Sebagai bagian dari pendidikan dalam disiplin, masalah keteladanan sangat penting. Anak akan meniru apa yang dilakukan orang tua. Disiplin yang efektif menghemat kata-kata dan energi. Tanpa teriakan, nada tinggi, pukulan dan cubitan.

Begitu pula sejak balita, anak-anak tidak akan mengerti jika hanya disodorkan peraturan. Tidak boleh ini-itu, harus begini-begitu. Maka yang terjadi bahwa peraturan tinggal peraturan. Tidak pernah dipatuhi. Kuncinya adalah dengan menunjukkan kepada anak bagaimana ia harus berperilaku. Memberi contoh nyata.

Beberapa hal yang perlu dilakukan orang tua adalah :
1. Memastikan bahwa perbuatan baik mendapatkan hadiah sedangkan perbuatan buruk tidak mendapat apa-apa.
Kedengarannya mudah dan biasa. Kita sering kali merasa malu dan terganggu ketika anak merengek-rengek meminta permen saat kita belanja. Dengan terpaksa kita mengabulkan permintaan anak. Padahal dari peristiwa ini anak belajar bahwa jika ia merengek pada saat berbelanja maka ia akan mendapatkan hadiah, sementara jika ia bertingkah manis ia tidak mendapat apa-apa. Begitu juga saat anak melakukan atau mengatakan sesuatu hal yang buruk. Para orang dewasa malah menjadikan anak sebagai pusat perhatian dan hiburan. Sehingga anak merasa bahwa jika ia melakukan hal yang sama maka ia akan merebut perhatian orang dewasa.

2. Berhemat dengan kata larangan
Jangan terlalu banyak menggunakan kata "tidak" dan "jangan". Berhematlah dengan kata "tidak" dan "jangan". Usahakan agar kata ini hanya digunakan untuk hal-hal yang penting, darurat, dan tidak boleh ditafsirkan lain. Pada dasarnya anak menyukai aktifitas. Anak-anak tidak suka dan tidak bisa diam. Anak akan merasa lebih tertantang dengan kalimat "Coba, Ibu ingin lihat, Umair bisa nggak memarkir sepeda di samping motor ayah?" dibandingkan dengan "Umair, jangan memarkir sepedamu sembarangan, dong!" Umair tidak suka dilarang melakukan sesuatu dan tidak mengerti maksud dengan "parkir sembarangan". Gunakan kata tidak dan jangan untuk misalnya, "Umair tidak boleh main pisau, ya!"

3. Jelas
Jangan memberikan aturan yang abstrak dan tidak dimengerti anak. Kalimat, "Jangan nakal!" terdengar sangat abstrak dan tidak ada artinya bagi anak. Begitu juga dengan, "Jangan bikin ibu marah, ya!" Sementara anak tidak tahu apa saja yang membuat ibunya marah. Tetapi katakan bahwa ibu ingin kalian hanya ingin bermain di halaman.

4. Selalu memberikan alasan yang baik dan masuk akal
Hindari pernyataan yang berisikan kata "pokoknya" kecuali hal-hal yang bersifat darurat. Untuk situasi darurat, penjelasan diberikan belakangan.
Penjelasan memberikan anak ruang untuk berpikir sendiri sehingga lain waktu anak dapat menerapkan hal yang sama dengan pengalaman yang lalu. Misalnya, "Umair, taruh kembali palu itu ditempatnya!" Maka Umair akan bertanya-tanya mengapa? Apakah palu itu kotor? Berbahaya? Mudah pecah? Atau apa? Jika kita menjelaskan bahwa palu itu milik tukang yang sedang memperbaiki jendela, maka anak lain kali akan melakukan hal yang sama (mengembalikan barang yang bukan miliknya).

5. Berikan kepercayaan kepada anak
Anak tidak akan tumbuh dan berkembang dengan baik jika terus-menerus diawasi dengan ketat. Ada saat-saat tertentu kita harus membiarkan anak berusaha mandiri. Misalnya, biarkan anak bergaul dengan lingkungannya tanpa kita terus-menerus mengingatkan ia untuk tidak lupa mengucapkan salam, terima kasih, maaf dan sebagainya. Biarkan anak berani menyapa bertamu sendirian, cukup awasi dari jauh. Tindakan ini akan memberikan ruang untuk menumbuhkan rasa percaya diri anak dan memberikan kesempatan agar anak bertanggung jawab terhadap segala tindakannya.

6. Konsisten dengan prinsip-prinsip kita
Jika kita menginginkan anak patuh pada aturan, maka kita harus konsisten juga untuk patuh pada peraturan. Sekecil apapun peraturan tersebut. Kita mengajarkan anak untuk membuang sampah pada tempatnya, maka di manapun kita berada, kita harus memberikan contoh dengan membuang sampah pada tempatnya. Begitu juga dengan kesepakatan antar orang tua. Jangan sekali-sekali menunjukkan kepada anak bahwa ayah ibunya bertengkar, terutama berdebat masalah disiplin. Jika ada perbedaan pendapat, ayah dan ibu harus menyelesaikannya di tempat yang tidak dilihat dan didengar anak, atau menunda perdebatan. Tunjukkan bahwa kita adalah orang tua yang kompak dan tidak ada yang lebih patut dipatuhi atau ditakuti. Sebab pada beberapa kasus dimana anak lebih takut pada figure ayah, sehingga jika ayah tidak ada mereka berani membangkang.

7. Memastikan bahwa apa yang diharapkan cukup masuk akal
Setiap anak memiliki kemampuan dan pemahaman yang berbeda, pada usia yang juga berbeda. Oleh karena itu, peraturan dan disiplin yang diterapkan pada anak harus disesuaikan dengan kemampuan dan usia anak. Anak usia batita mungkin belum dapat diberi peraturan membawa sendiri piring dan gelasnya ke dapur seusai makan. Tapi mereka cukup patut diberi penghargaan jika mau makan tanpa disuapi. Kondisi ini tentu tidak dapat diberlakukan kepada kakaknya yang sudah duduk di Taman Kanak-kanak atau Sekolah Dasar.

8. Berbicara kepada anak dengan cara yang baik, tidak dengan merendahkan harga diri anak, memaki atau berteriak.
Anak-anak mestinya memiliki perasaan yang halus. Makian, bentakkan dan kata-kata yang kurang mempertimbangkan harga diri anak akan mencederai hati mereka. Mereka dapat sangat sedih dan terluka. Peristiwa ini dapat membekas hingga mereka dewasa.
Dulu Rasulullah SAW pernah melarang seorang sahabat yang bersikap kasar kepada seorang anak yang mengencingi Rasulullah SAW karena beliau sangat memahami bahwa kerusakan yang diakibatkan sikap kasar tersebut akan membekas dan sulit untuk dihilangkan. Jauh lebih sulit daripada membersihkan najis pada baju beliau. Apalagi jika sejak kecil anak didera oleh cemooh dan celaan, maka anak akan tumbuh tanpa rasa percaya diri dan harga diri yang rendah.

9. Biarkan anak memikul konsekuensi dari perbuatannya
Ajari anak tentang konsekwensi dan tanggung jawab. Ketidakmampuan anak untuk memperbaiki keadaan bukanlah alasan meloloskan anak dari tanggung jawab. Misalnya Umair marah dan membuang gelas susunya ke lantai, maka biarkan Umair memikul konsekwensinya dengan menyuruhnya membersihkan tumpahan susu. Mungkin Umair belum dapat membersihkan lantai dengan benar namun paling tidak ia harus merasakan akibat dari perbuatannya. Setelah Umair mengerjakan sebisanya, barulah kita menyempurnakan pekerjaan Umair. Bukannya dengan mengambil alih pekerjaan membersihkan lantai sambil mengomeli Umair. Masalah ini juga perlu disosialisasikan kepada seluruh anggota keluarga, terutama para pembantu rumah tangga. Larang mereka untuk mengambil alih tugas dan sanksi yang dijatuhkan kepada anak-anak kita.

10. Penerapan konsekuensi harus dilakukan sesegera mungkin
Jika anak berbuat salah, penerapan konsekwensinya harus dilakukan sesegera mungkin dan tepat sasaran. Misalnya, Umair memukul temannya. Maka sesegera mungkin begitu Umair melakukannya kita harus langsung menegur dengan tegas. Sebutkan perbuatan yang kita tegur dan berikan hukumannya segera. Jika tidak, anak akan merasa bahwa yang dilakukannya boleh-boleh saja. Atau anak segera melupakan peristiwa itu, sehingga ketika sanksi dijatuhkan, anak malah bingung dan merasa diperlakukan tidak adil. "Kenapa aku dihukum, ya? Emangnya aku salah apa?"
Disiplin dimulai dari rumah sejak usia dini. Masalah-masalah sepele diatas ternyata dapat membentuk sifat kedisiplinan pada anak. Jadi, tergantung bagaimana kita memperlakukan mereka.

Sabtu, September 23, 2006

Saat Memanjakan, Saat Memarahi

Dalam banyak kesempatan, saya sering ditanya pernah memarahi anak atau tidak oleh kawan-kawan. Tentu saja saya menjawab bahwa saya pernah memarahi anak murid, bahkan mungkin sering.

Saat anak selalu berlaku manis, taat pada perintah dan nasihat-nasihat, serta tidak membuat kesalahan yang disengaja saya akan selalu berusaha baik padanya. Memberi pujian ketika anak berhasil melakukan suatu hal, walau sangat sederhana bagi kita orang dewasa, memberi semangat ketika anak merasa lemah, dan memberikan kehangatan ketika anak dalam keresahan.

Namun, bila anak melakukan suatu kesalahan berulang, berlaku nakal dan menentang nasehat, maka marahlah yang kuberikan. Karena kuingin, anakku dapat membedakan yang benar dan yang salah, membedakan mana yang boleh dan mana yang tidak. Bukan anak yang tahunya semua hal boleh dilakukan, tanpa ada larangan dan peraturan. Bukan pula anak yang selalu dituruti kemauannya, hingga menjelma menjadi anak yang manja.
Anak-anak harus kita perkenalkan kepada hal-hal yang baik dan yang tidak, hal yang boleh dilakukan dan tidak boleh dilakukan, sehingga mereka dapat membedakan mana yang benar dan mana yang salah.

Memarahi pada saat anak berbuat kesalahan, adalah merupakan suatu nasehat. Asal marah dilakukan dengan cara yang tepat, tidak membabi buta, dan tahu alasan kenapa harus marah.

Marah pada tempat yang memang seharusnya marah, dan dengan kadar kemarahan yang sesuai dengan tingkat kesalahan anak, sehingga anak tahu bahwa yang dilakukannya adalah sebuah kesalahan. Seperti ketika anak malas melakukan sholat, tidak mau melaksanakan perintah, tidak sopan kepada orang tua, dan berbuat tidak baik dengan kawan bermainnya.

Sebuah perlakuan yang tidak tepat bila kita melihat anak berlaku tidak baik, kita tetap memanggilnya dengan panggilan "anak sholeh", dan membiarkan tindakannya dengan alasan memberi kebebasan. Namun tak tepat pula bila setiap perilakunya kita salahkan, karena dilakukan secara tidak sempurna. Kita harus mampu berusaha untuk memiliki rasa empati kepada anak, agar kita mampu menghargai eksistensinya. Kita harus memeliki kesadaran penuh, bahwa anak-anak bukanlah orang dewasa, sehingga kita mampu memberikan pujian sekecil apapun kemampuannya melakukan sesuatu.

Pujian ketika anak berhasil melakukan suatu tindakan yang berguna, juga merupakan sebuah nasehat, asal pujian diberikan dengan tidak berlebihan. Kadang, dengan mengucapkan kata "anak mama pintar ya, Alhamdulillah", anak sudah merasa gembira. Atau sekedar menempelkan ibu jari tangan kanan kita ke pipinyapun, sudah menjadi penghargaan tersendiri. Hingga anak selalu memiliki semangat, untuk lebih banyak tahu dan berani mencoba melakukan segala sesuatu.

Di sebuah TK, ada seorang anak yang selalu berbuat onar dan tak pernah mau dinasehati. Setiap hari membuat salah seorang atau beberapa orang temannya menangis, dengan segala ulahnya. Ketika dinasehati dengan lemah lembut oleh ibu gurunya, anak tak mau terima, kenakalannya bertambah dan semakin menjadi-jadi.

Setelah diselidiki, dan ditanyakan bagaimana kebiasaan anak tersebut pada ibunya, ibunya memberitahukan kepada para guru, bahwa anaknya tidak pernah dimarahi. Bila anak melakukan sebuah kesalahan, justru ibunya yang meminta maaf kepada anaknya, karena ibunya merasa bahwa anaknya melakukan kesalahan karena dia salah memberi tahu.

Perlakuan si ibu memang tidak sepenuhnya salah, dengan menyadari bahwa anak melakukan kesalahan karena ibu salah memberi tahu. Namun dengan tidak memberitahu anak bahwa perbuatannya salah, akhirnya membuat anak merasa selalu benar, dan tidak tahu hal-hal yang salah, hingga diapun menginginkan kawan-kawan dan ibu guru di sekolahnya melakukan hal yang sama "minta maaf kepadanya" ketika dia melakukan kesalahan, seperti yang dilakukan ibunya.

Anak yang lain, dalam kondisi yang sebaliknya. Dia selalu murung, dan bahkan pada saat acara bernyanyipun dia tidak ceria seperti teman-temannya. Senang melamun, dan tak pernah selesai mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, seakan tak punya semangat apa-apa.

Setelah ditanyakan, tantenya bilang bahwa setiap hari anak ini dimarahi ibunya. Apapun yang dikerjakan anak, selalu dianggap salah dan ibunya selalu marah. Tak pernah rasanya, ibunya memberi pujian, menghargai hasil karya anaknya. Akhirnya, anak selalu murung dan kehilangan keceriaan. Merasa tidak ada artinya apa-apa dihadapan ibunya.
Dua kasus tersebut memberikan pengajaran kepada kita, bahwa tak pernah memarahi maupun memarahi terus anak-anak, bukanlah cara yang tepat. Jadi, ada saat memarahi, adapula saat memanjakannya, hingga anak-anak kenal yang haq dan yang bathil, kasih sayang dan perhatian.