Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Opini. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 22, 2008

Pornografi, Demo, Digital dan Pamor (Por De DiPa)

“Mas, ada aksi mendukung pengesahan RUU APP. Start dr TVRI jam 7.30, jalan ke DPR. Rencananya massif, 1000 orang”

Itu sms (yang telah diedit) dari nomer tanpa nama, tapi aku cukup percaya bahwa informasi itu valid. Akhirnya saya Cuma membalas dengan ucapan ”Makasih infonya”. Mau datang atau tidaknya, ya itu terserah aku. Toh, aku hanya diundang sebagai peliput, bukan peserta. Kebetulan, foto koleksi demo sudah lumayan, bukan cuma dari sekelompok, tapi beragam, dari yang tersopan sampai yang terrusuh, dari demo SD sampai buruh tua di Porong.

Rekan jurnalis diatasku pernah memanggilku ”arya demoholic”, mungkin gerak cepatku yang cukup lumayan jika ada info tentang demo. Kita tidak sedang mengupas masalah demo, tapi akan mengupas makin maraknya aksi pro-kontra atas pengesahan RUU Pornografi menjadi Pornogratis.

Paling tidak, sebagai orang awam, kita sudah bosan dengan ini : Pengunduran jadwal suatu peraturan. Apalagi, jika peraturan itu menyangkut orang banyak, lebih mengarah ke urusan akidah (baca : agama). Kita memang tidak bisa dengan serta-merta menganggap bahwa hanya Islam yang melarang Pornografi, hanya karena demo Pro-RUU yang selama ini dilancarkan dari kelompok Islam.

Muncullah kesimpulan bahwa RUU Pornografi merupakan produk Talibanis –mengambil bahasa dari sebuah milis. RUU yang mulai diluncurkan tahun 2006 ini telah menguras banyak tenaga dan fikiran, dan hingga kini belum juga ada hasilnya. Kian kemari, kian marak pula peredaran rekaman video mesum berdurasi singkat, dengan perkakas yang simple : HP atau kamera digital.

Aku terus terang bingung, (oknum) masyarakat lah yang menciptakan kondisi yang akhirnya bermunculan peraturan sebagai pembatas. Kalau saja tiada kasus-kasus digital semacam itu, mungkin RUU tak pernah ada di jagat wakil rakyat.
RUU ini juga strategis untuk mendongkrak pamor politisi, maklum saja, sekarang zamannya narsis bung, saatnya memburu pamor. Bagi politisi yang Pro dengan RUU ini, pamornya akan naik di kalangan moralis-ideologis. Sebaliknya, pihak yang Kontra, lonjakan dukungan akan datang dari pekerja seni (yang mengaku) cinta keindahan. Oh RUU, nasibmu tak berujung. Andai RUU adalah nama seorang pejabat, mungkin baru berakhir didemo setelah si RUU mati! Seperti Suharto yang tak pernah lagi di demo, ya karena sudah meluncur ke dunia lain.

Minggu, Agustus 10, 2008

Menjadi Gila di Indonesia

FENOMENA gila merambah negeri. Coba perhatikan pemberitaan media akhir-akhir ini, mulai kasus Ryan sampai yang terakhir Yuli Nursanto. Berbagai media masa mengupas kasus ini secara gamblang dan penuh sensasi.

Cobalah tengok kasus Ryan. Pria itu membunuh 11 korbannya. Terbongkarnya pembunuhan berantai yang ia lakukan telah menyita perhatian publik. Majalah Tempo bahkan mengupas secara mendalam pada edisi 23 Juli - 8 Agustus 2008. Sementara, pemberitaan Media Indonesia menempatkan kasus Yuli pada ranah editorial pagi ini (10/8).

Yuli merupakan calon Bupati Ponorogo yang kalah dalam Pilkada. Perlu dicatat, Editorial Media Indonesia jarang sekali mengupas soal seseorang, kebanyakan soal sekelompok orang, lembaga publik atau realitas Indonesia termutakhir lainnya. Satu sisi, gila yang diperankan Ryan bermotif merebut harta. Sementara di sisi lain, gilanya Yudi lantaran kehilangan harta. Dua hal yang sama dalam dua kasus berbeda ini adalah harta.

Harta telah membuat orang gila, namanya gila harta. Ada banyak kejadian di dunia yang mengisahkan kegilaan lantaran harta. Tapi banyak cerita juga yang tidak tersampaikan, misalnya soal korupsi. Para koruptor di negeri ini barangkali dapat dikategorikan gila. Betapa tidak, korupsi yang mereka lakukan sungguh luar biasa jumlahnya. Mulai ratusan ribu hingga trilyunan.

Korupsi menciderai harkat bangsa dan melukai rakyat. Banyak korban berjatuhan karena ulah para koruptor ini, sementara mereka terkesan 'enjoy aja'. Ingat kasus Edi Tansil? kini pria itu sudah tidak terlacak. Ingat kasus dana yayasan milik mantan presiden Soeharto? entah bagaimana kelanjutannya sekarang. Masih segar hari ini, kasus suap Bank Indonesia kepada DPR RI.

Itu hanya kasus-kasus besar. Kasus kecil terjadi di Pariaman, Sumatera Barat. Seorang pegawai dinas Peternakan dilempar kursi oleh Kepala Dinasnya pada Ramadhan 2 tahun yang lalu. Kepalanya berdarah dan harus mendapat perawatan. Semua hanya karena si bawahan tidak mau menanda tangani dokumen proyek fiktif si Kepala Dinas.

Apa yang terjadi kemudian? Hampir satu setengah tahun kasus ini mengendap. Baru mulai disidangkan awal 2008 yang lalu. Juli 2008, Si Kepala Dinas divonis bebas. Hakim beranggapan, Si Kepala Dinas hanya membela diri. Gila.., gila.

Beberapa orang di sekitarku tiba-tiba ditanyai apa yang terbayang dipikiran mereka bila disebut kata 'gila'. Keduanya mengasosiasikan gila dengan sakit, lucu, tidak waras, hilang ingatan, hilang rasa malu. Bagaimana mungkin? Itulah wujud kegilaan.

Semua orang telah terjangkit wabah gila. Banyak jenis gila, selain harta, ada gila hormat, gila kuasa, gila wanita, gila kerja dan sebagainya. Gila atawa gangguan jiwa menjadi alasan pamungkas bagi orang-orang tidak tahan dengan cobaan duniawi. Ia telah pula menjadi akibat bagi orang-orang yang tidak mampu tapi bernafsu besar. Pun, ia menjadi penyebab banyak orang menderita.

Penjelasan tentang gila telah banyak dikupas, terutama kupasan medis dan sosiologi. Ada juga pandangan secara Islam, pernah ditulis oleh Prof. DR. H. Mahmud Yunus, 1984. Ia menyebutkan, bila manusia tuli dan buta pikirannya maka tidak ada harapan bagi mereka untuk menerima kebenaran.

Pertanyaannya, apakah betul mereka yang gila sudah tertutup pikirannya? pikiran itu tertutup sendirinya atau ditutup dengan sengaja? Apa yang terjadi dengan Ryan, Yuli dan para koruptor? Apakah betul mereka gila? atau berlagak gila saja? Agaknya, menjadi gila sudah mulai menjadi tren pada negeri bertajuk Indonesia ini.

Tren yang terkesan baru tapi sebenarnya telah ada sejak negeri ini diciptakan. Apa yang terjadi hari ini tidak lebih dari sebuah pengulangan sejarah. Tapi sayang, kabar tentang gila dimasa lalu tidak begitu mengemuka. Bila tren ini merambah seantero jagad, jangan-jangan nanti dapat pula menjadi bagian dari hak asasi. Siapa tahu? Pada saat itu, Rumah Sakit Jiwa tidaklah terlalu penting artinya. Penjara tidak dibutuhkan lagi. Dapatkah kita berkhayal, suatu saat hal itu terjadi? bgaimana kira-kira keadaannya? Barangkali kita sudah mati, tapi bagaimana dengan anak cucu?
Dimuat disini

Jumat, Mei 02, 2008

Memperdayakan Pendidikan Berbasis Masyarakat

Keprihatikan bangsa ini yang dilanda krisis multidimensi dalam berbagai aspek kehidupan menuntut peran pendidikan Islam sebagai benteng sekaligus mencetak generasi penerus untuk memperbaiki kondisi yang ada. Menjadi sangat wajar jika beban dari krisis ini seluruhnya dibebankan kepada pendidikan. Baiknya suatu bangsa bisa dilihat dari baiknya pendidikannya, majunya suatu bangsa juga dipengaruhi dari pendidikannya.

Persepsi masyarakat terhadap sekolah mewakili kondisi yang ada dalam masyrakat/negara. Kenyataan ini, misalnya, telah pula mendapat perhatian para filosof sejak zaman Plato dan Aristoteles, sebagaimana diungkapkan bahwa ‘as is the state, so is the shool’ (sebagaimana negara, seperti itulah sekolah), atau ‘what you want in the state, you put into school’ (apa yang anda inginkan dalam negara, harus anda masukkan dalam sekolah).

Hal ini menunjukan, bahwa keberhasilan dari proses pendidikan tidak hanya dipengaruhi oleh pihak sekolah saja, tetapi peran keluarga dan masyarakat juga berpengaruh terhadap keberhasilan pendidikan. Berangkat dari hal inilah maka perlu diperhatikan lingkungan di luar sekolah, baik secara formal maupun non formal, bahkan informasi sekaligus. Harus ada upaya menciptakan lingkungan yang kondusif, yang mampu mengembangkan potensi masyarakat guna mewujudkan tujuan pendidikan yang disepakati bersama.

Pengembangan pendidikan di Indonesia, hendaknya dilihat sebagai suatu proses kelangsungan peradaban bangsa, maka faktor-faktor psiko sosial budaya perlu diikutsertakan dalam merancang pendidikan, dan perlu diciptakan situasi yang kondusif dalam pembelajaran. Tranformasi sosial psikologis dan budaya adalah suatu keniscayaan yang dihadapai bangsa ini, tetapi hal itu bisa dikendalaikan, khususnya dalam sektor pendidikan. Transformasi ini memunculkan tatanan baru dalam masyarakat, untuk itu perlu pendekatan sejenis sosial and culture engenering yang mampu mengendalaikan perubahan dan pergeseran ke arah yang diinginkan.

Dalam upaya menciptakan situasi kondusif bagi keberhasilan belajar hanya dapat terjadi bila seluruh masyarakat kita menuju masyarakat learning society. Artinya, proses mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang diamanatkan oleh UUD 1945 hendaknya diselenggarakan melalui tiga jalur institusi pendidikan, yaitu;
(1) lingkungan atau jalur sekolah dan jalur luar sekolah, (2) dilaksanakan oleh berbagi pihak termasuk kerjasama masyarakat dengan pemerintah, (3) ialah kegiatan yang tak terputus, atau pendidikan seumur hidup (long life education).

Salah satu usaha yang dapat dilakukan untuk mewujudkan masyarakat belajar adalah dengan memberdayakan keluarga agar menjadi keluarga yang gemar belajar. Dalam memberdayakan pendidikan keluarga, relevan untuk ditampilakan beberapa fungsi keluarga, yaitu:
(a) fungsi keagamaan,
(b) fungsi cinta kasih,
(c) fungsi reproduksi,
(d) fungsi ekonomi,
(e) fungsi pembudayaan,
(f) fungsi perlindungan,
(g) fungsi pendidikan dan sosial, dan
(h) fungsi pelestarian lingkungan.Disamping memberdayakan pendidikan keluarga, upaya mewujudkan learning society adalah dengan menciptakan partisipasi masyarakat, mewujudkan pendidikan yang berasal dari masyarakat, oleh masyarakat, untuk masyarakat. Dengan pendekatan demikian diharapkan akan mempertebal rasa self of belonging yang akhirnya tumbuhnya rasa tanggung jawab atas kondisi yang ada. Sehingga dengan learning society diharapkan akan terwujud masyarakat madani (civil society), hal ini sekaligus sebagai alternatif dalam mengatasi masalah yang melanda negara ini.
Selamat Hardiknas!

Selasa, April 01, 2008

AAC : Dipuja, Digugat, Dibajak

Masyarakat kita begitu nampak apresiatif pada awal beredarnya Novel Ayat-Ayat Cinta (AAC). Novel yang diklaim penulisnya sebagai ’Novel Pembangun Jiwa ini’ mampu menambah geliat sastera Islami yang tengah bangkit mencari tempat para penikmat sastera di Tanah Air. Ide yang ditawarkan Habiburrahman El-Shirazy, Sang Penulis AAC, memang mudah dicerna dengan bahasa universal, yakni cinta.

Namun, romantisme yang ditawarkan memang berbeda dari karya sastera sebelumnya yang kebanyakan bertemakan cinta syahwat nan seronok. Kang Abik, begitu sang penulis ini biasa disapa menawarkan roamantisme dalam Islam, cinta kepada sesama yang tak lebih tinggi dari cinta manusia kepada Sang Pemilik Cinta, Allah ‘Azza wa Jalla.

Sedemikian indah dan menarik novel ini diceritakan hingga mengalami cetak ulang beberapa kali sejak akhir 2004 digulirkan ke pasar. Efeknya luar biasa, bahkan sebuah suratkabar nasional menyebutkan bahwa AAC merupakan sebuah keajaiban yang ditorehkan oleh seorang penulis Indonesia.

Keajaiban? Benar, kata inilah yang mampu mewakili sebuah karya apik karya anak negeri yang satu ini. Sekitar tiga tahun peredaran AAC, tak kurang sekitar 400 ribu eksemplar telah laris dijual. Dengan angka ini, Kang Abik berhak mendapatkan royalti sekitar Rp.1,8 Miliar dan tercatat sebagai penulis yang mendapat royalti terbesar sepanjang sejarah kepenulisan Indonesia.

Itu baru materil, belum lagi beberapa penghargaan yang berhasil ditoreh, seperti Pena Award untuk kategori Novel Terpuji Nasional pada tahun 2005. Pada tahun yang sama pula, novel tersebut juga meraih The Most Favourite Books and Writer 2005 mengalahkan serial Harry Potter versi Majalah Muslimah. Kemudian, terpilih sebagai Novel Dewasa Terbaik dalam Islamic Book Fair 2006. Yang teranyar, Kang Abik dianugerahi sebagai Novelis No. 1 Tahun 2007 dari Insani Universitas Diponegoro (Undip) Semarang dan dinobatkan sebagai salah satu Tokoh Perubahan oleh Republika pada 4 Januari 2008.
AAC Diangkat ke Layar Lebar
Novel AAC yang fantastis ternyata membuat produser MD Picture Manooj Punjabi melirik kesempatan emas untuk mengangkatnya ke layar lebar. Dengan penduduk Indonesia yang mayoritas Muslim (sekitar 80%), MD Pictures setidaknya menargetkan 1% (sekitar 2 juta orang) saja Muslim yang menonton film ini. Dengan hitungan 20 juta dikali sepuluh ribu maka setidaknya diperoleh pendapatan kotor sekitar Rp. 20 Milyar yang akan dikurangi biaya produksi setidaknya Rp. 10 Milyar. Hasilnya keuntungan bersih sebesar Rp. 10 milyar!

Menurut hemat saya, keputusan Kang Abik untuk menerima tawaran AAC difilmkan bukan hanya pertimbangan materi semata. Ada pertimbangan kemaslahatan dan dakwah yang harus dipertimbangkan, meski banyak kalangan dan para ’penggila’ AAC yang menolak novel itu difilmkan. Mereka khawatir nilai-nilai Islam akan luntur dengan selera pasar para kapitalis untuk mereguk keuntungan.

Seperti pernah diberitakan di media, keuntungan royalti selama ini yang ia peroleh digunakannya untuk membangun sebuah pesantren karya dan wirausaha Basmala yang berlokasi di Semarang. Jadi, bisa kita katakan bahwa keuntungan dari film AAC juga akan digunakannya untuk mengembangkan dakwah. Menurut saya, ini merupakan sebuah langkah jitu untuk merambah dakwah di dunia pertelevisian Indonesia, mengingat masih sedikit film yang bertemakan dakwah.

Buktinya, dari informasi yang beredar banyak aktor dan aktris yang ’terwarnai’ dengan film ini menjadi lebih baik dan sadar akan nilai-nilai Islam sebagaimana pesan moral AAC, termasuk sang sutradara Hanung Bramantyo seperti dikisahkan di blognya. Itu artinya, dakwah Kang Abik melalui karyanya dengan sadar atau tidak telah melintasi relung hati para kru dan pemain, itu minimal, belum lagi para pemirsa AAC nantinya.

Karya Itu Dibajak!
Bukan Indonesia namanya kalau tidak ada pembajakan karya. Meski belum sempat film itu diluncurkan di bioskop di Indonesia ternyata sudah beredar AAC versi bajakan. Hal ini membuat Hanung Bramantyo geram dan bingung. Bagaimana mungkin film yang belum diluncurkan tapi versi bajakan sudah ada di pasaran.Menurut saya, di sinilah letak perbedaan mana karya besar dan bukan, yaitu pembajakan. Memang terdengar menyakitkan, tapi mana mungkin sang pelaku mau membajak karya yang ’ecek-ecek’? pasti yang dibajak adalah karya yang bermutu dan bernilai tinggi.
Dalam hal ini, saya tak hendak membela sang pembajak, bukan. Hanya sedikit rasionalisasi bahwa Novel AAC yang megabestseller dan dicintai sekian banyak penikmat sastera ternyata tetap tangguh ketika diangkat ke layar lebar dan berhasil menarik banyak simpati dari setiap elemen masyarakat, termasuk elemen pembajak.

Sabtu, Mei 26, 2007

Hebat, Indonesia Urutan ke-3!!

Indonesia berada di urutan ketiga dalam urusan pornografi setelah Russia dan Swedia. Fakta itu terungkap dalam deklarasi Komite Indonesia Indonesia untuk Pemberantasan Pornografi dan Pornoaksi (KPIP3) di Jogja kemarin. "Itu terjadi karena mudahnya menjangkau media pornografi," papar Dra Hj Numi Akhma dari Dewan Pengarah KPIP3 Jakarta.

Sebuah studi dilakukan Puska Komunikasi FISIP UII pada 2005 di tiga kota, yaitu Palembang, Manado, dan Sumenep. Hasilnya, ketersediaan dan kemudahan menjangkau produk media pornografi merupakan faktor stimulan utama bagi remaja untuk mengonsumsi pornografi.

Perkembangkan teknologi internet adalah satu motivasi penyebab meningkatnya jumlah itu. Dari data yang dihimpun KPIP3 terungkap, pada 1997, terdapat 22.100 situs porno di internet. Tiga tahun kemudian meningkat sepuluh kali.

Pornografi dan pornoaksi di tingkat lokal Jogja tidak kalah marak. Guru gesar Fakultas Psikologi UGM Prof Kuntjoro PhD mengungkapkan banyaknya sex shop di kota budaya dan pendidikan itu.

Menurut dia, lebih dari 25 sex shop di Jogja. "Sebanyak 25 ini hanya di Jogja, belum lagi Sleman dan daerah lain. Tapi, tidak ada yang ngatur," ungkapnya. Dia menyatakan, sex shop turut membantu menurunkan tingkat pelacuran. Dibandingkan dengan prostitusi, dari segi finansial, sex shop lebih murah.

Sabtu, Juni 10, 2006

Enam Butir 'Prestasi' Pornografi

1. Yayasan Kita dan Buah Hati pernah melakukan survei sepanjang tahun 2005 di antara kalangan anak-anak SD, usia 9-12 tahun. Respondennya 1.705 anak di Jabodetabek. Ditemukan, ternyata 80 persen dari anak-anak itu sudah mengakses materi pornografi dari bermacam-macam sumber: komik-komik, VCD/DVD, dan situs-situs porno.

2. Di Indonesia, komik-komik porno harganya cuma Rp 2.000-Rp 3.000, sementara VCD porno bisa Rp 10.000 dua keping. Itu bisa dibeli di stasiun kereta, di depan sekolah, di depan kantor polisi, bisa di mana saja.
3. Survei lain, misalnya dari BKKBN 2002, menyebutkan hampir 40 persen remaja pernah berhubungan seks sebelum menikah.

4. BBC dan CNN pada 2001 juga pernah melaporkan, Indonesia dan Rusia merupakan pemasok terbesar materi pornografi anak, di mana anak-anak ditampilkan dalam adegan-adegan seksual.

5. Lebih dari 3 juta anak dilibatkan dalam pekerjaan yang berbahaya. Sekitar sepertiga pekerja seks komersial berumur kurang dari 18 tahun; 40.000-70.000 anak lainnya telah menjadi korban eksploitasi seksual.

6. Sekitar 100.000 wanita dan anak-anak diperdagangkan setiap tahunnya, di antaranya untuk bisnis seks. Belum lagi 5.000 anak ditahan atau dipenjara, yang 84 persen di antaranya ditempatkan di penjara dewasa.

Rabu, Juli 20, 2005

Jangan Abaikan Pendidikan Anak

Secara umum, banyak dikalangan kita yang hidup dengan prinsip “terserah apa yang terjadi besok”. Prinsip ini hanya cocok untuk orang yang merintis usaha atau yang sifatnya temporary semata. Apakah mendidik anak itu sifatnya temporary? Jelas tidak. Makanya, perlu kematangan perencanaan dan pengendalian. Karena, sekali lagi, ini berhubungan dengan masa depan mental anak-anak kita.

Contoh ringan, konsep mendidik a la balita yang semestinya digunakan di Playgroup atau TK juga digunakan pada anak-anak usia SD hingga SMP. Akibatnya, menempatkan anak yang sudah SMP seperti anak SD, juga seperti anak-anak TK atau Playgroup. Padahal perubahan status mental anak ini sesungguhnya sangat luar biasa. Kekeliruan positioning semacam ini akan menyebabkan implikasi psikologis berbahaya bagi anak.

Berawal Dari Mulut
Suatu ketika ada seorang guru SD bernama A yang konsultasi dengan saya. Dia bercerita tentang seorang siswanya bernama B yang selama ini sangat disayangi seperti anaknya. Mesti bongsor (bentuk fisik lebih besar, beda dari teman seumurnya), A juga tetap memberikan perlakuan seperti anak-anak TK, misalnya sering memegang pundaknya.

Suatu ketika, B melihat A akrab dengan siswa yang bernama C. Tiba-tiba, B bertanya secara pribadi “Pak, wajarkah kalau ada siswa yang menyemburui gurunya?”. “Lho, yang gak wajar seharusnya gurunya” jawab A.
Kesalahan A adalah karena dia tidak tahu kalau sesungguhnya B sudah menarche dan memposisikan dirinya sebagai seorang gadis yang berhadapan dengan lelaki yang disukainya, walaupun gurunya sendiri.

Mari kita hubungkan kembali dengan teori ini. Bicara merupakan cerminan sikap spontan dari sikap hidup yang diyakini. Ada ungkapan-ungkapan yang kelihatannya sepele, tapi sesungguhnya serius. Misal ungkapan kaum muda-mudi yang berbunyi “Muda foya-foya, tua kaya-raya, mati masuk surga”. Meskipun sekedar guyon, ungkapan itu bisa jadi sebagai sikap hidupnya.

Karenanya orangtua harus belerja sama untuk mengembangkan strategi mendidik kepada anak-anak, agar bisa mengantarkan mereka dengan lebih baik. Perlu juga orangtua membanjiri anak-anaknya dengan cita-cita, ungkapan, slogan yang lebih positif dan membangun citra dirinya. Supaya hidupnya penuh karakter.

Jadi, jangan main-main dengan kata-kata, ungkapan atau sensasi-sensasi negatif didepan anak-anak Anda. Yang disayangkan, sudah menjadi momok mengerikan bagi sebagian kaum bapak untuk memperbincangkan masalah pendidikan anak. Kaum bapak lebih banyak berapologikan kesibukan mencari uang untuk memberi makan. Al-hasil, tidak banyak pula kaum Ibu yang stress membangun anak yang belum tentu mudah diatur.

Anderson Consulting Worldwide, lembaga psikologi terbesar di Amerika, dalam penelitiannya mengungkapkan bahwa konflik rumah tangga lebih disebabkan terjadi karena ketidaksinkronan orangtua dalam konsep mendidik anak.

Berhasil Sebagai Orangtua
Dua hal penting yang menyebabkan kegagalan dalam mendidik anak adalah berasal dari intern orangtua itu sendiri. Pertama, para orangtua merasa menjadi orangtua karena mereka “terlanjur” menikah dan punya anak. Karena sudah punya anak, mereka “pasrah” bertindak sebagai orangtua. Jadi profesi orangtua dijalaninya dengan asas ke-“iya deh”-an dan keterpaksaan (under preassure).

Dengan kata lain, dia adalah orang yang lebih tua dari anaknya. Bahkan, zaman sekarang sudah bukan hal aneh menjadi orangtua sebelum menikah.

Banyak orang menjadi orangtua bukan karena sebuah pilihan, tapi keadaan yang harus dijalani. Sama dengan seseorang yang tak pernah memiliki rencana untuk besok, ketika besok sudah tiba, dia tak tahu harus menjalani apa dihari itu. Jadi, orangtua yang tidak merencanakan diri sebagai orangtua akan mendidik anak tanpa rencana, artinya mendidik dengan metode semau gue.

Yang kedua, orangtua yang berpendidikan tinggi itu sering memiliki potensi kegagalan lebih tinggi dalam mendidik anaknya. Apa sebabnya? Karena dia sendiri malu menjadi orangtua. “Waduh, saya rugi sekolah tinggi-tinggi kalau akhirnya cuma di rumah saja”. Biasanya kalimat semacam ini diungkapkan oleh sang Ibu. Jadi, dengan dia tinggal dirumah dan menghadapi anak dianggap pekerjaan biasa atau sepele.

Atau bahkan dianggapnya pekerjaan mendidik anak itu tidak berarti sama sekali, sehingga selagi anaknya kecil diserahkan kepada baby sitter, setelah beranjak dewasa mereka diberikan kebebasan karena kesibukan orangtuanya.

Penghuni pusat rehabilitasi narkoba atau penyakit sosial di beberapa kota besar bukan berasal dari keluarga miskin. Sebagian besar anak para pejabat, keluarga kaya, terdidik yang bergelar pendidikan tinggi, tapi seribu sayang, kualitas anaknya setingkat TK. Sebagian dari mereka karena tidak mampu memanaje waktu dengan baik untuk mengawasi anaknya.

Beda lagi dengan ibu-ibu “kampung” yang merasa dunianya memang harus dirumah, mereka kebanyakan mengandalkan nalurinya untuk mendidik anak. Bahkan mereka bisa jadi mati-matian memperjuangkan anak-anaknya mendapatkan pendidikan yang layak, sehingga bisa hidup lebih layak dari orangtuanya. Lihat saja, bukankah lebih banyak orang besar yang terlahir dari keluarga desa dan bermodalkan biasa saja?

Jadi, keberhasilan menjadi orangtua dipicu karena faktor rencana dan naluri. Dalam konteks normatif, rencana dapat dibahasakan dengan niat, dan naluri dibahasakan dengan keikhlasan. Meniatkan diri untuk mendidik anak karena ibadah akan membuahkan keikhlasan ketika menghadapinya. Keduanya akan muncul sinergi, secara bersamaan.

Dalam kasus ini, memang ada pengecualian. Orangtua yang berpendidikan tinggi bisa saja sukses dalam mendidik anak jika dengan benar menempatkan skala prioritas perihal pendidikan anak. Yang tidak banyak kita tahu, seperti yang telah saya sampaikan diatas, bahwa letak harmonisasi sebuah rumah tangga terletak pada kesuksesan pendidikan anak (utamanya moral) bukan aspek ekonomi, apalagi modernisasi.

Sekolah Untuk Calon Orangtua
Ikatan emosi (bounding) antara orangtua-anak sangat berpengaruh nyata terhadap karakter anak, terutama Ibu. Hal tersebut dibahas dalam beberapa buku parenting yang ditunjang dengan rangkaian fakta bahwa kekuatan rohani (Spiritual Quotient) justru berkait erat terhadap kepekaan kita kepada situasi emosi anak.

DR. Deborah Tannen dalam The Highly Sensitve Person and Love mengungkapkan, perbedaan sebesar apapun antar suami-istri tak pernah menjadi masalah, asal mereka memiliki ikatan tingkat spiritual yang sama. Karena itu, penting bagi kita, para orangtua, ditraining semacam school of parenting (sekolah keorangtuaan)

Katakan saja semacam pendidikan dan pelatihan (diklat), minimal seminar, dalam rangka menyiapkan diri menjadi orangtua dan cara mendidik anak. Kalau di Malaysia atau Singapura, lembaga-lembaga konsultasi mengadakan “Kursus Kawin”. Seperti yang konon dilakukan Siti Nurhalizah, diva Malaysia. Disana orang boleh saja nikah dalam usia muda setelah mengantongi sertifikat Kursus Kawin. Akhirnya, kita harus meyakini bahwa memang orang-orang besar hanya lahir dari orangtua yang memiliki semangat dan gagasan besar, bukan semata-mata karena pendidikan tinggi tapi berkarakter rendahan. Karena dimasa mendatang negara kita akan banyak membutuhkan anak-anak survive dalam kebenaran yang berjargonkan “sukses dunia, bahagia akhirat”

Rabu, Juni 22, 2005

Pustakamasjid, Terobosan Cerdas

Sejatinya masjid tak hanya menjadi tempat beribadah. Menurut J Pedersen dalam bukunya Arabic Book, pada masa keemasan Islam, masjid juga berfungsi sebagai pusat kegiatan intelektualitas. Di era kekhalifahan masjid merupakan tempat para sarjana dan ulama Muslim menyusun buku.

"Sebelum diterbitkan, seorang penulis atau ilmuwan harus mempresentasikan isi bukunya kepada publik. Mereka melakukannya di masjid dengan cara dibaca atau didiktekan," papar Ziauddin Sardar. Paparan penulis atau ilmuwan itu lalu didengarkan masyarakat umum dan dikopi oleh seorang warraqin--yang bekerja sebagai penulis yang menyalin berbagai manuskrip yang dipesan para pelanggannya.

Masjid dan perpustakaan pada zaman kejayaan Islam tak bisa dipisahkan. Sebab, masjid juga memainkan peran yang penting lainnya, yakni sebagai perpustakaan. Kehadiran perpustakaan di dunia Islam juga berasal dari aktivitas keilmuan yang digelar di rumah Allah SWT. Menurut Pedersen, pada masa itu masyarakat Muslim menyerahkan koleksi bukunya ke masjid untuk disimpan di dar al-kutub (perpustakaan).

Masyarakat di hampir seluruh dunia Islam, mulai dari Atlantik hingga ke Teluk Persia, menjadikan masjid sebagai tempat yang aman untuk menyimpan buku. "Buku-buku itu dihadiahkan dan banyak ilmuwan yang mewariskan perpustkaan pribadinya kepada masjid untuk menjamin buku mereka tetap terpelihara," ungkap R Mackensen dalam Background of the History of Muslim Libraries Observes.

Tak heran, jika koleksi buku yang dimiliki perpustakaan masjid begitu melipah. Di Allepo, Suriah, misalnya, perpustakaan masjid tertua bernama Sufiya mengoleksi buku hampir 10 ribu volume. Buku-buku itu merupakan pemberian dari penguasa Kota Aleppo yang termasyhur, Pangeran Sayf al-Dawla. Gerakan wakaf buku ke perpustakaan masjid yang dipelopori pemimpin itu juga diikuti oleh para ilmuwan dan intelektual.

Masjid Abu Hanifah di Irak pun memiliki koleksi buku yang melimpah. Buku-buku yang tersimpan di perpustakaan masjid itu merupakan hibah atau hadiah dari koleksi pribadi. Dengan menyimpan bukunya di perpustakaan masjid, buku-buku itu akan dirawat dan dibaca oleh lebih banyak orang. Sehingga, pengetahuan yang terkandung dalam buku itu bisa tersebar lebih luas.

Salah seorang tokoh yang menyumbangkan koleksinya ke Masjid Abu Hanifah adalah seorang dokter bernama Yahia Ibnu Jazla (wafat 1099 M) dan penulis sejarah Al-Zamakhshari (wafat 1143 M). Perpustakaan masjid lainnya yang juga mengoleksi banyak buku adalah Al-Qarawiyyin. Aktivitas perpustakaan dan keilmuwan di masjid yang terletak di Kota Fez, Maroko, itu telah melahirkan universitas pertama di dunia.

Sejarawan Al-Fasi pada 1548 M mengungkapkan, salah seorang ilmuwan yang menyumbangkan buku yang ditulisnya adalah Abu Abdullah Muhammad Al-Ajmawi. Ia menyumbangkan karya besarnya berjudul Al-Qawl Al-Mutabar kepada para siswa yang belajar di masjid itu. Ilmuwan legendaris, Ibnu Khaldun, juga mewakafkan bukunya yang berjudul Kitab Aal-Ibar ke perpustakaan masjid itu.

Buku yang berharga itu lalu dipinjamkan kepada orang tepercaya selama dua bulan, setelah itu dikembalikan lagi ke perpustakaan. Jadilah perpustakaan masjid menjadi tempat penyimpanan buku-buku yang langka dan tak ternilai harganya. Dengan koleksi buku yang melimpah, para pelajar, serta ilmuwan pun berbondong-bondong pergi ke masjid.

Mereka datang ke masjid dengan dua tujuan. Untuk beribadah, sekaligus meningkatkan pengetahuan dengan membaca buku. Bahkan, para ilmuwan dan sarjana Muslim sampai menetap di masjid. Syahdan, dua ulama dan ilmuwan Muslim terkemuka, Al-Ghazali dan Al-Baghdadi, sempat menetap beberapa periode di menara Masjid Umayyah di Damaskus.

Sedangkan, Ibnu Al-Haitham fisikawan penemu optik sempat tinggal di sebuah qubah Masjid Al-Azhar Kairo, Mesir. Menjelang meninggal, para ulama dan ilmuwan itu mewakafkan koleksi buku mereka ke masjid. Masjid Al-Aqsa di Yerusalem, pada era kejayaan Islam, juga memiliki empat perpustakaan. Tempat tersuci ketiga umat Islam itu mengoleksi buku dalam jumlah yang sangat banyak. Buku itu tersimpan di Madrasah Nahawiya dan Ashrafyia yang berada di sekitar masjid.

Kamis, Mei 12, 2005

Menciptakan Dunia yang Makin Kecil

TANPA melakukan strategi penjualan apa pun, kecuali dari mulut ke mulut, www.friendster.com atau populer disebut Friendster saja, mampu menjaring 16 juta anggota dalam tempo tiga tahun. Sebuah jaringan komunitas online yang sangat fenomenal, mengingat komunitas maya yang sebelumnya ada yakni mailing list, anggotanya hanya mencapai ribuan orang saja.

DI dalam Friendster, seseorang tidak hanya bisa berkomunikasi dengan sahabatnya, tetapi juga dengan teman dari sahabat itu, dan bahkan teman dari temannya sahabat. Pokoknya temannya temannya teman. Bukan tidak mungkin di Friendster bisa bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak ada kontak.

Berteman, berkomunikasi, atau ngobrol memang menjadi kebutuhan dasar manusia. Teknologi masa kini kemudian memanjakan itu. Mereka tidak perlu lagi pergi jauh atau bertatap muka untuk bisa ngobrol.

Menurut Carleen LeVasseur, Friendster Public Relations, latar belakang diciptakannya Friendster adalah ingin membuat anggotanya tetap berhubungan dengan teman-temannya atau segala sesuatu yang menjadi minatnya. "Tujuan kami adalah mengubah dunia menjadi sebuah tempat yang kecil, dengan membawa kekuatan jaringan sosial ke seluruh aspek kehidupan. Seorang teman di setiap saat," kata LeVasseur.

Jaringan sosial di dunia nyata adalah berhubungan dengan orang atau kolega, dan menggunakan mereka untuk bertemu orang baru. Di dunia maya, prinsipnya sama saja, namun kekuatan teknologi memberikan keuntungan lain. Yakni, kita tidak lagi terhalang oleh tempat dan ruang. Kita bisa melihat profil orang dan mengirim e-mail kapan saja dan dari komputer mana saja.

Bahkan, kadang, berkomunikasi lewat dunia maya ini terasa lebih nyaman dan lengkap daripada berkomunikasi secara langsung dengan bertatap muka. Di Friendster, misalnya, selain menyajikan tampilan profile (dan tentu saja foto) dari orang-orang yang sudah berada di jaringan perkawanan penggunanya, juga disediakan fasilitas untuk mencari teman-teman baru atau lama melalui persamaan yang dimiliki.

Misalnya seseorang menulis pernah bersekolah di SMA A di Kota B pada halaman profile-nya, maka tulisan nama sekolah dan kotanya itu otomatis menjadi sebuah hyperlink. Dengan mengklik nama sekolah itu, akan ditampilkan seluruh anggota Friendster yang pernah bersekolah di sekolah yang sama.

Hal yang sama berlaku untuk mencari teman yang memiliki kesamaan hobi, pekerjaan, minat, dan tempat tinggal. Selain itu, disediakanfasilitas untuk saling berkirim pesan antaranggota; memuat bulletin board yang bisa diisi kuis-kuis ringan (bahkan konyol), pengumuman lowongan, tips-tips, sampai surat berantai.

Terakhir, Friendster juga menyediakan ruang untuk menulis weblog atau blog (semacam catatan harian di halaman pribadi yang bisa dibaca semua orang di internet), album foto, dan ramalan horoskop.

Saat ini setiap bulan ada tujuh juta orang mengunjungi Friendster. "Baru satu tahun sejak online, keanggotaan Friendster telah mencapai satu juta orang. Mereka berusia 18 sampai 34 tahun, tetapi rata-rata mereka berusia 25 tahun. Kebanyakan anggota yang berusia di bawah 25 tahun adalah perempuan, sedangkan yang di atas 25 tahun adalah laki-laki. Mereka adalah orang-orang berpendidikan dari kota besar," jelas LeVasseur.

SITUS pergaulan lain yang popularitasnya saat ini menyamai Friendster adalah Multiply (www.multiply.com). Bedanya, Multiply dirancang untuk segmen orang-orang yang lebih "dewasa" dibanding para pengguna Friendster. "Kalau Friendster itu lebih cocok diperuntukkan bagi anak kuliahan ke bawah, pokoknya yang masih gaul. Kalau Multiply biasanya digunakan oleh orang-orang yang lebih dewasa. Orang- orang yang kerjanya di depan komputer dan punya waktu lebih banyak di depan komputer," tutur seorang anggota Multiply.

Namun secara umum, Multiply hampir sama dengan Friendster, yaitu sama-sama membangun jaringan pertemanan di dunia maya. Dari namanya saja, diharapkan jumlah teman anggotanya akan terus berlipat ganda.Keistimewaan Multiply terletak pada kebebasan para anggotanya untuk mengubah tampilan di halaman profil pribadinya sehingga menjadi semacam homepage pribadi. Selain itu, Multiply juga memiliki fasilitas untuk menyelenggarakan polling di antara para penggunanya, memasang iklan gratis berikut fotonya, dan memungkinkan penggunanya membuat sebuah kelompok diskusi terbatas (closed group).

Namun, biasanya, situs-situs seperti Multiply dan Friendster hanya menjadi titik awal sebuah hubungan terjalin di dunia maya tersebut. Pada saat hubungan antarmanusia di dunia itu meningkat ke tingkat yang lebih lanjut, mereka akan berlanjut dengan melakukan chatting atau ngobrol secara tertulis secara langsung.

Ada beberapa program chatting yang disediakan di internet, seperti mIRC, ICQ, MSN Messenger, hingga yang paling populer saat ini adalah Yahoo!Messenger (YM). Kepopuleran YM bahkan masuk hingga adegan-adegan dalam film Hollywood, seperti dalam adegan film Something's Gotta Give (2003) yang dibintangi Jack Nicholson dan Diane Keaton. Dalam film itu digambarkan seolah-olah ngobrol lewat internet itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari, dan lebih sering dilakukan daripada telepon.

Dengan YM, seseorang tidak hanya bisa ngobrol dengan temannya, tetapi juga bisa saling berkirim dokumen atau file gambar, lagu, dan film. Bahkan, jika sudah bosan chatting, seseorang bisa memilih bermain berbagai permainan komputer dengan lawan main dari seluruh dunia.

Fitur yang paling populer dari YM adalah adanya emoticon, yakni semacam gambar kecil atau ikon yang menyimbolkan emosi atau perasaan seseorang yang sedang chatting. Buat orang yang belum mengerti, saat ini bahkan sudah dijual kamus ikon dan singkatan-singkatan istilah yang sering digunakan di dunia chatting.

CARA berkomunikasi melalui media internet seperti Friendster, Multiply, atau di situs-situs semacam itu memang memiliki manfaat positif. Namun begitu, cara berkomunikasi melalui teknologi mempunyai kekurangan dari sudut psikologi. Menurut Harry Susianto, psikolog dari Universitas Indonesia, keberadaan teknologi justru membuat manusia lebih menghargai apa yang ada di luar manusia dibandingkan manusia itu sendiri.

"Sebenarnya sejak teknologi komunikasi ditemukan berpuluh-puluh tahun yang lalu, kecenderungan orang lebih menghargai teknologi komunikasi ini sudah mulai timbul. Kecenderungan ini semakin terasa ketika dunia memasuki era Information Communication Technology, seperti internet, telepon seluler, kamera digital, dan sebagainya," ujar Harry.

Contoh sederhana yang disampaikan Harry adalah ketika seseorang sedang berbicara dengan seorang yang lain, lalu tiba-tiba telepon berdering, orang itu akan permisi kepada lawan bicaranya untuk menerima telepon. Hal ini menunjukkan, orang itu lebih menghargai telepon (teknologi) daripada individu yang ada di depan matanya.

Kemudian setelah teknologi semakin berkembang jauh, tanpa disadari masyarakat semakin terikat dengan pengalaman maya (teknologi) dibandingkan dengan pengalaman nyata. Manusia semakin merasa tidak lagi perlu bertemu langsung karena masalahnya sudah diatasi dengan teknologi. "Ada lho orang yang minta cerai lewat SMS. Ketika bertemu dengan pasangannya, dia diam saja. Tetapi setelah pasangannya itu pergi, dia kirim SMS minta cerai. Kalau sudah demikian, di dalam ilmu psikologi dikatakan virtual indeksnya sangat besar," cerita Harry.

Komunikasi lewat teknologi ini, menurut Harry rawan denga kesalahpahaman. Maksudnya, pesan yang disampaikan sering disalahartikan. "Dengan bertemu langsung, kita melihat mimik, raut wajah, intonasi suara, dan sebagainya. Sedangkan di tulisan agak sulit menggambarkan maksud kita. Ikon yang ada juga tidak terlalu membantu karena di sana tidak ada suasana yang membantu terjalinnya sebuah komunikasi. Biar bagaimana pun, kualitas bertemu dengan manusia tidak bisa tergantikan," tegas dia.

Untuk mengurangi risiko kesalahpahaman, menurut Harry lebih baikmenjalin komunikasi secara langsung dulu, baru melalui teknologi. Dengan demikian mereka mengenal dulu pribadi lawan bicaranya sehingga mereka bisa lebih mengerti apa yang dimaksud lawan bicaranya. "Makanya perlu ada 'kopi darat' agar saling kenal lebih dalam lagi. Biar tidak ada lagi orang memakai identitas palsu di internet," kata Harry.

Minggu, Mei 01, 2005

Revisi Goal-Setting Pendidikan Nasional

Goal setting adalah penetapan apa yang hendak dicapai seseorang (Locke & Latham, dalam Woolfolk, 1998). Ketika seorang pelajar berusaha belajar keras untuk memperoleh nilai 5 dalam UN tahun ini, maka usaha yang dilakukannya tersebut (belajar keras) adalah goal-directed behaviour.
Woolfolk selanjutnya menyebutkan bahwa goal memotivasi individu untuk berprilakju tertentu sebagai usaha yang mengurangi diskrepansi kondisi di antara “where are there” dan “where they want to be”. Locke dan Latham juga mengemukakan 4 alasan mengapa goal setting dapat memperbaiki performace.

Pertama, goals mengarahkan perhatian individu terhadap tugas yang dihadapinya, sehingga fokus selalu ada pada tugas tersebut selama belum selesai. Kedua, goals ‘menggerakkan’ usaha. Makin besar tingkat kesulitannya, makin besar usaha untuk meraihnya. Ketiga, goals meningkatkan ketahanan kerja. Semakin jelas goal yang dimiliki, semakin sedikit rasa terganggu atau ‘menyerah’ saat menyelesaikan tugas. Terakhir, goals meningkatkan perkembangan strategi baru. Bila plan A tidak berhasil, maka kita akan mencoba plan B, C dan seterusnya hingga mencapai goal.

Dalam proses pendidikan dikenal 2 jenis goal, yaitu learning goal dan performance goal. Learning goal merupakan intensi individu untuk memperbaiki kemampuan dan pemahaman, betapapun sulitnya usaha yang harus dilakukan untuk mencapai goal tersebut. Performance goal merupakan intensi individu untuk mencapai kompetensi atau penampilan terbaik.

Inti learning goal pada perbaikan dan usaha belajar, sedangkan performance goal pada perolehan penilaian positif atau penghindaran terhadap efek negative dalam lingkungan maupun komunitasnya.

Dalam realita yang ada, kedua proses ini belum sepenuhnya diterapkan dalam pola pendidikan Indonesia, sehingga outputnya pun belum terlihat maksimal. Kasus kegagalan pelaksanaan UN tahun ini merupakan contoh nyata. Betapa pendidikan di Negara kita memiliki potret buram karena memenuhi standar dengan cara yang tak wajar.

Upaya untuk meningkatkan mutu pelajar dengan menaikkan nilai minimum UN secara mendadak tidak disertai kajian psikis. Shock yang banyak diderita peserta UN memunculkan trauma tersendiri hingga bereaksi pada bermacam ragam ‘tingkah aneh’, dari memarahi pengawas hingga meninggal saat mengerjakan soal Matematika.

Pelajar yang berada pada posisi under-preassure, umumnya akan berorientasi pada unjuk kerja (ego-involved). Mereka akhirnya disibukkan dengan usaha-usaha apa saja agar dapat mencapai nilai minimum dalam suatu tugas sekolah.

Mereka menggunakan langkah shortcut dalam menyelesaikan tugas, curang dan cenderung berkeinginan kuat untuk mencontek, sistem kebut sejam (SKS) setiap kali menyelesaikan tugas, mencari perhatian dengan menonjolkan prestasi luar pelajaran, hanya mau bekerja keras pada tugas yang dianggap berat, seringkali kecewa dan menyembunyikan nilai rendah hasil ujian harian, sering membandingkan nilainya dengan nilai teman, merasa lebih nyaman dalam mengerjakan tugas yang tidak memiliki kejelasan kriteria evaluasi (Stipek, dalam Woolfolk, 1998).

Hanya sedikit pelajar yang tergolong berorientasi pada tugas (task-involved learners) yang cenderung mengejar sumber-sumber bantuan yang relevan dengan usaha belajarnya dari jauh-jauh hari. Penguasaan (mastery) terhadap materi pembelajaran merupakan hal yang utama bagi kelompok pelajar ini.

Pintrich dan Schunk (1996) menyatakan bahwa tahap goal-setting sangat penting dalam self management (pengaturan diri). Bahkan, beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa sasaran dan pengemukaan sasaran secara terbutka merupakan elemen penting dari program pengaturan diri (Woolfolk, 1998)

Besarnya usaha yang dilakukan seseorang untuk mencapai goal, khususnya yang menuntut usaha yang lebih giat, seperti dalam pemecahan masalah dan pengorganisasian, akan bertambah dengan adanya fungsi kontrol (Skinner & Chapman, dalam Pintrich & Schunk, 1996). Kontrol tersebut bukan melulu dari pihak pendidik (baca: guru) atau dengan bahasa yang menghakimi, tapi sepenuhnya diserahkan kepada orang terdekat yang telaten lagi sabar.

Pada jangka waktu yang lebih panjang, karena mereka telah melakukan berbagai usaha dalam menyelesaikan tugas yang berkaitan dengan strukturisasi serta restrukturisasi kognitif, maka mereka akan mengembangkan lebih banyak life-skill, lebih siap untuk mencari dan mengakses informasi dan sumber belajar dan memiliki lebih banyak ide dan cara bagi pemecahan-pemecahan masalah dalam tugas ringan maupun berat.

Sudah saatnya para pemerhati pendidikan merancang kembali goal-setting pendidikan nasional, agar tak lagi terjadi ‘kecelakaan pendidikan’ yang tak kalah ‘menarik’ dari kecelakaan transportasi dan kecelakaan lainnya di negeri ini. Dengan demikian, pendidikan bukan lagi makhluk menyeramkan yang tak dapat dinikmati dengan senang hati, tapi keterpaksaan untuk menempuh pendidikan minimal sekian tahun. Selamat Hardiknas.!!

Sabtu, April 23, 2005

Perempuan Pekerja Persfektif Islam

Sebagai agama yang diyakini untuk kasih sayang semua umat manusia, maka Islam sesungguhnya tidak pernah menekan pihak perempuan dalam bidang pekerjaan. Baik pekerjaan di rumah maupun luar rumah. Jika merujuk kepada hadits Nabi, dalam praktek kehidupan zaman Nabi Saw sesungguhnya ada banyak riwayat menyebutkan tentang sahabat perempuan yang bekerja di dalam dan di luar rumah, baik untuk kepentingan sosial, maupun untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

Sebutlah misalnya, Asma bint Abu Bakr, isteri sahabat Zubair bin Awwam, bekerja bercocok tanam, yang terkadang melakukan perjalanan cukup jauh. Di dalam kitab hadits (Shahih Muslim, juz II, halaman 1211, nomor hadits 1483) disebutkan bahwa ketika Bibi Jabir bin Abdullah keluar rumah untuk bekerja memetik kurma, dia dihardik oleh seseorang untuk tidak keluar rumah. Kemudian dia melapor kepada Nabi Saw, yang dengan tegas mengatakan kepadanya: “Petiklah kurma itu, selama untuk kebaikan dan kemaslahatan”.

Bahkan di dalam literatur fikih (jurisprudensi Islam) secara umum tidak ditemukan larangan perempuan bekerja, selama ada jaminan keamanan dan keselamatan, karena bekerja adalah hak setiap orang. Variasi pandangan ulama hanya muncul pada kasus seorang isteri yang bekerja tanpa restu dari suaminya. Kalau lebih jauh menelusuri lembaran-lembaran literatur fikih, dalam pandangan banyak ulama fikih, suami juga tidak berhak sama sekali untuk melarang isteri bekerja mencari nafkah, apabila nyata-nyata dia tidak bisa bekerja mencari nafkah, baik karena sakit, miskin atau karena yang lain (lihat fatwa Ibn Hajar, juz IV, h. 205 dan al-Mughni li Ibn Qudamah, juz VII, h. 573).

Lebih tegas lagi dalam fikih Hambali, seorang lelaki yang pada awalnya sudah mengetahui dan menerima calon isterinya sebagai pekerja (baca : perempuan karir) yang setelah perkawinan juga akan terus bekerja di luar rumah, suami tidak boleh kemudian melarang isterinya bekerja atas alasan apapun (lihat : al-fiqh al-Islami wa adillatuhu, juz VII, h. 795). Fikih membenarkan suami dan isteri, keduanya bekerja di luar rumah dengan prasyarat-prasyarat tertentu.

Yang berarti fikih tidak memandang bahwa kewajiban seorang lelaki (misalnya suami) untuk mencari nafkah menjadi penghalang bagi perempuan untuk bekerja di luar rumah juga untuk mencari nafkah. Pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan yang sesungguhnya untuk perempuan dan laki-laki. Jadi pendefinisian bahwa pekerjaan di luar rumah adalah tugas laki-laki dan pekerjaan di dalam rumah adalah pekerjaan perempuan adalah hasil penafsiran terhadap teks secara sempit. Bahkan dalam fikih, perempuan sesungguhnya diperbolehkan meminta upah bila menyusui anaknya, kecuali air susu hari pertama yang merupakan kewajiban perempuan memberikan kepada anaknya karena mengandung kolostrum yang baik untuk meningkatkan imunitas bayi baru lahir.

Memang tentu saja hal ini tidak secara otomatis mengatakan bahwa Islam mengajarkan hubungan ibu dan bayinya dihitung dengan uang, akan tetapi adalah menunjukkan penghargaan pada jerih payah ibu. Akhirnya, berbagai jalan dapat ditempuh untuk tetap memberikan keadilan bagi perempuan, tak terkecuali yang berkaitan dengan masalah perempuan bekerja.