Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Kamis, Oktober 16, 2008

Terima Kasih Kesalahan

Membaca judul di atas, dapat diperkirakan akan membuat kening anda berkerut selaras diikuti dengan pertanyaan, “Apa maksudnya penulis membuat judul demikian? Ya, judul di atas memang demikian. Tidak salah. Banyak peristiwa yang terjadi pada diri kita berasal dari kesalahan namun bisa membuat kita bahagia pada akhirnya.

Artinya, kesalahan bisa berubah menjadi kunci untuk meraih kesuksesan dan keberhasilan. Contohnya yang paling ramah dalam kehidupan kita, yaitu saat pertama kali belajar jalan. Nyaris tidak ada seorang pun manusia saat pertama kali berjalan tidak terjatuh dan tidak melakukan kesalahan. Karena kesalahan tersebut membuat ia terus berusaha untuk tidak salah, dan akhirnya dapat berjalan dengan baik.

Tapi, acapkali paradigma kita mengklaim bahwa salah selalu berkonotasi negatif dan layak mendapatkan hukuman. Alasannya, hanya karena kita selalu menilai secara langsung terhadap hasil yang dicapai dan berpegang pada sifat manusia yang ingin sempurna. Padahal, sejarah membuktikan bahwa manusia ada di bumi ini juga disebabkan kesalahan.

Benar, kisah nabi Adam dan buah khuldi adalah sejarahnya. Hanya gara-gara terbujuk rayun iblis untuk memakan buah khuldi, membuat Nabi Adam dan Siti Hawa terusir dari surga. Ini kesalahan, bukan? Tapi, kesalahan inilah yang menyebabkan nabi Adam berusaha memohon ampunan Allah. Skenario Allah pun menunjukkan bahwa Allah Maha Pengampun dan Adam as. berhasil meraih “kesuksesan” ampunan Allah setelah melakukan kesalahan dan terus bertobat.

Jadi, tidak benar bahwa salah itu selalu berkonatasi negatif dan seakan-akan tidak dapat berubah. Bukankah memang kodrat manusia menjadi tempat salah dan lupa (mahalul khata’ wa nisyan)?

Memahami Defenisi Salah

Andaikan belum bisa merubah paradigma bahwa salah tidak statis berkonotasi negatif. Alangkah baiknya jika segera memahami defenisi salah. Menurut Daryanto S.S, salah adalah lawan dari benar (1997). Jadi, salah bukan berarti tidak dapat berubah menjadi benar. Salah bisa berubah menjadi benar, jika terus berusaha merubahnya diiringi dengan mangasah kemampuan untuk bisa menjadi benar.Andaikan salah tetap dinilai dengan konotasi negatif dan tidak dapat ‘disulap’ menjadi benar, akan lahir sifat hipokrit dimuka bumi ini.

Yaitu, sifat bermuka dua: sering melakukan kesalahan sembunyi-sembunyi dan tidak mau mengakuinya di depan publik. Inikan sangat berbahaya, bukan?

Sekali lagi, kesalahan dapat ‘disulap’ menjadi kesuksesan atau keberhasilan. Bahkan begitu banyak bukti sejarah menjelaskannya. Misalnya saja kesalahan Gutenberg, penemu mesin cetak. Andaikan Gutenberg tidak melakukan kesalahan saat itu, mungkin saat ini kita akan cukup kelelahan jika ingin membuat selebaran atau mencetak buku.

Pada mulanya, orang-orang mencetak lembaran tulisan dengan diukir pada sebuah papan kayu. Yaitu, huruf-huruf diukir dengan terbalik, lalu diolesi tinta. Setelah tinta rata pada permukaannya, papan itu ditekankan pada lembaran-lembaran kertas. Suatu ketika, Gutenberg mengukir sebuah balok kayu dengan serius. Ia hanya perlu mengukirkan beberapa huruf lagi sebelum menyelesaikan ukiran untuk satu halaman. Ternyata, ada satu huruf yang salah. Ghalibnya, kesalahan satu huruf mengharuskan untuk mengulang ukiran dari awal pada sebuah kayu yang baru.

Tapi, Gutenberg mencoba berpikir untuk mencari jalan lain yang mungkin lebih ringan. Ia mencoba mencungkil huruf yang salah dan menggantikannya dengan huruf yang benar, yang ia buat pada sebuah keping kayu kecil. Gara-gara keping kayu kecil itu ia akhirnya mempunyai ide untuk membuat lembaran tulisan tidak perlu lagi mengukir tulisan pada balok kayu baru, tapi ia tinggal menggabungkan keping-keping huruf dan mencopotnya kembali ketika selesai mencetak. Dengan kemajuan jaman, akhirnya berubah dari keping kayu menjadi keping logam, hingga akhirnya tercipta mesin linotype.

Langkah “Menyulap” KesalahanLantas, langkah apa saja yang harus dilakukan setelah kita melakukan kesalahan? Hanya tiga langkah yang segara kita lakukan agar dapat menulap kesalahan dan segera mendapatkan kesuksesan.

Pertama, Akui kesalahan. Mengakui kesalahan merupakan bukti bahwa ada potensi untuk tidak melakukan lagi. Potensi ini cukup prima untuk mengarahkan diri menjadi manusia sukses. Lihat Thomas Alfa Edison, 1.500 kali ia melakukan kesalahan hingga akhirnya menemukan bola lampu. Dengan berkali-kali salah, ia memiliki potensi untuk tidak salah ditempat yang sama dan selalu menjadikan tempat kesalahan itu sebagai jembatan untuk menemukan bahan yang pas untuk menghasilkan sebuah lampu.

Kedua, maafkan kesalahan. Artinya, jika kesalahan terjadi, segara memaafkan. Tidak perlu menjadi rakyat Jepang, saat salah langsung menghukum diri dengan menghilangkan nyawa. Allah saja Maha Pemaaf, kenapa kita tidak? Perhatikan kembali bagaimana Nabi Adam As diberi kemaafan oleh Allah akibat kesalahannya.

Setelah itu, tidak sedikit pun Nabi Adam melakukan kesalahan. Karena Ia tahu bahwa kesalahan yang lalu telah membuat dirinya tersiksa. Dan setelah mendapatkan ‘kesuksesan’ maaf ia tidak menyalahkan dirinya terus menerus tapi semangat untuk terus menjaga dirinya untuk tidak salah lagi. Dengan kata lain, nabi Adam as. juga memaafkan dirinya sendiri.Ketiga, install ulang diri kita. Meminjam istilah Rheinal Kasali dalam bukunya yang berjudul ”Change”, “Sejauh apapun kamu melangkah, berbaliklah!”. Menarik, bukan! Hidup ini bukan seperti main catur. Setelah melangkah tidak boleh mengulanginya lagi. Dalam hidup ini cukup banyak fasilitas yang bisa membuat hidup dapat bahagia dan sukses. Cari dan install diri untuk mendapatkan fasilitas itu.Masih segar dalam ingatan kita petinju yang bernama Muhammad Ali.

Sebelum Islam, ia terkenal sebagai orang yang arogan. Setiap kali dapat menumbangkan lawannya, ia selalu berteriak, “Akulah yang Agung!” Ia selalu menjelma menjadi manusia angkuh. Setelah masuk Islam, ia berubah 180 derejat. Ia segera menginstall dirinya dengan ‘program-program’ yang ada dalam Islam. Ia rubah sikap arogannya menjadi sikap rendah hati. Ia selalu abdikan dirinya untuk kesejahteraan manusia. Ia sumbangkan kekayaannya untuk membantu orang-orang yang menderita.

Karena itu, ayo kembali semangat hidup. Jangan terus menyesali kesalahan yang terjadi dan jangan nilai salah dengan paradigma yang semu. Salah bisa ‘disulap’ menjadi kesuksesan. Kesalahan bukan ditempat yang sama bukanlah kegagalan, tapi hanya langkah untuk meraih ‘bahan’ kesuksesan. Don’t judge the book from its cover.

Dipublikasikan disini

Selasa, September 30, 2008

Agar Kita Mulia?

Ramadhan bulan mulia, bulan pilihan. Kita semua tahu itu. Ramadhan bulan dibukakan selebar-lebarnya pintu surga, dan sebaliknya, ditutup serapat-rapatnya pintu neraka. Di bulan ini, kebaikan dilipatgandakan sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah juga menebarkan kesempatan bagi siapapun untuk meraih malam termulia, yang setara dengan ibadah selama 84 tahun, ialah Lailatul Qadr.

Sebegitu istimewanya Ramadhan, hingga di masjid perkotaan hingga pelosok menggelar aneka ragam acara. Tergiur dengan apa yang dikatakan Rasulullah SAW : “Siapa yang menyambut kedatangan bulan Ramadhan, diharamkannyalah ia disentuh api neraka”, menyebabkan banyak diantara kita terjebak dengan inti “penyambutan”.

Dengan berduyun-duyun, di akhir sya’ban, kita kebanyakan menyempatkan diri untuk meminta maaf dan memberikan maaf. Yang kita tahu, tujuan kita melakukan itu agar di saat Ramadhan datang, kita benar-benar terbebas dari kesalahan interpersonal atau dosa-dosa hablumminannaas. Dengan begitu, kita sudah dianggap bersih.

Dalam mitos jawa kuno, pula berbondong-bondong masyarakat melakukan padusan, mandi bersama untuk melebur dosa, katanya. Juga menyiapkan kue apem untuk dibagi-bagikan ketetangga dan sanak saudara, untuk kemuliaan dan keberkahan Ramadhan.

Setiap masjid ditata rapi. Bahkan masjid yang berukuran agak kecil memasang tenda, khusus bulan Ramadhan. Rapat-rapat pengurus masjid hingga remaja masjid silih berganti, untuk mensukseskan acara Ramadhan. Lemari masjid yang berisi al-Qur’an dibersihkan dari debu-debu yang menempel di cover Qur’an. Dan dipampanglah spanduk “Isilah siang dan malam Ramadhan kita dengan ibadah, siapa tahu Ramadhan ini kesempatan terakhir bagi kita”.

Spanduk itu cukup menohok kita. Dan tidak ada argument untuk melawan isi spanduk, karena kita memang benar-benar tak pernah tahu kapan mangkat dari dunia menuju alam kubur. Tapi spanduk tetaplah spanduk. Si pembuat spanduk pun belum tentu tersinggung dengan isinya.

Malam pertama Ramadhan, sesak. Suara “aammiin” dari jama’ah menggema. Yang tidak pernah kita lihat aktif ke masjid selama ini, di malam itu ada. Dan ternyata beliau tetangga kita juga. Pulang tarawih banyak yang bingung mencari sandalnya sendiri. Ada yang tertukar, pindah tempat, bahkan hilang, karena halaman masjid tak mampu memuat sandal jama’ah yang sebegitu banyak. Kotak infaq terisi tak biasanya. Pengurus masjid setelah itu berharap “kalau begini terus, masjid kita bisa beli karpet bagus sekaligus AC”.

Suara tadarus al-Qur’an dari corong pengeras suara yang terpasang di menara masjid mengisi indra dengar kita sepanjang malam Ramadhan. Dan stasiun TV-pun berlomba-lomba menarik mata warga dengan mata acara religius.

Dipelbagai tempat dan paguyuban, social, politik, ataukah organisasi dadakan, digelar acara buka bersama. Bagi yang punya tokoh tertentu, disertai santunan amplop beserta isinya. Tak tanggung-tanggung seorang pengusaha-pun mengundang ribuan orang untuk menerima jatah Rp. 30.000 dan bingkisan lebaran.

Hari kian berganti. Malam Ramadhan kian kemari kian sepi. Ditempat wudhu jarang terlihat antri. Tarawih tak sepenuh kemarin, makin ada kemajuan shaf. Tercetuslah apologi seragam “Tarawih kan sunnah, nanti juga bisa dirumah, sekalian menunggu waktu sahur. Lagian kan lebih khusyu’ kalau sendiri”. Dan celakanya, si pembuat pernyataan selalu kesiangan.

Disepuluh malam terakhir. Di mall dan pasar-lah motor kita parkir. Kita pilah baju untuk shalat ‘id, baju taqwa yang paling ngetrend saat ini, yang banyak dipakai ustadz di TV, atau jilbab yang makin modis, yang agak lebar tapi tak ketinggalan jaman.

I’tikaf dimasjid hanya terjadi dimalam hari, itupun akhirnya bincang-bincang masalah pribadi sampai pagi. Meskipun kantor sudah libur saat itu, tetap saja siangnya pulang, karena selama di masjid tak tidur. Saat Ramadhan makin mendekati detik akhir, inbox HP kita dikirimi sms “Hidup itu cuma sbentar. Sbentar happy, sbentar sedih. Sbentar marah, sbentar ketawa. Sbentar berantem, sbentar damai. Oiya, sbentar lagi lebaran, siap-siap sambut hari kemenangan ya!”

Ah, kemenangan, jauh sekali rasanya kita meraih predikat itu saat Ramadhan usai. Tiap bulan mulia itu datang, target-target meleset. Target full tarawih berjama’ah. Target full qiyamullail sebelum sahur. Target khatam 10 hari sekali. Target hafal 5 ayat pilihan sehari. Target full I’tikaf. Dan target lain.

Ramadhan kita dari tahun ke tahun sama saja. Tarhib Ramadhan, Tarawih, buka bersama, tilawah, sadaqah, I’tikaf. Semua kita jalani dengan cita rasa yang sama seperti bulan lain, tidak ada sesuatu apapun yang membekas dari Ramadhan. (Seakan-akan) kita sudah menganggap Ramadhan itu satu bulan yang ada di satu tahun, yang didalamnya banyak kemuliaan. Dan kita terpaku dengan status mulia itu tanpa berfikir bagaimana cara agar mempertahankan kemuliaan setelah Ramadhan berpulang.

Selamat jalan Ramadhan, maafkan aku tak menjamu dengan baik pada tahun ini. Aku selalu harap, tahun depan kita bertemu lagi.

Rabu, Juli 02, 2008

Waktu Layaknya Pedang

Zaman semakin modern, banyak orang merasa sangat sibuk. Baginya, waktu adalah uang. Kontras dengan itu, tidak sedikit pula manusia yang menghambur-hamburkan waktunya. Mereka memiliki motto: “Waktu muda hura-hura, waktu tua kaya raya, kalau mati masuk surga”. Namun pandangan mereka mungkin akan berubah kalau saja mereka bisa meresapi makna sebuah sya’ir Arab yang menggambarkan karakter sang waktu: Al-Waqt ka al-saif. Fa in lam taqtha’haa qath’aka (Waktu laksana pedang, jika kamu tidak memanfaatkannya maka ia akan menebasmu).

Waktu adalah salah satu dimensi dalam hidup manusia. Karakternya, waktu senantiasa berpacu secara cepat, tanpa terasa, dan tiba-tiba menghujam. Tidaklah heran mengapa masyarakat Arab mengkiaskan cepatnya waktu dengan kilatan pedang menyambar. Agar dapat meresapi cara mengatur waktu yang baik agaknya kita perlu belajar dari seorang ksatria mengenai teknik memainkan sebilah pedang. Saya teringat kisah kepiawaian sahabat nabi, Khalid bin Walid dalam bermain pedang. Begitu piawainya ia sampai-sampai dijuluki Saifullah (pedang Allah).

Suatu saat Khalid memimpin pasukan Islam bertempur sengit di Yarmuk (wilayah perbatasan dengan Syria) melawan pasukan Romawi di bawah panglima Gregorius Theodore. Berkat kepandaiannya bermain pedang, banyak pasukan musuh terbunuh. Lalu terjadilah sebuah peristiwa yang mengesankan.

Gregorius ingin menghindari jatuhnya banyak korban di pihaknya dengan menantang Khalid untuk berduel. Dalam pertempuran dua orang itu, tombak Gregorius patah terkena sabetan pedang Khalid. Gregorius lalu mengambil sebilah pedang besar. Ketika berancang-ancang perang lagi, Gregorius bertanya pada Khalid tentang motivasinya berperang dan kaitannya dengan Islam. Terkesan oleh jawaban Khalid, di hadapan ratusan ribu pasukan Romawi dan Muslim, Gregorius akhirnya menyatakan diri masuk Islam. Ia lalu belajar Islam sekilas, sempat menunaikan salat dua rakaat, bertempur di samping Khalid dan akhirnya mati syahid di tangan mantan pasukannya sendiri.

Apa rahasia kesuksesan Khalid? Ternyata kepandaiannya mengibaskan pedang dilandasi dengan iman kepada Allah SWT. Akibatnya lawan yang berhasil ditebasnya hanya musuh-musuh Islam. Sama halnya dengan waktu, berbagai aktivitas untuk mengisinya perlu juga didasari dengan iman yang kuat sehingga menjadi amal shaleh. Sebuah pelajaran yang menarik, bahwa berbuat baik saja ternyata tidak cukup tanpa dilandasi dengan iman dan sesuai dengan syariat-Nya.

Allah SWT pun sering mengingatkan manusia dalam berbagai firman-Nya mengenai pentingnya kedua kunci manajemen waktu tersebut. Bahkan dalam QS. Al-Ashr, Dia menambahkan dua kriteria lagi untuk menghindari kerugian yaitu saling nasehat-menasehati dalam kebaikan dan ajak-mengajak dalam kesabaran.Manusia yang bisa memanfaatkan karunia waktu secara fitrah akan mencapai kesuksesan seperti Khalid bin Walid. Namun jika manusia lengah barang sedetik pun, pedang lawan bisa menghunusnya dan berakhir dengan penyesalan.
Sikap seorang Muslim terhadap waktu dapat diibaratkan dengan sikap seorang ksatria terhadap pedang andalannya. Semakin sering berlatih dan bertempur, maka ia akan semakin berpengalaman dan semakin berkualitas permainannya, akhirnya semakin sulit dikalahkan. Namun demikian menjadi ksatria andalan tidak menjadikannya terlena, lengah, sombong, dan mengurangi latihan. Justru sebaliknya, ia makin meningkatkan kewaspadaan dan tekun berlatih di waktu senggang agar selalu tangguh. Ia tidak segan-segan mengevaluasi dirinya agar kualitas permainannya terus teruji.

Seorang ksatria yang berilmu padi justru mempergunakan kepiawaiannya sesuai dengan porsi yang dibutuhkan, mengikuti aturan yang digariskan-Nya untuk membela Diennullah. Itu semua ia lakukan karena sangat paham bahwa kepandaiannya akan dimintai pertanggung-jawaban oleh Yang Maha Kuasa di akhirat kelak.Sabda Rasulullah saw. yang diriwayatkan Mu’adz bin Jabal, “Tidak akan tergelincir (binasa) kedua kaki seorang hamba di hari kiamat, hingga ditanyakan kepadanya 4 perkara, usianya untuk apa ia habiskan, masa mudanya bagaimana ia pergunakan, hartanya dari mana ia dapatkan dan pada siapa ia keluarkan, ilmunya dan apa-apa yang ia perbuat dengannya.” (HR. Bazzar dan Thabrani).
Demikianlah, seorang muslim harus menyatukan sang waktu ke dalam jiwanya yang beriman sebagaimana pedang Khalid bin Walid yang berpadu dengan kemahirannya. Bukankah motto hidup seorang muslim seharusnya adalah “Hayatuna kulluha ‘ibadah.” (Hidup seluruhnya untuk ibadah).

Jumat, Juni 13, 2008

Obat Hidup dari Sang Guru

Seorang pria mendatangi seorang Guru. Katanya, “Guru, saya sudah bosan hidup. Benar-benar jenuh. Rumah tangga saya berantakan. Usaha saya kacau Apapun yang saya lakukan selalu gagal. Saya ingin mati.” Sang Guru tersenyum, “Oh, kamu sakit.”

“Tidak Guru, saya tidak sakit. Saya sehat. Hanya jenuh dengan kehidupan.Itu sebabnya saya ingin mati.” Seolah-olah tidak mendengar pembelaannya, sang Guru meneruskan,
“Kamu sakit. Dan penyakitmu itu bernama, ‘Alergi Hidup’. Ya, kamu alergi terhadapkehidupan.”

Banyak sekali di antara kita yang alergi terhadap kehidupan. Kemudian, tanpa disadari kita melakukan hal-hal yang bertentangan dengan norma kehidupan Hidup ini berjalan terus. Sungai kehidupan ini mengalir terus, tetapi kita menginginkan keadaan status-quo. Kita berhenti di tempat, kita tidak ikut mengalir. Itu sebabnya kita jatuh sakit. Kita mengundang penyakit.Penolakan kita untuk ikut mengalir bersama kehidupan membuat kita sakit.

Usaha, pasti ada pasang-surutnya. Dalam berumah-tangga, pertengkaran kecil itu memang wajar. Persahabatan pun tidak selalu langgeng. Apa sih yang abadi dalam hidup ini? Kita tidak menyadari sifat kehidupan. Kita ingin mempertahankan suatu keadaan. Kemudian kita gagal, kecewa dan menderita.

“Penyakitmu itu bisa disembuhkan, asal kamu benar-benar bertekad ingin sembuh dan bersedia mengikuti petunjukku.” kata sang Guru.
“Tidak Guru, tidak. Saya sudah betul-betul jenuh. Tidak, saya tidak ingin hidup.” Pria itu menolak tawaran sang Guru.
“Jadi kamu tidak ingin sembuh. Kamu betul-betul ingin mati?”
“Ya, memang saya sudah bosan hidup.”
“Baiklah. Kalau begitu besok sore kamu akan mati. Ambillah botol obat ini. Malam nanti, minumlah separuh isi botol ini. Sedangkan separuh sisasnya kau minum besok sore jam enam. Maka esok jam delapan malam kau akan mati dengan tenang.”

Kini, giliran pria itu menjadi bingung. Sebelumnya, semua Guru yang ia datangi selalu berupaya untuk memberikan semangat hidup. Namun, Guru yang satu ini aneh. Alih-alih memberi semangat hidup, malah menawarkan racun. Tetapi, karena ia memang sudah betul-betul jenuh, ia menerimanya dengan senang hati.

Setibanya di rumah, ia langsung menghabiskan setengah botol racun yang disebut “obat” oleh sang Guru tadi. Lalu, ia merasakan ketenangan yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya. Begitu rileks, begitu santai! Tinggal 1 malam, 1 hari, dan ia akan mati. Ia akan terbebaskan dari segala macam masalah.

Malam itu, ia memutuskan untuk makan malam bersama keluarga di restoran Jepang. Sesuatu yang tidak pernah ia lakukan selama beberapa tahun terakhir. Ini adalah malam terakhirnya. Ia ingin meninggalkan kenangan manis.

Sambil makan, ia bersenda gurau. Suasananya amat harmonis. Sebelum tidur, ia mencium bibir istrinya dan berbisik, “Sayang, aku mencintaimu.” Sekali lagi, karena malam itu adalah malam terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Esoknya, sehabis bangun tidur, ia membuka jendela kamar dan melihat keluar. Tiupan angin pagi menyegarkan tubuhnya. Dan ia tergoda untuk melakukan jalan pagi. Setengah jam kemudian ia kembali ke rumah, ia menemukan istrinya masih tertidur. Tanpa membangunkannya, ia masuk dapur dan membuat 2 cangkir kopi. Satu untuk dirinya, satu lagi untuk istrinya. Karena pagi itu adalah pagi terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis!

Sang istripun merasa aneh sekali, “Sayang, apa yang terjadi hari ini? Selama ini, mungkin aku salah. Maafkan aku, sayang.”

Di kantor, ia menyapa setiap orang, bersalaman dengan setiap orang. Stafnya pun bingung, “Hari ini, Bos kita kok aneh ya?” Dan sikap mereka pun langsung berubah. Mereka pun menjadi lembut. Karena siang itu adalah siang terakhir, ia ingin meninggalkan kenangan manis! Tiba-tiba, segala sesuatu disekitarnya berubah. Ia menjadi ramah dan lebih toleran, bahkan menghargai terhadap pendapat-pendapat yang berbeda.

Tiba-tiba hidup menjadi indah. Ia mulai menikmatinya. Pulang ke rumah jam 5 sore, ia menemukan istri tercinta menungguinya di beranda depan. Kali ini justru sang istri yang memberikan ciuman kepadanya, “Sayang, sekali lagi aku minta maaf, kalau selama ini aku selalu merepotkan kamu.” Anak-anak pun tidak ingin tinggalan, “Ayah, maafkan kami semua. Selama ini, ayah selalu tertekan karena perilaku kami.”

Tiba-tiba, sungai kehidupannya mengalir kembali. Tiba-tiba, hidup menjadi sangat indah. Ia mengurungkan niatnya untuk bunuh diri. Tetapi bagaimana dengan setengah botol yang sudah ia minum, sore sebelumnya?

Ia mendatangi sang Guru lagi. Melihat wajah pria itu, rupanya sang Guru langsung mengetahui apa yang telah terjadi, “Buang saja botol itu. Isinya air biasa. Kau sudah sembuh. Apabila kau hidup dalam kekinian, apabila kau hidup dengan kesadaran bahwa maut dapat menjemputmu kapan saja, maka kau akan menikmati setiap detik kehidupan. Leburkan egomu, keangkuhanmu, kesombonganmu. Jadilah lembut, selembut air. Dan mengalirlah bersama sungai kehidupan. Kau tidak akan jenuh, tidak akan bosan. Kau akan merasa hidup. Itulah rahasia kehidupan. Itulah kunci kebahagiaan. Itulah jalan menuju ketenangan.”Pria itu mengucapkan terima kasih dan menyalami Sang Guru, lalu pulang ke rumah, untuk mengulangi pengalaman malam sebelumnya. Konon, ia masih mengalir terus. Ia tidak pernah lupa hidup dalam kekinian. Itulah sebabnya, ia selalu bahagia, selalu tenang, selalu HIDUP!

Selasa, Mei 27, 2008

Sekali Lagi Tentang Sabar

Ketika kita naik mobil angkutan umum di tengah kemacetan lalu lintas, maka kita dituntut untuk bersabar. Kita tak boleh mencaci si sopir, apalagi membentak-bentak. Ketika kita berdesak-desakkan di kereta api kita juga dituntut sabar. Pada saat itu kita tidak boleh marah, kendati mungkin kaki kita terinjak.

Demikian pula di saat negeri ini dibanjiri air yang melimpah kita pun harus sabar. Karena sumpah serapah yang kita arahkan kepada penguasa pun tak akan mengurangi volume banjir yang merendam hampir 30% wilayah Indonesia. Nah, dari air itulah kita tahu bahwa kehidupan dan kematian itu berasal dari air. Jadi sabar memang tak ada batasnya, sebagaimana iman itu sendiri.

Pantaslah jika dalam sebuah kesempatan Nabi Muhammad SAW berpesan kepada kita untuk selalu bersabar (tabah dan ikhlas menerima kenyataan/taqdir). Bahkan beliau mengatakan,”Sebagian dari iman adalah sabar”. Rasulullah yang mulia sendiri, setiap ditimpa musibah apa saja, tak pernah mengeluh apalagi sampai menyalah-nyalahkan orang lain. Entah itu pemerintah, tetangga, atau orang lain. Anehnya, kita tak pernah menyalahkan diri kita. Padahal, jangan-jangan kesalahan negeri ini juga karena kesalahan kita yang tanpa sadar kita turut menyumbangnya.

Kenapa kita diperintah untuk bersabar oleh Allah? Inilah terapi psikologis canggih yang diberikan Allah kepada kita. Melalui sikap inilah kita disadarkan bahwa manusia itu tak mampu mengelola hidupnya secara pasti. Dialah Allah yang mengurus segala urusan kita.

Itulah makna kita membaca Alhamdulillahi Rabbil ‘alamien. Artinya, bahwa yang mengatur segala urusan kita itu adalah Dia. Dengan demikian, bersama sabar kita menghadapi gejolak hidup itu dengan tenang, rileks.

Untuk menjadi seorang penyabar tidak mudah, memang. Tapi Allah melalui ayat-ayat-Nya, baik yang kauni maupun qauli mengajak kita untuk menjadi ash-shabirin (kelompok orang-orang yang sabar). Lihatlah betapa sabarnya seekor unta yang berjalan di padang pasir sembari membawa beban berat di punuknya.

Simak juga kesabaran kerbau atau sapi ketika dengan tekunnya membajak lahan-lahan persawahan. Padahal kalau Allah mau, binatang-binatang itu menolak diperlakukan seperti itu oleh tuan-tuannya.

Kita ingat kisah tentang robohnya kuda Suraqah bin Naufal saat mengejar-ngejar Nabi untuk dibunuh. Kita ingat tenggelamnya Fir’aun bersama serdadunya di laut Merah ketika mengejar-ngejar Nabi Musa dan pengikutnya. Dan kita juga ingat selamatnya nabi Yunus dari telanan ikan hiu. Kalau saja Allah mau, tentu Nabi Muhammad SAW sudah dibunuh Suraqah, Musa sudah dipenggal oleh algojo-algojo Fir’aun dan Yunus tidak dikeluarkan lagi dari perut ikan buas itu.

Maka sangat wajar bila Allah mengabadikan mereka dalam al-Qur’an sebagai al-shabirien dan al-shadiqien, yakni orang-orang yang membenarkan ayat-ayat-Nya. Kuncinya apa? Mereka sabar dalam menjalani hidup ini, tanpa berharap materi di dunia.Para kekasih Allah itu meneladani sifat Rabb mereka, Al-Shabur, salah satu al-Asma al-Husna yang Allah miliki. Saudara-saudaraku yang dirundung derita, dan mereka yang sedang ditimpa nestapa : Bersabarlah, karena Allah bersama orang-orang yang sabar.

Senin, April 21, 2008

Seperti Jum'at Kemarin

Jum’at jelang siang. Semua karyawan berkesiap menuju masjid. Mau apa lagi kalau bukan untuk sholat jum’at. Meskipun ada diantara kami yang sholatnya memang seminggu sekali, ya sholat Jum’at.

Seusai wudhu, perlahan kupilih dimana seharusnya aku duduk. Terlihat dari tempat kuberpijak shaf yang kurang rapat di depan. Tempat itulah yang kupilih. Tadinya sih ingin dishaf pertama, tapi kumenyadari kalau aku tak memakai peci.

Selain itu, shaf pertama tidak dekat jendela, pastinya keringatku tak bisa ditolerir kedatangannya. Selain itu pula, kata banyak orang, yang dishaf depan harus yang berpakaian rapi, berpeci dan sudah naik haji. Entahlah, aku tak pernah mengorek-ngorek latar belakang aturan ini.

Disamping kananku duduk seorang lelaki tua, kacamatanya tebal sekali, berpakaian serba putih, kepalanya dibalut sorban kombinasi merah putih, jemari kanannya memilah biji tasbih, seraya menggerakkan bibirnya. Disamping kiriku jendela, sejuk sekali jika angin mampir dengan semilir.

MC naik keatas podium, memberikan pengumuman seadanya. Setelahnya sang khotib yang bertitel Kiyai Haji naik kesana. Adzan berkumandang, semua terdiam. Ada pula yang memandang sang mu’adzin yang bersuara indah itu.

Sang khotib membuka khutbahnya dengan suara datar. Tak sesuai dengan pakaiannya yang terkesan tegas. Padahal, sebagaimana yang pernah kubaca dalam sebuah hadits, Rasulullah memberikan khutbah dengan wajah marah dan suara tinggi.

Baru saja khatib sampai pada kalimat Ittaqullah, aku menguap. Kantuk menyergap. Kulirik sekitarku diam-diam. Sepertinya banyak kepala tertunduk, hampir semua. Perlahan kepalaku menunduk, seperti daun putri malu terkena sentuhan. Samar-samar suara khatib yang datar itu. Dan tidak kutahu apa yang sedang dibahasnya.

Seperti jum’at yang lalu, jum’at kali ini-pun begitu. Belum selesai khatib membuka khutbahnya, aku sudah terlelap. Dan kembali terbangun ketika khatib berwasiat Ibaadallah, innallaaha ya’murukum bil ‘adli wal ihsan.
Satu diantara keutamaan hari Jum’at ialah karena hari itu merupakan Rajanya Hari. Pendahulu kita, Adam dan Hawa mendapatkan ampunan dihari itu, setelah 40 tahun sebelumnya melanggar aturan Allah SWT, yakni mengkonsumsi khuldi. Sehingga Rasulullah saw bersaksi atas kemuliaan Jum’at “Sesunnguhnya Allah menghapus dosa dari jum’at ke jum’at”. Potongan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari.

Dengan kita terlelap saat khutbah saja, kita termasuk orang yang diampuni Allah. Apalagi kalau kita menyimak khutbah tentu pahala lebih berlipat, ilmu pun kita dapat. Jadilah kita pulang sholat Jum’at dengan membawa manfaat. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al-Jumu’ah (62) ayat 10-11)

Minggu, Februari 10, 2008

Karena Menolong Karena

Delapan belas tahun lalu, pertama kalinya saya mendengarkan satu ayat al-Qur’an tentang perintah Islam untuk tolong menolong. Penyampainya Ibu Mulyani, guru agama SD kami. Sayangnya beliau saat itu tak menjelaskan secara detail bagaimana membedakan tolong menolong secara baik dan buruk, sehingga kami sering menganggap memberi contekan untuk teman adalah termasuk didalamnya.

Pertanyaan sederhana itu baru terjawab kemarin, ketika bertemu dengan sahabat lama, Akmal namanya. Menolonglah karena menolong itu kebaikan. Begitu katanya. Dalam menolong, kita tak perlu memikirkan sebab akibat dari pertolongan kita. Tentu menolong yang dimaksud ialah ‘alal birri wat taqwa, dalam kebaikan dan taqwa.

Akmal menyisipkan sebuah kisah di masa Rasulullah SAW untuk meyakinkan saya. Baginda Rasul pernah kedatangan tamu yang mengaku tengah kelaparan, padahal Rasul-pun dalam kondisi tak mempunyai sedikitpun makanan untuk si Fulan. Baginda kemudian bertanya kepada para sahabat, “Siapa di antara kamu yang sanggup melayani orang ini sebagai tamu pada malam ini?”

Seorang dari kaum Anshar mengajukan diri “Wahai Rasulullah, saya sanggup”. Orang Ansar itu pun membawa si Fulan ke rumahnya. Ia menjelaskan kepada isterinya, “Orang ini ialah tamu Rasulullah. Kita mesti melayaninya dengan sebaik-baik layanan sesuai kesanggupan kita..”.

Isterinya menjawab, “Demi Allah! Sebenarnya tidak ada simpanan makanan, yang ada cuma sedikit, itu hanya mencukupi untuk makanan anak-anak kita”. Orang Ansar itu pun berkata, “Tidurkanlah anak-anak dulu. Hidangkanlah jamuan yang sedikit itu. Apabila kami mulai makan engkau padamlah lampu itu, sambil pura-pura membetulkannya kembali supaya tetamu itu tidak akan tahu hal sebenarnya”

Rencana itu berjalan lancar. Seisi keluarganya, termasuk anak-anak terpaksa menahan lapar semata-mata untuk melayani tetamu itu makan. Dan Allah memuji mereka dalam sebuah firman “Dan mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka berada dalam kesusahan” (QS. Al-Hasyr : 9)

Makin kekini, makin langka orang yang melakukan hal itu. Sangat langka sekali. Ya, menolong orang tak dikenal seperti hanya menumbuhkan pohon trauma kepada kebanyakan kita. Yang ada kini, setiap orang asing yang bertamu dirumah kita (apalagi kalau peminta-minta), selalu ditanggapi negatif. Sikap ini terlahir dari sebuah tips dari acara teve yang bertajuk informasi kriminal. Waspadalah, kata presenter acara itu.

Tidak salah memang untuk waspada. Kesalahan kita ialah ketika selalu ada praduga bersalah (suuzhzhon) bagi sesiapa yang menurut kita asing. Padahal kita tidak akan pernah tahu, siapa yang paling mulia dimata Allah, kita atau orang asing sehadapan kita. Inna akramakum ‘indallaahi atqaakum.

Jangankan untuk orang asing, untuk orang yang kita kenal sekalipun, kita masih harus melihat dengan cermat perihal keuntungan dan kompensasi bagi kita serta bagaimana seharusnya si peminta tolong membalas budi baik kita. Na’udzubillah min dzaalik. Kami berlindung kepada Allah dari hal demikian.

Tentu menolong karena embel-embel diatas bukan mendatangkan hidangan kenikmatan syurgawi. Tapi menghapus benih-benih keikhlasan yang tak bisa dihargai dengan rupiah, dollar, atau mata uang lainnya.

“Bahwanya Allah menolong hamba-Nya, selama ia menolong saudaranya.” (Hadits Qudsy).“Dan tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan taqwa. Dan janganlah tolong menolong dalam keburukan dan dosa” (QS al-Maa’idah (5) : 2)

Sabtu, Januari 12, 2008

Jangan Pernah Merasa Aman

Suatu hari, saya dan teman-teman mengikuti training untuk organisasi da’wah kami. Kami berangkat tidak secara bersamaan, karena peserta lain mengendarai sepeda motor. Saya beserta 3 orang teman menaiki mobil kijang tua yang isinya perlengkapan.

Sepanjang perjalanan kami isi dengan canda dan obrolan ringan yang tidak ada kaitannya dengan acara yang akan kami ikuti. Di tengah perjalanan, beberapa orang menyetop mobil yang kami tumpangi. Mereka kehabisan bus umum, karenanya, untuk bisa pulang harus dengan tanpa malu menyetop mobil yang lewat. Itulah budaya Jawa yang sampai kini masih subur di pedesaan, budaya tolong menolong tanpa pilah-pilih.

Dalam perjalanan, kami yang berada dalam mobil ngobrol bersama, walaupun kami tak pernah kenal sebelumnya. Akhirnya mereka bertiga turun setelah menempuh perjalanan lebih dari 15 menit dengan kecepatan 60-80 KM/Jam. Ucapan “matur nuwun” berkali-kali dari mereka mengakhiri pertemuan singkat kami dengan mereka.

Kami kembali meneruskan perjalanan dan obrolan yang sempat terputus tadi. Dalam tawa canda kami, tiba-tiba mobil tak seimbang, teman saya yang mengemudikan terus berupaya agar mobil kembali normal berjalan. Namun mobil tidak dapat dikendalikan, masuklah kami ke ladang jagung yang ada di sisi kanan jalan. Untungnya pada saat itu tidak ada kendaraan dari arah yang berlawanan.

Kami keluar dari mobil dengan rasa yang agak panik. Warga yang berada di sekitar mendekati lokasi kejadian. Mereka dengan ringan tangan membantu kami yang memang butuh pertolongan. Dengan berbagai cara mereka mendorong mobil agar bisa kembali ke atas jalan.

Waktu makin mendekati maghrib. Lalu lalang yang menyaksikan peristiwa itu berhenti sejenak untuk sekadar melihat atau mengucapkan kata simpati pada kami. Warga yang menolong kami sedikit demi sedikit berangsur pulang, yang tinggal hanya beberapa anak muda yang berperawakan kecil dan kurus.

Dengan pertolongan Allah, mobil berhasil diangkat. Kami keheranan, kenapa tubuh kami yang kurus kecil bisa mengangkat mobil yang sebegitu berat? Mereka puas karena telah berhasil membantu kami. Pemilik ladang pun memaklumi kejadian ini sebagai musibah dan tidak menuntut ganti rugi atas rusaknya beberapa pohon mereka.

Rupanya, ada cinta dari Allah disetiap ketentuan-Nya. Campur tangan-Nya selalu datang tanpa diminta. Usaha kita akan selalu dinilai-Nya sebagai pelengkap atas do’a yang kita panjatkan. Kalau saja Allah berkenan, dan secara logika, mungkin kita sudah menghadap-Nya karena kejadian itu.

Ujian Allah memang sebuah keniscayaan, semua pun meyakini. Setiap orang yang tertimpa musibah, sholat atau tidakkah ia, pasti sadar bahwa hal itu adalah ujian dari Allah. Dan mereka akan lebih dekat dengan-Nya ketika ujian menghampiri. Dan kembali melalaikan-Nya ketika kebahagiaan dan kemenangan sudah datang.

Kita tidak begitu senang dengan orang yang selalu meminta. Begitupun Allah. Namun, ’sepelit-pelitnya’ Allah, Dia masih berkenan memelihara kita dengan membiarkan kita berumur panjang dengan oksigen dan rizki yang melimpah. Sangat curanglah kita selaku manusia jika tidak pernah bisa membayar ongkos kehidupan dengan cara beribadah kepada-Nya. Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’iin, kepada-Mu kami menyembah dan kepada-Mu kami meminta.

Yang juga menjadi sifat umum manusia kini adalah rasa aman dari ujian Allah, karena kita hanya kenal istilah ujian setara dengan musibah. Ujian bukan hanya akan menimpa orang yang miskin atau lalai dari aktivitas penghambaan. Tapi ujian juga milik orang yang dikehendaki-Nya, beriman atau tidakkah ia.

Rasa aman dari ujian Allah adalah rasa yang hanya dimiliki orang yang tidak meyakini akan ketentuan Allah. Bila kita memiliki rasa ini, maka perilaku yang akan keluar adalah rasa sombong dan tinggi diri. Bisa jadi dalam hatinya akan berkata “Lihatlah aku, tak pernah diuji Allah, berarti Allah memang sayang sama aku!!.”Allah memang tidak butuh dengan Ibadah kita. Allah juga tak pernah marah ketika kita tinggali. Namun kesombongan adalah salah satu sifat yang dibenci Allah, karena yang berhak untuk sombong hanya Ia. Maka ketika kita merasa aman, kemudian sombong, tinggallah tunggu waktunya menerima ujian yang menyakitkan…

Kamis, Desember 27, 2007

Tetaplah Tersenyum

Bila kondisi hari ini masih seperti kemarin di mana harapan belum menjelma menjadi nyata. Tetaplah tersenyum. Bukan berarti Allah mengabaikan doa-doa kita. Kita tahu, Allah adalah Dzat Yang Maha Mengabulkan doa-doa hamba-Nya. ”Berdoalah kepada-Ku niscaya Aku akan mengabulkannya”‌ (QS Al mu’min : 60).

Tak ada yang dapat meragukan janji-Nya. Doa kepada-Nya ibarat sebuah investasi. Tak akan pernah membuat investornya merugi. Karena penjaminnya adalah Dzat Yang Maha Pemurah, Yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu. Dzat Yang Maha Welas Asih itu, tak akan pernah ingkar janji. Tidak akan sia-sia munajat yang kita mohonkan pada-Nya, baik di waktu siang apalagi di sepertiga malam.

Ketika lebih banyak makhluk-Nya pulas, dalam dekapan dinginnya malam dan hangatnya selimut tebal. Bila belum ada perubahan berarti tentang rencana-rencana kita, tetaplah tersenyum. Allah lebih mengetahui apa-apa yang baik untuk kita. Yakinlah, bahwa ”Sesuatu yang telah ditentukan oleh Allah pasti akan datang, maka janganlah kalian minta untuk disegerakan” (QS An Nahl:1).

Allah Maha Mengetahui kapan sesuatu pas untuk kita, baik dalam sisi timing maupun momentnya. Allah, Pencipta alam raya ini, adalah sutradara hebat, yang tidak akan membiarkan kita terpuruk dalam keburukan. Selama kita yakin akan kekuasaan-Nya, yakin akan kasih sayang-Nya.

Jika semua serasa mandeg, tak ada kemajuan berarti. Tetaplah juga tersenyum. Allah punya cara sendiri untuk membuat kita senantiasa dekat dengan-Nya. Mungkin, semua ini dibuat-Nya untuk kita agar kita senantiasa hanyut dalam sujud-sujud panjang di penghujung malam. Senantiasa larut dalam tangis penuh harap, dalam buaian doa-doa panjang nan khusyuk.

Semua tak akan tersia-sia begitu saja. Allah, mencatat setiap upaya yang kita lakukan dan doa yang kita panjatkan. Segala sesuatu yang kita perbuat, sekecil apa pun itu, akan menuai balasan di sisi-Nya kelak. Niatkan semuanya hanya untuk meraih ridha-Nya, agar perjuangan hebat ini tak hanya bermakna sementara. InsyaAllah kita akan memetik buahnya kelak, di waktu yang telah Ia tentukan.

Dunia ini fana. Tak ada yang kekal didalamnya. Pun perjuangan ini, pengorbanan ini, juga kesulitan ini. InsyaAllah, suatu hari nanti, harapan akan berbuah kebahagiaan. Akan menjelma menjadi kemudahan. Karena, sekali lagi, Allah telah menjamin:”Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan” (QS Al Insyirah: 5-6)

”Allah pasti akan memberikan kemenangan atau mengadakan keputusan yang lain dari sisi-Nya”‌ (QS Al Maidah:52)Tetaplah berbaik sangka kepada-Nya. Tetaplah berharap sepenuh hati kepada-Nya. Tetaplah gantungkan asa setinggi apa pun itu, hanya kepada-Nya. Sekali lagi, hanya kepada-Nya. ”Sesungguhnya, rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS Al A’raf: 56)

Senin, November 12, 2007

'Syarat' Sombong

Sombong adalah salah satu sifat yang diprakarsai oleh iblis. Beberapa kisah telah banyak menyebutkan, bahkan ada juga dalam al-Qur’an tentang kesombongan iblis. Iblis menolak mentah-mentah perintah Allah untuk menyembah Adam yang baru diciptakan-Nya dengan berbahan tanah. Beberapa mufassirin (ahli tafsir) memperkirakan sebab iblis melakukan hal demikian. Iblis diciptakan dari Api, sedangkan Adam dari tanah. Iblis juga diciptakan lebih awal, kebalikannya Adam baru saja jadi. Iblis lebih lama ibadahnya kepada Allah, Adam belum pernah.

Ini pasti menjadi pertanyaan : Kenapa iblis beribadah pada Allah? karena sebelum iblis berlaku sombong, iblis dikategorikan ke dalam malaikat dan termasuk taat kepada Allah selayaknya malaikat lain.

Kesombongan Iblis menjadi kesombongan pertama yang dilakukan makhluk Allah atas perintah-Nya kepada hamba-Nya. Allah kemudian murka dan melaknat iblis untuk masuk neraka-Nya, namun iblis kemudian meminta syarat kepada Allah, yakni untuk menyesatkan anak manusia dan menjadi temannya selama di neraka kelak. Allah setuju, Allah menjamin kalau orang-orang beriman akan selamat dari godaannya.

Kesombongan, biasanya muncul karena memiliki kelebihan. Kelebihan harta, rupa, posisi kehormatan dan status keluarga bisa memicu kedatangan sombong. Bahkan, kelebihan dalam ibadah tidak memungkinkan untuk terhindar dari sombong juga.

Sebut saja Fir’aun, siapa yang tidak kenal dengan raja yang memiliki dukungan terkuat ini. Ia hidup di zaman nabi Musa. Kelebihannya memang diakui seluruh masyarakat. Tukang sihir yang banyak, kekuasaan yang mutlak dan harta yang melimpah, bahkan kesehatan badan yang tak pernah terganggu membuat para mentri-mentrinya bersepakat untuk menjadikannya sebagau tuhan. Dengan senang hati “jabatan” tuhan itu disandangnya. Ketika nabi Musa mengingatkannya untuk kembali kepada Allah swt, Fir’aun malah menyerangnya dengan berbagai cara, hingga melakukan pengejaran terhadap pengikut nabi Musa as di semenanjung laut merah.

Ditenggelamkanlah ia oleh-Nya karena kesombongannya, dan dibuat-Nya kaku sebagai pelajaran bagi warganya. Setelah Fir’aun mati, pengikutnya kehilangan jejak nabi Musa dan menjalani apa-apa yang dulu pernah diajarkan nabi Musa.

Masih di zaman nabi Musa, kali ini dari saudagar kaya yang bernama Qarun. Harta yang berlimpah dan gudang yang berblok-blok tak membuatnya berlaku rendah hati dan memberi kepada yang membutuhkan. Nabi Musa berkata kepadanya “Hey Qorun, bayarlah zakat dari hartamu, sesungguhnya dalam hartamu ada hak-hak mereka”, namun dengan ketusnya Qorun menjawab “Hey Musa, silahkan bawa ajaranmu itu ke orang kaya yang lain yang hartanya itu dibantu dari Tuhanmu. Ini hartaku bukan harta Tuhanmu, ini hasil jerih payahku…”. Bukan main sombongnya Qorun yang memiliki kunci gudang yang hanya bisa diangkat 7 orang besar. Allah swt kemudian menghendaki Qorum tertimbun harta dengan gudang-gudangnya, mati dalam tanah. Lalu, ada cara lain untuk bisa sombong?

Ya, kita boleh sombong, dengan satu syarat saja, yakni dengan membayar ongkos kehidupan kepada Allah SWT dari semua unsur. Kita mesti menghitung berapa yang ada pada diri kita harga kulit beserta pori-porinya, tangan beserta jari dan kuku-kukunya, kaki beserta jari dan kuku-kukunya, badan beserta lubang pusarnya, kepala beserta rambut dan mata dan hidung dan telinga dan mulut, serta berruas-ruas tulang sekujur tubuh. Bukan cuma itu saja , kita juga mesti membayar oksigen yang kita hirup sehari-hari sejak lahir sampai nanti mati, bayar biaya rizki yang telah Dia limpahkan melalui berbagai sarana, bayar sewa tempat yang di ciptakan-Nya yang selama ini kita tempati yaitu bumi. Dan-lain-lain yang mesti kita bayar.Sanggupkah? Jika kita tidak sanggup, maka buat apa sombong karena pada akhirnya hanya mengembalikan kita ke tempat yang dipenuhi pengikut Iblis.

Sabtu, Mei 19, 2007

Dan Satlantas-pun Ngaji

Sabtu pagi itu, jam masih menunjukan pukul 05.45. Tapi, hiruk pikuk sudah terlihat jelas di sekitar Mapolres Kediri. Tidak hanya di pasar yang, memang, lokasinya dekat markas polisi itu, tapi juga di kantor pembuatan Surat Izin Mengemudi (SIM).

Kemarin bahkan terlihat ramai. Jika sehari-hari kendaraan yang parkir di depan kantor pelayanan SIM itu berjajar rapi, saat itu justru sebaliknya. Dan, karena lokasinya tidak luas, kendaraan-kendaraan itu meluber hingga depan kantor Bhayangkari. Hampir semua motor yang terparkir adalah motor dinas milik satlantas.

Kesan lain juga terlihat dari polisi sikap polisi yang berdatangan. Mereka terlihat terburu-buru. Dan bergegas memasuki salah satu ruangan di kantor SIM itu.

Dari jauh, sayup-sayup terdengar suara orang mengaji, yang berasal dari ruang tes teori. Lantunan ayat-ayat yang dibaca pun juga tidak asing di telinga orang muslim. "Yaaasiiin....," lantunan ayat Alquran itu disuarakan bersamaan oleh anggota satlantas yang berada di ruangan itu.

Tidak hanya bintara, anggota yang berpangkat perwira pun terlihat khusuk membaca ayat demi ayat. Di tangannya, mereka memegang buku kecil berisi Surat Yasin. Sebagian dari mereka ada yang beberapa kali mengatupkan mulutnya tanda menahan kantuk.

Hampir setengah jam mereka membaca surat yang panjangnya mencapai 83 ayat itu. Selesai membaca surat Yasin mereka menutupnya dengan bacaan doa. Baru kemudian melakukan sarapan bersama. Meski hanya nasi bungkusan, semua anggota sama sekali tidak canggung.

"Ya, pengajian ini kami gelar setiap Sabtu Pagi," ujar Kasatlantas AKP Hariyanto sat ditemui usai acara Yasinan itu.

Hariyanto mengatakan, sebelum dirinya pindah tugas di Kediri, kegiatan pengajian tersebut pernah digalakkan oleh kasatlantas sebelumnya. Sayang, seiring padatnya tugas yang harus dijalankan, kegiatan pengajian tersebut sempat tersendat-sendat pelaksanaannya. Karena merasa sebagai sesuatu yang penting bagi anggotanya, Hariyanto kembali menghidupkannya. "Jangan hanya jasmaninya yang kelihatan sehat, tapi rohaninya juga perlu mendapat suntikan," tutur Hariyanto yang mendampingi Kapolres Kediri AKBP Aries Wahyu Sutikno.

Soal dipilihnya Surat Yasin, Hariyanto mengatakan karena banyak sekali faedah yang didapat bagi siapa saja yang membacanya. Namun selain itu, tujuan lain adalah terciptanya rasa kebersamaan antaranggota kesatuan. Dengan kebersamaan semacam ini, masalah yang dihadapi bisa diselesaikan dengan mudah. "Kadang juga menjadi ajang keluh kesah (curhat) anggota yang punya masalah di lapangan," tambahnya.

Hariyanto berkisah, dulu ketika berdinas di Jakarta, dia melihat polisi yang bertugas selalu sibuk. Beban tugas sangat banyak dan berat. Sampai-sampai, untuk menjalankan kewajiban salat pun mereka terkadang sampai tidak sempat. Begitu pindah dari Jakarta, Hariyanto mengaku bersyukur karena beban tugas yang dipikul agak ringan.

Begitu pentingnya ajaran agama sebagai landasan hidup tampaknya betul-betul ditanamkan oleh Hariyanto kepada anak buahnya. Hariyanto mengaku bisa marah kepada anggotanya yang masih sibuk bekerja saat adzan tanda panggilan salat dikumandangkan. "Apa sih beratnya, tidak usah lama hanya 10 menit saja," terangnya.

Beberapa anggota yang ikut dalam pengajian tersebut mengaku senang dengan digelarnya acara pengajian Sabtu Pagi. Seperti halnya Bripka Bambang Kurniawan, anggota unit kecalakaan. Kendati sebelum digelar pengajian dia harus piket hingga pagi hari, Bambang mengaku tetap senang melakukannya. "Ya dianggap belajar mas, kalau di rumah kan belum tentu sempat," tuturnya.

Menariknya kegiatan tersebut juga diikuti oleh anggota satlantas yang non-muslim seperti Aiptu Ketut Alit, kanit SIM yang beragama Hindu. Saat ditanya keikutsertaannya, Ketut mengaku semua dilakukan karena dia ingin menjaga kebersamaan sesama anggota lantas. "Dari sini saya justru juga dapat ilmu baru yang belum saya ketahui," pungkasnya.

Minggu, April 29, 2007

Ketika Hati Nurani Terkikis Oleh Absensi

Saya sedang berada di ruang front office untuk pelayanan mahasiswa sore itu, sekalian menunggu jemputan pulang. Di depan saya duduk seorang mahasiswi sedang menunggu waktu kuliah. Saya sibuk dengan pekerjaan saya, dia sibuk dengan handphone-nya.

Tiba–tiba masuk seorang mahasiswa dari luar dengan nafas tersengal–sengal. Dia langsung terduduk di lantai, tepat disamping mahasiswi yang duduk didepan saya.

Saya cuma melirik dengan sudut mata saya, tingkah mahasiswa kan aneh–aneh. Ada bangku tapi malah selonjoran dilantai. Freak!

Mahasiswi : “kenapa lu?”
Rupanya mereka saling kenal.
Mahasiswa : “kagak, gue ngejar waktu aja nih, takut telat”
Mahasiswi : “belooom..bu Paulina belom dateng, trus lu kenapa duduk di situ?”
Mahasiswa : “panik gue…!”

Kemudian mahasiswa itu berdiri dan pindah duduk persis disamping mahasiswi.
Mahasiswi : “Bu Paulina udah dateng belom sih mba?”
Mahasiswi ini ganti bertanya kepada karyawan front office disamping saya.
Mba : “belum liat say…, belum dateng kali”
Mahasiswa : “ah sialan! serius mba belum dateng???” dia bertanya kesal kepadanya.
Mba : “Hussss…”
Mahasiswa : “kirain gue udah telat, sial..gue udah nabrak orang tadi sampe nyusruk, buru–buru..eee die belom dateng lagi! Ah kampret!”
Mba : “Innalillahi !!!!” kali ini saya menghardiknya pelan. Mba sebelah saya geleng – geleng.
Mahasiswa : “bukan gitu mba, gue tadi nabrak orang naek motor sampe nyusruk, gue pake mobil, tapi karena gue buru–buru makanya tuh orang gue tinggal. Gue ngabur aja. Untung sepi gak ada orang liat. Kagak tau dah gimana nasibnya tuh orang!”

Dia berdalih. Tapi mukanya nda memperlihatkan kalo dia menyesal. Kayak sedang bercerita abis nonton sinetron. Kali ini saya menatapnya serius. Mahasiswi didepan saya juga menatap nda percaya, “Gila lo!!!serius lo???” tanyanya serius. Mahasiswa itu mengangguk cuek.
Mba : ”trus, kamu nda nolongin orangnya??” penasaran.

Mahasiswa itu menggeleng cuek. Nyengir. Saya ikut mendelik, seakan say ingin langsung mengeluarkan pendapat. Sambil melongo atas mahasiswa itu, saya rampungkan kerja saya yang tinggal sedikit. Mahasiswi disebelahnya geleng – geleng.
Mahasiswa : ”abis gimana mba? Ibu Paulina kan disiplin banget. Gue udah dua kali gak lulus mata kuliahnya dia, masa gara–gara gue nolongin orang yang nyusruk tadi, gue harus nggak lulus ketiga kali sih mba? “ ujarnya berdalih sambil menutup mukanya.
Saya kali ini bener–bener melongo. Saya ikut heran. Sekaligus nda percaya. Hanya bisa beristighfar berulang–ulang.
Saya : “are u insane???? Tolongin dong deee….yang kamu tabrak kan manusia?!! bukan benda atau hewan??!” saya sedikit histeris. Saya stress ngeliat gayanya yang cuek banget.
Mahasiswi : “tau lo, kucing aja lo tabrak bisa cilaka, orang lagi lu tabrak kagak lu tolong!” Saya menunggu responnya. Mahasiswa itu mengusap mukanya.
Mahasiswa : “yah sorry dah, Allah juga tau lah kalo gue buru–buru! Mudah–mudahan tuh orang selamet dah, nggak napa–napa, maap Ya Allah.. saya buru–buru.. swear!”
Mba : “tau nggak kamu, kalo Allah berkehendak, bisa jadi kamu tetep nggak lulus mata kuliah Bu Paulina atau Allah membalik nasib kamu seperti nasib orang yang kamu tabrak tadi gimana?” ujarnya gemas

Dia hanya terdiam, mengusap muka lalu menepuk jidatnya. Kurang pasti juga dia menyesal atau tidak. Sedangkan saya sibuk dengan pertanyaan dalam hati ; bagaimana bisa orang secuek itu ya? emang udah nggak ada hati nuraninya lagi apa ya?

Tiba–tiba teman saya yang menangani masalah perkuliahan masuk. Dua orang mahasiswa tadi langsung menyerbu ,”Bu Paulina udah dateng belum mas?” tanya mereka hampir bersamaan. “udah dateng dari tadi, pindah ke ruang 312” ujar temanku. Sambil menggerutu mereka segera menghambur keluar ruangan. Dan sepertinya mahasiswa yang menabrak orang naik motor dengan mobilnya sampe ‘nyusruk’ tadi, langsung melupakan kejadian naas yang baru saja dialaminya tanpa rasa bersalah. Masalah itu hilang bersama angin yang membawanya serta ke ruang 312. “Innalillahi wa inna illaihi roji’uun…”

Apa yang sedang terjadi dengan ‘hati nurani’ manusia saat ini ya? Yang terkikis ternyata nggak cuma moral dan urat malu, bahkan hati nurani juga sudah terkikis. Lalu bagaimana Allah mengampuni kita semua?

Rabu, Juli 19, 2006

Bocah Kecil di Labobar

Kapal Labobar telah berlayar lebih dari 20 jam lalu dari Makassar. Kurang lebih 4 jam mendatang akan berlabuh di Tanjung Karang, Surabaya. Itulah sebabnya penumpang lebih suka berdiri di luar.

Seraya berkelakar, ngobrol sekedar, pandangan ditebar kepulau sekitar yang mulai tampak, atau memandang buih lautan. Sekerumunan anak seumuran asyik memburu sampah plastik untuk kemudian dilemparkan begitu saja kelaut lepas. Mereka seperti merasakan bebasnya plastik itu melayang keudara terbawa angin

Disudut belakang, Mushalla-pun begitu. Waktu shalat zhuhur telah lewat sejam lalu, tapi ada saja penghuninya. Meski jumlahnya tak lebih dari yang diluar sana. Dari diskusi ke-islaman, pijat-pijatan sampai sekedar nge-charge HP. Suara riuh sesekali terdengar. Menyusul kalimat tasbih dari rombongan khuruj Jama’ah Tabligh yang mendiskusikan Fadhilah Amal.

Saya masih tertarik untuk istirahat. Bukan menutup diri, tapi demi energi perjalanan berikut yang masih jauh. Sambil terjaga, agar barang bawaan tak pindah tangan.

Suatu detik, semua mata tertuju ke arah seorang bocah lelaki yang berlarian. Ia hanya memakai kaos supermen (beserta sayapnya) dan bercelana pendek. Awalnya semua cuek. Biasa saja, mungkin ia sedang main petak-umpet dengan temannya. Untungnya jama’ah khuruj telah selesai diskusi kitab.

Diputaran lari kesekian, saya berinisiatif menghampirinya. “Mau kemana dek?”
“Mau sholat om”
“Kok lari-larian, cari ayah atau ibunya?”
“Cari tempat wudhu om”
“Disana kan nada tempat wudhu” jari saya menuntun pandangannya.
“Ga ada om”
“Ya udah, om anter deh”

Sampailah kami ditempat wudhu. Tapi saya dicemberutinya. Mulut comelnya mengeluarkan kritik keras.
“Om ini gimana sih, kalo tempat wudhu ini mah aku udah tau…”
“Lha iya, ini tempat wudhu-nya”
“Aku kan cari tempat wudhu lelaki. Ini kan tempat wudhu wanita..”
“Ya nggak pa-pa lha dek, kan sekarang nggak ada orang perempuan, jadi nggak pa-pa”

Tempat wudhu itu memang tempat wudhu wanita, yang juga biasa saya pakai. Tapi sang bocah tetap bersikeras mencari tempat bertuliskan TEMPAT WUDHU PRIA. Meski masih sangat polos, terlihat keteguhan luar biasa darinya. Saya rayu dengan berbagai cara, tetap tak bisa. Saya menyerah.

Dengan mengitari dek belakang, saya mendapati TEMPAT WUDHU PRIA. Dan itupula pertama kalinya saya injakkan kaki di tempat yang seharusnya saya injak sebelum tiap kali shalat. Bocah lelaki itu tampak puas, bisa wudhu di tempat wudhu pria. Hal yang mungkin dimiliki orang terbatas. Saya ikut lega. Selesai wudhu, sang bocah berpesan : “Om, kalau mau ibadah kan gak boleh dicampur antara yang baik dan yang buruk? Ya kan?”. Aku mengangguk kecil, setuju. “Jadi, kalau mau sholat, ya harus wudhu ditempat wudhu pria. Tempat wudhu wanita kan haknya perempuan. Jadi, kalau kita wudhu di tempat wudhu wanita, artinya mengambil hak wanita. Betul nggak om?”. Saya diam. Benar juga ‘analisa’ bocah lelaki ini. Dan saya pun tersudut, karena mengelakkan satu hal sepele yang sebenarnya berarti.

Sabtu, Desember 31, 2005

Tafakur Hening di Ujung Tahun

“Wahai anak cucu Adam,
engkau hanyalah kumpulan dari hari-hari yang terhitung.
Bila berlalu satu hari berarti hilanglah sebagian darimu.
Jika hilang sebagian darimu maka bertambah dekatlah saat kematianmu.
Kalau engkau sudah mengetahui hal itu Maka segeralah berbuat!
(Beramal, bersiap dan berbekallah).”
( Hasan al-Bashri )

Hari Ahad kemarin mungkin hari yang menyenangkan. Bukankah hari libur selalu menjadi hari untuk sejenak lepas dari rentetan deadline pekerjaan. Hari Ahad kemarin bisa jadi hari yang indah, karena biasanya kita bebas bersantai di rumah tanpa harus menikmati kemacetan jalan, bercengkrama dengan keluarga atau pergi jalan-jalan untuk sebentar melupakan jerat rutinitas kantor.

Oh iya, hari Ahad kemarin, hari yang paling ditunggu-tunggu oleh Eci, teman kantor saya. Karena hari itu ia melangsungkan pernikahan. Hari yang paling ditunggunya. Hari paling berbahagia dalam kehidupannya.

Tapi ternyata hari Ahad kemarin adalah hari yang paling menakutkan, bagi saudara kita di bumi Aceh sana. Ternyata hari Ahad kemarin adalah hari paling kelam yang meninggalkan trauma kepedihan bagi hampir semua penduduk Serambi Mekkah. Hari itu tak sedikitpun mereka kira akan menjadi hari sepenuh duka dan luka.

Pagi, di hari itu, semuanya masih terasa sama. Arakan awan putih, pohon hijau melambai, ibu-ibu pergi ke pasar, anak-anak bermain ceria, bahkan di sebuah lapangan tengah kota sebuah perlombaan lari tengah di gelar, udara bertiup sejuk. Sampai tiba saat itu. Dalam sekejap semua tak lagi sama. Ujud tanah rencong terkoyak hampir sempurna.

Dan bapak itu berkisah, rumahnya berada di pesisir pantai. Ia tengah di dalam rumah, ketika tiba-tiba saja hingar gemuruh singgah di telinga. Bergegas ia ke luar, dan sejenak ia seperti berada dalam mimpi.

Sejauh mata memandang, ia tak melihat setetes pun air laut yang biasanya membiru. Ia bersama yang lainnya menuju ke arah pantai. Mereka tertegun penuh decak kagum. Ternyata laut tak hendak berbagi suka. Air yang surut itu datang. Bergulung-gulung. Tinggi sekali. Ombaknya menjelma tangan yang rindu dan memberikan songsongan kepada kekasihnya. Ia berlari. Sempat ia melihat para tetangganya tenggelam tersapu air yang datang tiba-tiba. Dan ia pingsan. Ketika siuman, sebuah kenyataan membuat hatinya memar. Puluhan ribu nyawa saudaranya terenggut air laut yang juga mengerjarnya tanpa henti.

Saya tidak sendirian tercenung di depan televisi. Ruang tengah itu hening. Kami tak mampu berkata-kata. Betapa tidak, puluhan jenazah balita berjejer terbujur diam di antara ratusan jenazah dewasa lainnya. Hampir semua berbalut kain yang ujudnya sudah tak layak pakai. Ah, anak-anak polos itu. Ribuan jenazah lainnya masih berserak, di antara tumpukan sampah kayu, di tengah jalan, di mana-mana. Betapa mudah bagi Allah merenggut puluhan ribu nyawa dalam waktu satu jeda. Sangat mudah.

“Duh Allah, sedemikian bebalkah saya, hingga harus diingatkan dengan tsunami sedahsyat ini,” ucapan kakak ipar terdengar samar. Saya diam. Mendengar ucapannya, saya tersenyum miris. Yah, betapa bebal jiwa ini, hingga Allah harus menegur dengan begitu keras. Sudah membatu seperti apa hati ini, hingga untuk menyentuhnya Allah harus menggeserkan dasar lautan dan terjadilah gempa disertai tsunami.

“Ya Ghaffar, janganlah Engkau hukum kami, jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Allah, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami, Ampunilah kami.”

Di ujung hening, ada yang di gumamkan ke angkasa diam-diam. Malu-malu. Karena betapa banyak karat dosa yang telah dilakukan. Wahai Yang Maha Lembut pengasihnya, perkenankan kami, menengadah menjemput cahaya keagungan Mu, meski Engkau tau betapa legamnya jiwa-jiwa ini.

Subhanaka Ya Allah, kami tahu betapa hati-hati ini telah ditumbuhi banyak ilalang tinggi bahkan berduri. Kami teramat sering melupakan Engkau dan mencintai dunia. Kami sembah kesenangan, kami agungkan kekayaan. Kami lupa berbagi. Kami lupa memberi.

Yang Maha Asih dan Sayang, perkenankan kami kembali belajar. Belajar saling mencinta. Belajar menelagakan kembali gemericik ukhuwah di antara kami.Sahabat, bersyukurlah, kita masih diizinkan Sang Pencipta, untuk memasuki pagi dan petang. Bersyukurlah jika kita masih diperkenankan melihat mentari tahun baru. Bersyukur masih ada porsi usia. Itu berarti bahwa kita masih diberi jeda untuk bertaubat dan berbuat yang terbaik. Jangan pernah menyia-nyiakannya.

Sahabat saya pernah mengirimkan email dan menganalogikan dosa sebagai pohon berduri : “Di dalam hati kita pohon berduri itu tumbuh saat kita melakukan keburukan kepada Tuhan, diri dan sesama. Jangan menunggu waktu, karena tiap detik adalah kesempatan mengakarkan, mengokohkan pohon itu di sekujur tubuhmu. Ambillah kapak imanmu segera sebelum terlambat untuk menumbangkannya. Penundaan hanyalah melahirkan ketakberdayaan. Kelak saat kapak imanmu tidak lagi tajam, tubuhmu pun sudah kehilangan kekuatan. Belantara pohon berduri itu bahkan kelak menusuk mata, telinga dan hatimu. Sebelum telingamu bernanah oleh cemoohan, matamu menangis oleh kedukaan tak berujung, dan hatimu berdarah oleh himpitan derita dan adzab, tebaslah pohon berduri itu. Janganlah berani melawan waktu, karena waktu selalu menertawakan keringkihanmu.”
Allah, perkenankan kami pulang, kami ingin menebas pohon berduri itu. Mari hantar sepenuh doa untuk semua saudara kita yang terkena bencana. Semoga Allah menerima semua yang pergi menghadap-Nya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan keikhlasan dan kesabaran. Semoga setiap kita diberikan kemampuan untuk mengambil pelajaran dari bencana kemarin.