Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Motivasi. Tampilkan semua postingan

Selasa, September 09, 2008

Dialog Jam

Alkisah, seorang pembuat jam tangan berkata kepada jam yang sedang dibuatnya.
"Hai jam, apakah kamu sanggup untuk berdetak paling tidak 31.104.000 kali selama setahun?"
"Ha?," kata jam terperanjat, "Mana sanggup saya?"
"Bagaimana kalau 86.400 kali dalam sehari?"
"86.400 kali? Dengan jarum yang ramping-ramping seperti ini?" jawab jam penuh keraguan.
"Bagaimana kalau 3.600 kali dalam satu jam?"
"Dalam satu jam harus berdetak 3.600 kali? "Banyak sekali itu" tetap saja jam ragu dengan kemampuan dirinya.
Tukang jam itu dengan penuh kesabaran kemudian bicara kepada si jam. "Kalau begitu, sanggupkah kamu berdetak satu kali setiap detik?"
"Naaaa, kalau begitu, aku sanggup!" kata jam dengan penuh antusias.

Maka, setelah selesai dibuat, jam itu berdetak satu kali setiap detik. Tanpa terasa, detik demi detik terus berlalu dan jam itu sungguh luar biasa karena ternyata selama satu tahun penuh dia telah berdetak tanpa henti. Dan itu berarti ia telah berdetak sebanyak 31.104.000 kali.

Ada kalanya kita ragu-ragu dengan segala tugas pekerjaan yang terasa begitu berat. Namun sebenarnya jika kita sudah menjalankannya, ternyata kita mampu, bahkan sesuatu yang mungkin semula kita anggap tidak mungkin untuk dilakukan.

Jangan berkata "tidak" sebelum kita pernah mencobanya. [pada hal-hal tertentu]

Senin, Agustus 11, 2008

Masa Depan ialah Kebaikan Kehidupan

Apa yang anda ketahui tentang masa depan? Andai saja ada seorang peramal memberi tahu tentang masa depan anda, bagaimana tanggapan anda? Senang? Sedih? Yah, tentunya tergantung masa depan apa yang akan diberitahukan si peramal tadi. Kalau ramalannya menyatakan masa depan anda membahagiakan, tentu anda akan senang. Sebaliknya, jika masa depan anda diramal bakal suram, bagaimana langkah anda selanjutnya?

Banyak karangan atau film yang bercerita tentang masa depan. Masih ingat film Back to the Future-nya Micheal J Fox, film kuno The Time Tunnel, bahkan film Time Cop-nya Jean Claude Van Dame, Paycheck yang dibintangi Ben Affleck, atau Minority Report-nya Tom Cruise. Kesemuanya bercerita tentang masa depan.

Hampir secara absolut setiap manusia ingin masa depan yang cerah, dan tidak ada yang ingin masa depannya suram. Bagaimana kemungkinan masa depan anda? Baik atau suramkah? Kalau anda diberi kemampuan membaca masa depan, atau anda dibuatkan sebuah mesin untuk melihat masa depan, pikiran apa yang akan anda keluarkan?

Begini, saat anda mendapat informasi tetang masa depan anda, bahwa kelak anda akan menjadi general menajer atau direktur di sebuah perusahaan, apa yang akan anda lakukan? Atau apabila anda tahu bahwa di masa depan anda akan menjadi orang sengsara, bagaimana sikap anda?

Dalam konteks pengandaian bahwa anda akan menjadi orang bahagia, mungkin anda tidak akan melakukan apa-apa saat ini. Sebab, anda sudah tahu masa depan anda, misalnya akan jadi seorang direktur. Tetapi dalam konteks bahwa masa depan anda akan sengsara, pasti anda akan berusaha untuk mengubah ramalan tersebut supaya tidak terjadi.

Begitu pula dengan kematian. Jika anda sudah tahu bahwa pada tanggal sekian dan jam sekian anda akan mati, pasti anda akan bertobat dan jadi orang paling baik di dunia ini sebelum ajal datang.

Tapi mengapa Tuhan menjadikan masa depan sebagai sebuah misteri? Tentu saja agar kehidupan ini berjalan. Agar manusia tetap berusaha sekuat tenaga dalam hidupnya untuk mencapai masa depan yang masih serba misteri.Bagaimana jika manusia tidak berusaha atau bekerja? Mereka bagaikan orang yang mati, tidak berguna, dan tidak membawa manfaat, baik untuk dirinya maupun alam ini.

Walaupun hidup ini ujungnya adalah kematian, namun ada yang perlu direnungkan; apakah nanti manusia mati dengan meninggalkan kebaikan atau kemudharatan? Pilihan itu ada pada diri manusia itu sendiri

Sabtu, Agustus 02, 2008

Maksimalkan Manajemen Diri!!

Untuk memiliki motivasi diri yang dahsyat dan selalu dalam performa yang tinggi dan stabil, kita harus mengandalkan motivasi dari diri sendiri (motivasi intrinsik) dan jangan mengandalkan motivasi dari luar/lingkungan (ekstrinsik).

Contoh motivasi ekstrinsik adalah pujian, lingkungan yang mendukung atau upah yang besar. Kalau kita tergantung pada motivasi ekstrinsik maka kita akan menunggu dimotivasi. Padahal motivasi dari luar itu tidak selalu kita dapatkan, sehingga akhirnya motivasi kita jadi naik turun tergantung stimulus dari luar.

Sedang motivasi intrinsik bisa kita bangkitkan kapan saja sesuai kehendak kita, bahkan bisa terus kita bangkitkan sehingga kita akan selalu mempunyai motivasi yang tinggi.

Caranya bisa dengan berbagai cara diantaranya : dengan membayangkan manfaat besar yang akan didapat, melakukan sugesti untuk menyenangi pekerjaan yang sedang kita lakukan, menumbuhkan rasa tanggung jawab dan meyakini bahwa kita baru berarti hidup di dunia ini jika berhasil melakukan pekerjaan tersebut atau dengan cara memaksa diri bertindak walau ogah-ogahan. Pada dasarnya sebagian besar motivasi/semangat muncul ketika kita beraktivitas, bukan sebelum beraktivitas.

Untuk strategi merealisasikan target dan planning yang sudah dibuat, caranya adalah : bawa target dan planning tersebut ke alam bawah sadar kita. Dengan membawa ke alam bawah sadar, kita akan bergerak sepenuhnya dan menjadikan target/planning tersebut sebagai kebiasaan sehari-hari.

Bagaimana cara membawa target/planning kita ke alam bawah sadar? Caranya dengan selalu mengingat dan mengevaluasi pencapaian target tersebut. Oleh karena itu kita harus punya waktu minimal 30 menit sehari untuk mengevaluasi pencapaian target hidup kita.

Jangan pernah bosan dan putus asa untuk mengevaluasinya setiap hari. Sebab ketika Anda tidak lagi mengevaluasinya setiap hari, maka target tersebut berubah hanya menjadi rencana di atas kertas belaka.

Untuk menumbuhkan kepercayaan diri yang mantap, maka kita harus selalu berpikir positif bahwa kita bisa, kita baik dan kita pasti sukses. Kita bisa karena Allah pada dasarnya telah mengaruniakan kita otak yang hebat dan tubuh yang luar biasa. Otak kita lebih hebat dari komputer secanggih apa pun (bahkan otak kita yang membuat komputer). Kita baik karena pada dasarnya manusia mempunyai fitrah yang selalu mengajaknya untuk berbuat baik (disebut juga hati nurani).

Kita sukses karena kita pernah mengalahkan 1 milyar lebih calon manusia (sperma) pada masa dahulu (tapi kita tidak ingat saja). Kemudian selain berpikir positif, kita juga harus bertumpu pada kelebihan kita supaya PD. Maksudnya, jangan sering mengingat-ingat kekurangan kita. Sebaliknya lebih sering mengingat-ingat kelebihan/potensi kita.

Kalau bisa kita beraktivitas yang sesuai dengan kelebihan/potensi kita supaya PD yang kita miliki lebih besar lagi. Dan yang terakhir, supaya kita selalu PD jangan lupa untuk tidak takut berbuat. Jangan takut gagal dan harus berani mencoba. Pada dasarnya ketakutan kita akan kegagalan lebih besar daripada kegagalan itu sendiri.

Senin, Juli 21, 2008

Manajemen Jenuh

Aku berkenalan dengan seorang karyawan sebuah kantor swasta di Jakarta, anggaplah ia bernama Jojon. Lama kelamaan, Jojon lebih sering mengeluhkan kariernya. Ia merasa bahwa setiap kali bekerja, tidak mendapatkan kepuasan. Karirnya sulit naik. Gaji yang didapat pun tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Karena itu ia pun sering berpindah-pindah tempat kerja. Ia berharap, dengan cara itu ia bisa memperoleh pekerjaan yang memberikannnya kepuasan, dari segi karier, maupun gaji.

Setelah sekian lama ia berganti pekerjaan, bukannya kepuasan yang ia dapat, namun justru sering muncul penyesalan. Setiap kali pindah pekerjaan, ia merasa menjumpai banyak kendala. Dan, begitu seterusnya.
Suatu ketika, Jojon berjumpa dengan Irwan, kawan lamanya. Irwan sudah menduduki posisi direktur muda di sebuah perusahaan. Jojon-pun lantas bertanya, bagaimana caranya Irwan bisa memperoleh kedudukan yang tinggi dengan waktu yang relatif cepat.

"Kamu dekat dengan bosmu ya?" tanya Jojon penasaran.
Irwan hanya tersenyum. Ia tahu, kalau Jojon curiga padanya bahwa posisi saat ini dikarenakan faktor koneksi.

"Memang, aku dekat dengan bos aku," jawab Irwan. "Tapi aku juga dekat dengan semua orang di kantorku. Bahkan, sebenarnya aku berhubungan dekat dengan semua orang, baik dari yang paling bawah sampai paling atas. Kamu curiga ya? Aku bernepotisme karena bisa menduduki posisi tinggi dalam waktu cepat?"
Dengan malu, Jojon segera meminta maaf, "Bukan itu maksud aku. Aku sebenarnya kagum dengan kamu. Masih seusia aku, tapi punya prestasi yang luar biasa sehingga bisa jadi direktur muda."

Setelah menceritakan keadaannya sendiri, Jojon kembali bertanya, “Apa sih sebenarnya rahasia sukses kamu Wan?”

Dengan tersenyum bijak Irwan menjawab, "Aku tak punya rahasia apa pun. Yang kulakukan adalah mengaktualisasikan diriku atau fokus pada kekuatan yang aku punyai, dan berusaha mengurangi kelemahan-kelemahan yang aku miliki. Itu saja yang kulakukan. Mudahkan?"

"Maksudmu bagaimana?"
"Aku pun sebenarnya pernah mengalami hal yang sama denganmu, merasa jenuh dengan pekerjaan yang ada dan juga tak bisa naik jabatan. Namun, suatu ketika, aku menemukan bahwa ternyata aku punya kemampuan lebih di bidang pemasaran. Maka, aku pun mencoba untuk fokus di bidang pemasaran. Aku menikmati bertemu dengan banyak orang. Selain itu, aku pun mencoba terus belajar untuk mengusir kejenuhan pada pekerjaan. Dan, inilah yang aku dapatkan.”

Jangan kita memilih pindah tempat kerja hanya karena ingin “melarikan diri” dari masalah. Seringkali kita merasakan sudah berjuang maksimal tetapi belum mendapatkan yang kita inginkan. Jangan pernah putus asa! Kita belum berhasil bukan karena kita tidak mampu, namun, kita belum memaksimalkan semua kekuatan yang kita miliki.

Jika kita mau mengaktualisasikan diri dengan menggali kemampuan dalam diri terus menerus, niscaya, karir kita pasti akan meningkat lebih pesat dan kesuksesan menanti kita di sana.

Rabu, Agustus 01, 2007

Melatih Anak Puasa, Why Not?

Tanpa dirasa, sebentar lagi Ramadhan tiba. Bulan yang penuh rahmah dan berkah. Bulan yang penuh dengan pengampunan dan pembebasan dri api neraka. Buat kita orang tua, yang telah berpuluh kali menjalani puasa tentu sudah tahu apa tujuan, makna dan faedah puasa, tapi bagaimana dengan anak-anak kita?

Apa yang terjadi akhir-akhir ini di negara kita tentunya mendorong kita untuk semakin memperhatikan pendidikan anak-anak kita agar mereka bisa menjadi anak-anak yang sholeh dan solihah . Anak-anak yang ketika dewasa nanti bisa menjadi muslim yang baik, anak yang taqwa dan selalu mendahulukan Allah, ketika kita harus pergi menghadap Allah, dia bisa menyembahyangkan dan selalu mendoakan kita pula, ketika kita menjadi penghuni alam barzah.

Untuk itu marilah kita manfaatkan semaksimal mungkin kesempatan emas dengan datangnya Ramadhan yang mulia ini untuk memberikan latihan-latihan ruhiyah bagi anak-anak kita, dengan mempersiapkan dan melatih mereka menjalankan ibadah puasa lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.

Kapan anak sudah bisa kita latih berpuasa? Untuk menjawab pertanyaan ini marilah kita simak sebuah hadits ketika seseorang bertanya kepada Rosulullah tentang : Kapan seorang anak dilatih untuk shalat? Rosulullah menjawab: “ Jika ia sudah dapat membedakan tangan kanan dan tangan kirinya.” Kalau kita memperhatikan hadits di atas, menurut bapak ibu usia berapa anak kita bisa membedakan tangan kanan dan tangan kirinya? Tentu sekitar 2 sampai 3 tahun bukan?. Pada hadits yang lain Rosulullah saw bersabda : “Perintahkanlah anak-anak kalian untuk shalat pada usia 7 tahun dan pukulah ia pada usia 10 tahun (jika meninggalkannya )” (HR Abu Daud dan Tirmidzi dari Sabrah bin Ma’bad Al-Juhani ra).

Abdullah Nashih Ulwan dalam bukunya Tarbiyatul Aulad fil Islam mengatakan bahwa perintah mengajar shalat ini dpat disamakan untuk ibadah lainnya seperti shoum dan haji bila telah mampu. Mengikuti kedua hadits dan pendapat di atas, dapat dikatakan bahwa seperti halnya shalat maka puasapun sudah dapat diperkenalkan pada anak sejak mereka berusia dua atau tiga tahun, yaitu ketika mereka sudah tahu membedakan tangan kanan dan tangan kirinya. Kalau memang sudah demikian kata Rosulullah tentu tidak ada alasan buat kita membantahnya.

Bagaimana dasar ilmiyah dan psikologisnya melatih anak anak sejak dini?
1. Hasil temuan tentang otak yang dipublikasikan bulan Oktober tahun 1997 di Amerika menunjukkan bahwa pada saat lahir Alllah iu membekali manusia dengan 1 milyar sel-sel otak yang belum terhubungkan satu dengan yang lainnya. Sel-sel ini akan saling berhubungan bila anak mendapat perlakuan yang penuh kasih sayang, perhatian, belaian bahkan bau keringat orang tuanya. Hubungnan sel-sel tersebut mencapai trilliun begitu anak berusia 3 tahun.
Dari usia 3 sampai 11 tahun terjadi apa yang disebut proses restrukturisasi atau pembentukan kembali sambungan-sambungan tersebut. Hal-hal yang tidak ulang-ulang akan menjadi lapuk dan gugur. Bila temuan ini kita hubungkan dengan hadits di atas, maha benar Rosulullah bahwa kita perlu memperkenalkan berbagai hal kepada anak kita termasuk di dalamnya masalah beribadah sedini mungkin dan mengulang-ulangnya selama 7 tahun, sehingga pada usia 10 tahun anak kita bukan saja sudah mampu melakukannya dengan baik tapi juga insya Allah telah memahami makna pentingnya ibadah tersebut sehingga ia rela menerima sanksi bila ia tidak menunaikan ibadah tersebut dengan baik.

2. Kita mengetahui bahwa anak lahir dalam keadaan fitrah, sehingga mudah dibentuk sesuaidengan apa yang diinginkan orang tuanya.

3. Pada usia muda, anak menerima nilai dan kebiasan yang kita tanamkan dengan mempercayainya tanpa argumen . Usia 0-3 tahun ego anak belum begitu berkembang sehingga dia tidak seperti anak yang lebih besar yang egonya sudah mengalami perkembangan lebih baik, sehingga gampang protes.

4. Masa anak-anak adalah masa yang sangat menentukan bagi pembentukan kepribadiannya kelak. Hal-hal yang baik maupun buruk yang terjadi dimasa balita mempunyai pengaruh yang besar dalam kehidupannya kelak.

5. Memanfaatkan daya ingat anak yang kuat semasa kecil seperti pepatah Arab : Belajar diwaktu kecil bagai mengukir di atas batu, belajar sesudah dewasa bagai mengukir di atas air.

6. Sebelum usia 5 tahun tokoh identifikasi anak adalah orang tua. Bila dia bertambah besar dan lingkungan pergaulannya sudah melebar dari hanya rumah maka anak juga mulai mengidentifikasi orang-orang lain di sekitarnya.

7. Mendidik anak tidak sama dengan mengajar. Mendidik anak adalah membantu anak mencapai kedewasaan baik dari segi akal, ruhiyah dan fisik.Jadi apa yang kita lakukan adalah membantu anak untuk kenal dan tahu sesuatu, kemudian dia mau dan bisa kemudian menjadi biasa dan terampil mengamalkannya. Hal ini bukan saja membutuhkan waktu yang lama tetapi juga kemauan yang kuat, kasabaran, keuletan dan semakin awal memulainya semakin baik.

Rabu, Agustus 17, 2005

Anak-anak yang Percaya Diri

Anak adalah amanah Allah yang sangat berharga. Karena anak pula, orang tua dituntut untuk mendidiknya sejak ia masih dalam kandungan ibunya sampai ia dewasa. Kenapa demikian? Sebab anak yang lahir itu dalam kesucian (fitrah), Maka saat kembali nanti kepada Sang Pemiliknya Allah Swt harus suci pula; tanpa noda dan dosa.

Karena itulah pendidikan terhadap anak (tarbiyatul aulad) dalam pandangan Islam adalah wajib hukumnya. Sesibuk apapun pekerjaan kita, pendidikan anak-anak kita tak boleh terbengkalai.

Salah satu hal terpenting dalam mendidik anak adalah upaya menumbuhkan rasa percaya diri pada jiwa sendiri, yang di kemudian hari ia menjadi manusia mandiri, tidak tergantung dengan orang lain, atau merasa minder. Rasulullah Saw. sendiri dalam mendidik putrinya Fatimah menggunakan beberapa cara untuk menumbuhkan rasa percaya diri pada anak, antara lain;

1. Memperkuat kemauan anak.
Ini dilakukan oleh Nabi Saw dengan dua cara: Pertama, membiasakan menjaga rahasia. Hal ini dimaksudkan agar tumbuh dan kuat kemaunnya. Kedua, membiasakan puasa. Ketika anak mampu menahan lapar dan haus karena puasa, maka dalam dirinya telah tertanam merasakan kemenangan mengalahkan hawa nafsu. Dengan demikian menjadi kuatlah kemampuannya menghadapi persaingan kehidupan.

Para sahabat sangat memperhatikan agar anak-anaknya berpuasa. Untuk itu mereka memberikan mainan-mainan saat anak-anaknya berpuasa agar mereka terhibur, sehingga tidak merasakan lamanya puasa.
2. Menumbuhkan kepercayaan sosial
Para sahabat dalam mengajari anak-anaknya untuk percaya diri di depan orang-orang tua dan teman-teman sebayanya, mereka biasanya sering diajak oleh orang tuanya hadir dalam majlis-majlis Rasulullah.Nabi sendiri sering bercanda dengan cucu-cucunya, Hasan dan Husein. Anas Bin Malik mengatakan, "Adalah Rasulullah Saw bergaul dengan kami hingga ia mengatakan kepada kami, "Hai Aba 'Umair sedang apa burung kecil itu?" Kami menggelar tikar lalu beliau shalat dan membariskan kami di belakangnya." (HR. Ahmad)
Selain itu, untuk menumbuhkan kepercayaan sosial bisa dengan mengajari mengucapkan salam kepada orang lain saat bertemu. "Wahai anakku, jika kamu masuk kepada keluargamu maka ucapkanlah salam. Niscaya hal itu akan mendatangkan barokah kepadamu dan kepada keluargamu." (HR. At-tirmidzi)
3. Menumbuhkan kepercayaan ilmiah
Hal ini bisa dilakukan dengan cara mengajarinya al-Qur'an dan al-Sunah dan sirah Nabi Saw dan nabi-nabi lainnya. Karena dari hal tersebut ia akan memiliki wawasan hidup yang luas dan teladan yang baik dari para Nabi itu.
4. Menumbuhkan kepercayaan ekonomi dan bisnis Hal ini bisa dilakukan dengan mengajak anak pergi ke pasar atau swalayan untuk membeli kebutuhan mereka. Dari situ pula anak akan bersosialisasi lebih banyak tentang kehidupan. Rasulullah Saw pernah menyaksikan si kecil Abdullah Bin Ja'far sedang bermain dagang-dagangan, lalu beliau mendo'akannya, "Ya Allah, curahkanlah barokah dalam perdagangannya."

Rabu, Juni 01, 2005

Promoting Attachment

Seperti penumpang bus malam atau pesawat, kita sering bersama-sama anak tetapi tanpa kebersamaan dan kedekatan. Kita memiliki kedekatan fisik (physical closeness), tetapi tanpa ikatan emosional yang kuat dan kedekatan yang hangat (attachment). Kita menyuruh mereka diam saat berisik, bukan untuk mendidik mereka agar belajar menghargai orang lain, tetapi agar ketenangan kita tidak terusik. Kita juga sering memberi mereka sesuatu yang menarik hati, bukan karena sayang melainkan agar mereka melakukan apa yang kita perintahkan. Bahkan terkadang kita mengelabui mereka -berjanji memberi tapi tak ada bukti-semata demi memuaskan kepentingan kita yang sesaat.

Saya tidak hendak berpanjang-panjang membahas. Saya hanya ingin mengajak Anda untuk mencermati satu hal penting dalam pembahasan kita kali ini, yakni menjalin kedekatan atau promoting attachment. Inilah salah satu prinsip penting yang perlu kita pahami ketika ingin menerapkan positive parenting. Ada berbagai segi positif yang dapat kita petik apabila kita memiliki kedekatan yang hangat dengan anak kita. Sebaliknya, berawal dari gersangnya kedekatan orangtua dan anak, potensi yang besar bisa kandas begitu saja. Lebih jauh tentang pengaruh attachment terhadap perkembangan anak, silakan periksa kembali tulisan saya terdahulu “Positive Parenting”. Selebihnya, marilah kita mencoba melihat apa yang bisa dilakukan untuk menjalin kedekatan dengan anak.

Pertama, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah Saw., kita bisa mendekatkan diri kepada anak dengan cara bermain. Rasulullah Saw. biasa bermain kuda-kudaan dengan cucunya.

Kedua, hampir delapan puluh persen waktu manusia antara bangun hingga tidur kembali dipergunakan untuk berkomunikasi. Ini berarti, kedekatan yang hangat bisa dijalin melalui komunikasi interpersonal yang baik, dengan menunjukkan perhatian dan kepedulian terhadapnya. Rasulullah Saw. sangat dekat dengan anak-anak, dan beliau mendekati mereka antara lain dengan menunjukkan perhatian terhadap urusan anak-anak, misalnya ketika beliau berkata, “Wahai Umair, bagaimanakah dengan Nughair?”Rasulullah Saw. menyempatkan bertanya tentang burung kecil dan bercanda dengan anak-anak.

Ketiga, kita bisa menjalin kedekatan jiwa dengan anak melalui sentuhan kasih-sayang. Rasulullah Saw. biasa mencium putri dan cucunya. Bahkan terkadang Rasulullah Saw. turun sejenak dari mimbar untuk mencium cucunya Al-Hasan dan Al-Husain yang datang berlari kepadanya. Rasulullah Saw. juga pernah menggendong Umamah -cucunya dari Zainab binti Rasulullah Saw.-sedangkan beliau melakukan shalat.
Nah, inilah beberapa hal penting yang perlu kita pahami tentang positive parenting. Pertanyaannya, apakah yang bisa kita persiapkan untuk menghadapi anak-anak kita?

Sabtu, April 16, 2005

Bukan Sembarang Ayah

Hasil riset dan para psikologi banyak yang menyatakan bahwa peran ayah sangat penting dalam pertumbuhan seorang anak. Ikatan emosional antara ayah dan anak, ditentukan salah satunya oleh interaksi antara ayah dan anak itu sendiri. Interaksi yang baik antara anak dan ayah ini, dikatakan sangat mempengaruhi kecerdasan emosional seorang anak yang membuatnya tumbuh menjadi sosok dewasa yang berhasil.

Bagaimana seorang ayah yang sibuk bekerja di luar tetap bisa mempererat dan menjalin ikatan emosional ini? Banyak kendala yang dihadapi seorang ayah untuk meluangkan waktunya merawat anak karena kesibukan di luar. Di bawah ini adalah tips-tips bagi Anda.

1. Persiapkan diri Anda sedini mungkin sejak istri Anda hamil
Seorang suami sudah terlibat dalam pembuahan seorang anak, yang menjadikan istrinya mengandung. Masa kehamilan selama 9 bulan ini dapat Anda gunakan untuk mempersiapkan diri Anda sebagai seorang ayah. Berperan aktif lah Anda sebagai seorang suami sekaligus calon ayah dengan membantu kehamilan istri. Mengikuti persiapan persalinan berupa senam, membaca buku bersama mengenai kehamilan, cara merawat bayi atau berbelanja bersama untuk menyambut kelahiran sang bayi. Bila memungkinkan temanilah istri Anda dalam persalinan. Melihat langsung perjuangan istri Anda, dan detik-detik terdengarnya tangisan bayi yang lahir ke dunia ini, akan menambahkan rasa sayang dan kasih Anda baik kepada istri maupun anak Anda.

2. Ikut aktif merawat bayi
Sedari awal menjelang kelahiran, cobalah ikut aktif merawat bayi Anda. Salah seorang peneliti menemukan bahwa para ayah yang mulai mengganti popok, memandikan, dan mengasuh bayi mereka sejak dini, akan besar kemungkinan melakukan kegiatan semacam itu pada bulan-bulan selanjutnya. Kebiasaan ikut aktif sang ayah dalam merawat bayi akan terbentuk. Anda akan menemukan saat-saat indah dalam masa ini. Anda bisa memandikan, mengganti popoknya, memberikan susu botol dan meninabobokan. Untuk masa awal, adalah wajar bila terjadi kesalahan-kesalahan karena yang perlu diingat merawat bayi perlu pengalaman secara langsung, penuh coba dan memperbaiki kesalahan. So nothing to loose. Try and you'll enjoy it. Bayi Anda akan semakin merasakan kehadiran Anda, mengenali sosok wajah Anda, suara Anda dan bau ayahnya.

Tips bagi ibu, biarkanlah suami Anda ikut merawat dan mengasuh dengan gayanya sendiri, Anda bisa memberikan dukungan dan dorongan agar suami akan semakin perrcaya diri dalam merawat bayinya. Memberikan masukan dan membetulkan cara merawat akan menambah smooth.

Bagi keluarga yang mendapatkan pertolongan dari nenek atau saudara lainnya, usahakan lah jangan sampai menganggu porsi sang ayah dalam ikut aktif merawat bayi. Give him the space.

3. Bermain bersama
Ketika bayi Anda makin beranjak usia, lewatkan waktu bersama untuk bermain, membaca buku atau melakukan aktivitas yang menyenangkan bagi bayi Anda yang mulai merangkak, mulai belajar berbicara atau berjalan.

Ciptakanlah permainan-permainan yang menggairahkan, yang digemari seperti kuda-kudaan, pesawat terbang atau sembunyi sembunyian. Sesuaikanlah dengan perkembangan usia anak Anda. Membaca, mewarnai atau melakukan keterampilan menggunting, menempel secara bersama-sama.

4. Terlibat dalam kehidupan sosial anak Anda
Ketika anak Anda mulai beranjak usia sekolah, dia akan memulai kehidupan sosial yang baru. Usahakan terlibat dalam kehidupan sosial anak Anda, dengan mengenali misalnya nama teman-temannya, dengan siapa dia bergaul, aktivitas yang dia lakukan bersama temannya atau nama guru TK/SD nya.

5. Jadilah pendengar yang baik
Kesibukan kerja terkadang membuat Anda mengabaikan cerita-cerita anak Anda. Berikan keseimbangan antar kerja dan keluarga, atau usahakan jangan membawa pekerjaan ke rumah. Luangkan waktu 5 menit saja untuk mendengarkan celotehannya dan mengerti betul isi cerita itu.

Jangan hanya 'meng-iyakan' agar cerita anak itu lekas selesai atau mengatakan "nanti ayah sedang sibuk". Sebersit wajah kecewa akan nampak dan membuat anak akan semakin malas untuk bercerita pada anda. Akhirnya kebiasaan bercerita dan sharing dari anak akan menghilang. Jadi jangan Anda mengeluh bila anak Anda tidak terbuka suatu hari nanti, karena kebiasaan ini dimulai dari respon Anda sebagai pendengar yang baik atau tidak.

Dengan menjadi pendengar yang baik, disamping keterbukaan, Anda akan menjadikan anak Anda dapat mengekspresikan dan cakap dalam mengungkapkan sesuatu.

6. Komunikasi yang baik
Bila Anda dinas luar atau tinggal terpisah berjauhan dengan anak Anda, usahakan lah tetap menjalin komunikasi dengan baik, melalui telepon atau chatting internet. Tunjukkan perhatian Anda, rasa sayang Anda melalui telepon, sms atau melalui surat. Juga Anda bisa menggunakan moment ini sebagai pendewasaan bagi anak Anda. Misalnya dengan mengatakan "Ayah akan pergi selama beberapa hari, ayah minta tolong yah agar Arif menjadi anak baik dan menjaga ibu". Anak akan merasakan dia dipercaya dan bertanggung jawab atas tugas-tugas tertentu.

7. Percayai anak Anda dan berikan kebebasan
Jadilah seorang ayah yang memberikan kebebasan dan dapat mempercayai anak Anda. Kepercayaan Anda akan menjadikan dia tumbuh menjadi anak yang percaya diri dan mandiri. Janganlah mendikte dia untuk melakukan A. Tapi cobalah memberikan dia pilihan, misalnya Arif mau A atau mau B? dan tetaplah membuka kemungkinan pilihan lain selama pilihan itu tidak bertentangan dengan hal prinsip.

Dari masalah yang sepele mulai dari pilihan memakai kaos kaki, baju atau memilih sekolah. Dia akan merasa dihargai dan bertanggung jawab terhadap pilihannya. Sebagai seorang ayah, Anda bisa membimbing dan memantaunya.

8. Penuhilah sesuai kebutuhannya.
Bertambah dewasa seorang anak, akan semakin bertambah kebutuhannya, semakin beragam dan variatif. Jangan Anda paksakan dan menganggap dia masih kecil sehingga memperlakukan sebagai seorang bayi. Mereka membutuhkan perlakuan sesuai dengan usianya.

Kebutuhan seorang bayi tentunya berbeda dengan kebutuhan seorang anak usia sekolah, juga berbeda kebutuhan anak menjelang remaja dengan kebutuhan anak usia sekolah dan seterusnya. Cobalah Anda memahami kebutuhan anak Anda, dan tidak menganggapnya sebagai "your sweety" selalu.
Demikianlah sedikit gambaran mengenai kiat-kiat agar Anda bisa semakin aktif berinteraksi dengan anak Anda. Jangan lewatkan masa-masa pertumbuhan itu, you won't get it back if you miss it. Selamat menikmati menjadi ayah yang baik, bukan sembarang ayah.

Jumat, April 01, 2005

4 Hal dalam Mendidik Anak

Anak adalah anugrah yang mahal bagi setiap orang tua. Sulit ketika diminta dan tidak bisa ditolak ketika Allah Swt menghendaki kelahirannya. Kehadirannya adalah sebuah rahasia Sang Pencipta, walaupun banyak orang berhasil merencanakan kapan anaknya harus lahir dan kapan tidak melahirkan anak.

Selain sebagai anugrah dari Yang Kuasa, Allah Sang Penentu, anak diberikan kepada para orang tuanya sebagai amanah. Untuk dipelihara, dididik dan dibina menjadi anak-anak yang berkualitas, memiliki kekuatan dan ketahanan sebagai bekal mengarungi hidup di masa dewasanya. Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar” (QS. An Nisaa’ : 9)

Anakpun dapat pula menjadi cobaan (fitnah) atau bahkan sebagai musuh bagi kedua orang tuanya, bila anak berkembang tanpa didikan yang baik dan benar. Seperti yang difirmankan Allah Swt: “Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang besar” (QS. Al Anfaal: 28). “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya diantara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu memaafkan dan tidak memarahi serta mengampuni (mereka) maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang” (QS. At Taghaabun: 14).

Oleh karenanya, setiap orang tua harus menyadari betul akan amanah ini. Bahwa anak-anak yang dititipkan Allah kepada kita sesungguhnya harus dididik dan dibina dengan baik sesuai dengan tatacara pendidikan yang disyariatkan Islam dan dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw.

Setidaknya ada empat hal yang harus diperhatikan oleh orang tua dalam melakukan pendidikan terhadap anak-anaknya, yaitu:
1. Pendidikan yang dilakukan harus berpedoman pada prinsip “Memelihara fitrah anak (Al Muhaafadzoh)”. Maksudnya adalah, segala upaya yang dilakukan oleh orang tua untuk mendidik anak-anaknya harus didasarkan bahwa anak dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), beriman kepada Islam: “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui" (QS. Ar Ruum: 30).

2. Juga dalam hadits Rasulullah Saw, “Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, kedua orang tuanyalah yang menjadikannya yahudi, nasrani, atau majusi". Untuk dapat memelihara fitrah anak, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan:
- Memperdengarkan adzan dan iqomat ditelinga anak ketika anak baru lahir, untuk memperkenalkan kepadanya Allah dan Rasul-Nya sejak dini, serta berupaya untuk selalu mengkondisikan anak dalam aturan-aturan Islam dalam perkembangannya.
- Memilihkan teman bermain, yang kita yakini mendapatkan pendidikan yang baik dari orang tuanya, serta menyeleksi dan mengawasi jenis permainannya.
- Memilihkan lingkungan yang baik, mengingat lingkungan memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap perilaku anak.
- Memilihkan sekolah dan guru yang baik (Islami) ketika anak mulai memasuki usia sekolah. 3. Pendidikan yang dilakukan harus diupayakan untuk mengembangkan potensi anak (At Tanmiyyah). Menurut berbagai penelitian, diakui bahwa anak memiliki potensi yang luar biasa bila distimulasi dengan baik sejak usia dini, karena perkembangan intelektual anak dapat mencapai masa keemasannya pada usia 0 sampai 2 tahun. Anak juga memiliki keingintahuan yang sangat kuat pada usia-usia tersebut, sehingga sangat memungkinkan untuk memberikan banyak hal di usia dini.
Ada sebuah kisah menarik di Jepang, Ms. Sakane yang seorang wanita karir, berhasil mengajar anaknya dengan hasil yang sangat mengejutkan ketika Okane yang baru berusia 3 tahun 5 bulan memiliki IQ 198 dengan cara selalu menyediakan waktu 30 menit sebelum kerja dan 1 jam sepulang kerja untuk khusus memperkenalkan kepada anaknya berbagai macam benda dari guntingan-guntingan kertas bergambar yang secara rutin dia lakukan setiap hari. (sumber: artikel 3 Tahun Pertama Yang Menentukan: Taufan Surana).
Pendidikan yang dilakukan harus bersifat Mengarahkan (At Taujih). Yaitu mengarahkan anak kepada kesempurnaan, mengajarinya dengan berbagai aturan diniyah, tidak menuruti setiap permintaan anak yang kurang baik untuk dirinya baik dimasa kanak-kanak maupun setelah remaja dan dewasa.

Memanjakan anak dengan cara menuruti segala permintaannya bukan hanya akan menjadikan anak bagaikan seorang raja yang titahnya harus selalu dituruti, namun juga akan menjadikan anak bermental diktator. 4. Pendidikan harus dilakukan secara bertahap (At Tadarruj). Mendidik anak harus dilakukan dengan penuh kesabaran dan ketelatenan, tidak tergesa-gesa ingin segera melihat hasilnya, namun harus dilakukan secara bertahap, sedikit demi sedikit, hingga anak mengerti dan faham apa yang kita ajarkan. Karena mendidik anak bukanlah sekedar membalikkan telapak tangan atau membuat foto Polaroid. Pendidikan adalah sebuah proses yang sangat panjang dan tak berujung

Rabu, Maret 16, 2005

Membesarkan Anak bagi Orangtua Sibuk

Membesarkan anak dengan baik memang tidak mudah bagi pasangan suami istri yang bekerja. Dengan sepuluh panduan berikut mudah-mudahan mereka dapat menjalankan tugas sebagai orang tua dan pasangan karier secara seimbang.

Lebih dari tiga puluh tahun terakhir, dengan pelbagai alasan sosioekonomi semakin banyak pasangan suami-istri yang harus bekerja. Kegiatan masing-masing anggota keluarga di luar juga meningkat, akibatnya waktu berkumpul antara anak dan orang tua atau saudara-saudara mereka semakin sedikit. Anak lebih banyak menghabiskan waktu bersama pengasuh atau malah bermain sendiri di rumah.

Kecenderungan ini, menurut Daniel Amen, M.D., direktur medis The Center For Effective Living, akan menimbulkan dampak sosial serius jika orang tua tidak memberikan kepemimpinan yang kuat kepada anak-anak mereka. Psikiater anak, remaja dan dewasa ini menyodorkan sepuluh panduan untuk membesarkan anak secara sehat dalam keluarga dengan kedua orang tua bekerja.

Waktu. Hubungan orang tua-anak yang baik memerlukan waktu yang memungkinkan mereka berkumpul secara fisik. Tidak perlu berjam-jam. Yang penting, orang tua secara konsisten meluangkan sedikit waktu bersama anak-anak hampir setiap hari. Ketika bersama mereka, jauhkan gangguan dan konsentrasikan perhatian kita kepada mereka. Waktu adalah tonggak penyangga pengasuhan yang baik.

Jadilah pendengar yang baik. Bila anak-anak mengetahui bahwa kita benar-benar mendengarkan apa yang mereka katakan, mereka akan lebih bersemangat untuk berbagi perasaan dan pikiran. Sebaliknya, kalau orang tua merendahkan gagasan anaknya atau "rajin" mengkritik kata-katanya, anak itu akan menarik diri dan memilih lebih dekat pada teman. Karenanya, jika ingin memiliki pengaruh dalam kehidupan anak, mari menjadi pendengar yang baik. Mereka akan menerima kita bila kita membantu mereka memecahkan masalah.

Tentukan harapan yang jelas. Memberitahukan anak apa yang kita harapkan darinya akan membentuk perilaku yang baik. Jangan ragu-ragu melibatkan mereka dalam pekerjaan sehari-hari dan untuk membantu menyelesaikan tugas-tugas di lingkungan rumah. Kebanyakan anak pasti akan mengeluh. Begitupun, kita harus berusaha agar mereka senang dilibatkan. Pada anak yang berperan serta dalam urusan rumah tangga, akan tumbuh etika kerja dan umumnya ia lebih merasa menjadi bagian dari keluarga.

Jangan membiarkan rasa bersalah. Banyak orang tua merasa bersalah karena bekerja seharian di luar rumah. Sebagai kompensasinya, mereka membiarkan anak berperilaku buruk dan tidak disiplin. Orang tua yang baik adalah yang tegas. Merasa bersalah merupakan tindakan kontraproduktif.

Jangan menggantikan kasih sayang atau waktu dengan uang. Memang penting untuk mengajarkan anak-anak bagaimana mengelola uang, tetapi jangan gunakan uang sebagai pengganti waktu atau kasih sayang kita. Pesan materialistis di televisi mudah sekali merasuki anak dan membangkitkan keinginan mereka untuk membeli ini dan itu. Bagaimana kita dapat membentengi mereka dari pengaruh buruk ini? Kita buat mereka untuk selalu berusaha bila ingin memperoleh sesuatu. Sesuatu yang diperoleh melalui bekerja, akan lebih terasa nilainya.

Jangan terlalu sering gonta-ganti pengasuh. Satu dari kebutuhan psikologi yang penting pada anak adalah bahwa ia terasuh dengan baik dan penuh kasih secara terus-menerus. Oleh karena itu kita memerlukan pengasuh. Dengan menggunakan pengasuh kecemasan kita akan berkurang selama kita bekerja.

Namun sebelum menyerahkan anak pada seorang pengasuh, berikanlah kesempatan untuk terciptanya keakraban dan kedekatan antara anak dan si calon pengasuh. Sering gonta-ganti pengasuh dapat membahayakan anak. Untuk mencari orang yang tepat atau situasi yang baik bagi anak, kalau perlu, pergilah ke tempat yang jauh!

Kuncinya: pengawasan. Sering kali ketika ditinggalkan orang tua, anak terjerumus dalam masalah. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak bermasalah sering berasal dari keluarga yang kurang atau tidak diawasi. Anak-anak tidak begitu saja tahu sejak lahir, mana perilaku baik, mana yang buruk. Mereka perlu diajari dan kemudian diawasi.

Karenanya, sangatlah penting bagi orang tua untuk mengetahui di mana anaknya, sedang bersama siapa, dan sedang ngapain. Memang, anak sering mengeluh kalau ia diawasi ketat, tetapi anak-anak yang tidak diawasi juga sering merasa bahwa orang tua mereka tidak peduli dengan mereka!

Beri perhatian lebih saat ia baik. Ini bagian paling berat sebagai orang tua. Kita cenderung lebih memperhatikan anak-anak ketika mereka menjengkelkan. Sebaliknya, jauh lebih sulit untuk memperhatikan perilaku baik mereka. Namun, jika ingin anak berperilaku baik, berilah perhatian pada hal-hal yang kita sukai dari mereka. Kalau anak merasa diabaikan, secara bawah sadar ia akan berperilaku salah untuk menarik perhatian kita. Memperhatikan mereka sewaktu mereka baik, memang memerlukan usaha.
Hukuman itu untuk mendidik. Orang tua yang bekerja di luar rumah, cenderung mengalami kelelahan dan mudah jengkel. Maka mereka lebih mudah kehilangan kontrol terhadap anak-anak. Ini dapat menimbulkan masalah. Jangan pernah menghukum anak ketika kita sendiri tidak dapat mengontrol diri. Gunakan hukuman untuk mendidik, bukan untuk melampiaskan kemarahan. Berikan teladan dalam relasi. Anak belajar berelasi dari orang tua mereka. Mereka juga merasa paling aman jika melihat orang tua saling memperlakukan pasangannya dengan baik. Maka hal terbaik yang dapat dilakukan bagi anak-anak kita adalah mencintai pasangan kita.

Jumat, Maret 04, 2005

A to Z untuk Penyamaan Pola Asuh

Pada dasarnya menjadi orang tua adalah amanah yang diberikan Allah kepada hamba-Nya. Dan amanah ini jika dijaga dengan sebaik-baiknya akan menjadi pahala bagi yang mengemban dan besarnya sesuai dengan yang diusahakan. Dan akan berlangsung sepanjang kehidupan kita.

Dapat dikatakan bahwa menjadi orang tua adalah hal yang membanggakan, menyenangkan. Menjadi orng tua adalah sesuatu yang sangat diharapkan sebagaimana Nabi Zakaria as yang mengharapkan mendapatkan keturunan untuk meneruskan risalah yang diembannya.

Namun tidak dapat dipungkiri muncul pula perasaan cemas, sedih, kesal dan mungkin marah karena satu atau berbagai hal. Cemas karena meargukan kemampuan diri dalam mendidik anak, marah karena apa yang diharapkan tidak sesuai kenyataan dan banyak hal lain.

Banyak perubahan yang terjadi pada saat menjadi orang tua. Kebanyakan pasangan harus menata dan menyesuaikan pola hubungan komunikasi mereka setelah mempunyai anak dan mengembangkan pola tersebut sejalan dengan perkembangan usia dan perkembangan jumlah anak. Sang ayah mengorbankan waktu untuk beristirahat dan menggantinya dengan bermain bersama anak, sang ibu harus merelakan jam santainya untuk mengasuh buah hatinya dan masih banyak hal lain.

Selain itu, oarang tuapun akan segera memikirkan arah pengasuhan terhadap anak-anaknya. Akan dibebaskankah, diawasi secara ketat atau kombinasi pengasuhan oarng tua mereka dahulu. Perkembangan anak yang sedemikian cepat menuntut banyak perhatian dan kesiapan untuk emnghadapinya. Sehingga banyak hal yang perlu dipikirkan secara mendalam.

POLA ASUH
Yang dimaksud dengan pola asuh adalah cara orang tua dan keluarga membesarkan, membimbing dan mendidik anak yang berada di bawah tanggungjawabnya. Pola asuh yang dipilih satu keluarga akan berbeda dengan keluarga yang lain. Bisa jadi dalam sebuah keluarga tidak hanya terdapat ayah-ibu saja tetapi terdapat pula nenek-kakek, paman dan bibi. Bagaimanapun seluruh orang dewasa yang ada di dalam sebuah keluarga dapat mempengaruhi perkembangan anak.

Diana Baumrind (dalam Santrock, 1999) menjelaskan bahwa secara umum terdapat 3 gaya pola asuh orang tua terhadap anak :

1. Gaya otoriter. Gaya ini sifatnya ketat, menegaskan dan menginginkan agar anak mengikuti kehendak orang tua, menekankan agar menghargai usaha dan kerja. Biasanya orang tua dengan gaya ini sedikit bicara. Sebagai contoh orang tua dengan gaya ini mengatakan, “Pokoknya bapak tidak mau lagi mendengar kamu melakukan ini. Ikuti cara Bapak!” Pada umumnya anak yang dibesarkan dengan gaya seperti ini mengalami kesulitan dalam aktifitas yang membutuhkan inisiatif dan memiliki ketrampilan komunikasi yang minim.

2. Gaya Otoritatif. Menekankan agar anak bisa mandiri tetapi masih dalam batas dan pengawasan orang tua. Banyak melakukan dialog dan memberikan kehangatan dalam hubungan orang tua-anak. Dapat dicontohkan orang tua dengan gaya ini mengatakan pada anaknya, “Sekarang kamu tahu kalau perbuatan tadi tidak benar. Menurut kamu bagaimana sebaiknya kalau lain kali kamu mendapati keadaan seperti tadi?” sambil menepuk anaknya. Anak yang dibesarkan dengan gaya ini cenderung memiliki tanggung jawab sosial dan mampu mengatur dirinya.

3. Gaya Permisif. Gaya ini dapat muncul dalam dua bentuk. Pertama, tidak peduli. Anak dibebaskan melakukan apa saja yang dikehendakinya, sementara orang tua tidak berbuat sesuatu untuk mencegahnya. Jika dibesarkan denga gaya ini maka anak tidak dapat mengontrol dirinya dan tidak mandiri. Kedua, ikut campur dalam kehidupan anak tetapi tidak melakukan pengontrolan terhadap perilakunya. Dengan demikian anak tidak memiliki kemampuan untuk menempatkan diri, senang mengatur tetapi tidak suka diatur sehingga dikhawatirkan terkucil dari pergaulannya.

Dari berbagai gaya pengasuhan ini tentu orang tua dapat menilai sebaiknya gaya seperti apa yang akan dipilih. Setelah memilihpun masih ada tahapan untuk menyesuaikan diri yang mungkin sebelumnya tidak terbiasa dengan pola tersebut dan perlu meningkatkan sedikit ketrampilan.

MENGAPA BISA TERJADI PERBEDAAN DALAM POLA ASUH
a. Setiap orang punya bayangan masing-masing tentang anak, dipengaruhi oleh latar belakan didikan keluarga, pengetahuan, masukan-masukan dari luar. Secara umum orang tua akan mengacu pada pendidikan orang tuanya dahulu terhadap dirinya. Meskipun tidak keseluruhannya, tetapi pola asuh orang tua menjadi referensi dalam mendidik anaknya.

b. Teori yang dipelajari bisa sama, tetapi dalam mempraktekkannya dapat terjadi perbedaan karena memahami dengan cara yang berbeda.

c. Perkembangan pengetahuan yang tidak seimbang dengan pasangannya, atau bisa jadi tidak mengikuti perkembangan anaknya.

d. Tidak ada pembagian tugas yang jelas.

BAGAIMANA MENGKOMUNIKASIKAN PERBEDAAN YANG ADA?
a. Informasikan pada pasangan anda pengetahuan baru tentang pendidikan islami dan pendidikan secara umum serta peluang aplikasinya dalam keluarga.

b. Jangan biarkan pasangan tidak mendapat informasi terkini tentang perilaku anak-anak.

c. Bicarakan kondisi anak secara rutin dan ceritakan pendapat dan harapan anda tentang kondisi terakhir pada pasangan.

d. Buat Raker suami istri secara berkala. Bicarakan secara detail. Pembicaraan dapat terus berkembang sejalan dengan perkembangan anak.

e. Tindakan yang telah dilakukan terhadap kondisi tersebut diketahui pasangan

f. Mampu mengukur kekuatan diri dalam menghadapi kondisi situasional.

g. Sosialisasikan hasil pembicaraan pada anak. Untuk anak di atas usia 7 tahun sosialisasikan lebih detil sesuai perkembangannya.

h. Sosialisasikan kesepakatan yang dibuat pada keluarga besar.
i. Jika memungkinkan buat rapat keluarga inti.

Minggu, Februari 20, 2005

Manajemen Anak Banyak ala Pak Ali

1. Sukses yang Pertama, Sukses Berikutnya
Yang paling sulit adalah mendidik anak pertama. Tetapi jika pekerjaan yang satu ini sukses, dapat dipastikan akan mempermudah sukses mendidik anak berikutnya. Hal ini mudah dipahami, karena seorang anak akan selalu belajar dari orang-orang terdekatnya.

Kakak, akan menjadi panutan setelah ibu dan ayah. Maka jika kakak berbuat kebaikan, tanpa disuruh adik pun akan menirunya. Figur kakak, bahkan kerap menjadi kebanggaan si adik. Apalagi jika keduanya kerap bermain bersama. Anak yang telah memiliki adik, pasti akan mengembangkan pribadi superior dan kepemimpinannya kepada adik. Dengan gayanya yang khas, sang kakak akan mengembangkan naluri untuk mengatur dan memerintah adik. Sementara adik cenderung mengikuti, karena mereka sedang melalui proses belajar dengan cara imitasi.

2. Tumbuhkan Kebersamaan Keluarga
Kebersamaan keluarga, adalah sebuah kondisi dimana ikatan batin yang terjalin antar anggota keluarga, sehingga timbul kepedulian antara satu dengan lainya. Kakak merasa turut bersimpati ketika adiknya menangis. Adikpun turut peduli ketika kakaknya kehilangan barang.

Jika rasa kebersamaan telah tumbuh di hati kakak beradik, sangat mudah bagi ibu untuk mendelegasikan beberapa tugas ringan kepada sang kakak. Tugas memandikan adik, misalnya. Biarkan mereka menghabiskan banyak air dan sabun, tetapi satu tugas ibu telah bisa terkurangi.

Atau tugas-tugas lain yang menggembirakan keduanya, seperti menemani adik bermain, menemani adik membeli permen di toko, mengajari adik naik sepeda roda tiganya, dan masih banyak lagi. Libatkan sang kakak pada proses pengasuhan si adik dalam hal-hal yang menggembirakannya.

Sebaliknya, latih dan biasakan si adik untuk memberikan penghargaan kepada kakaknya dalam berbagai hal. Ajar mereka untuk selalu mengucap terima kasih untuk sekecil apapun perhatian yang diberikan kakak kepadanya. Juga ketika kakak mengalah kepadanya.

Menumbuhkan rasa kebersamaan antara kakak beradik memang bukan proses yang sebentar lagi mudah. Proses ini memerlukan waktu cukup panjang, bisa jadi hingga satu atau dua tahun. Juga memerlukan kesabaran dan bimbingan ekstra dari ibu selama itu pula. Dan tentu saja, bimbingan yang ibu berikan harus benar, sesuai dengan kebutuhan perkembangan anak-anak. Itu sebabnya upaya ini memerlukan pengetahuan dan kesungguhan dari ibu. Tetapi jika upaya maksimal ibu sudah berhasil diterapkan kepada putra pertama ini, sukses tinggal menunggu untuk mendidik putra-putri berikutnya.

3. Jaga Jarak Kelahiran
Menjaga jarak kelahiran antara kakak dengan adiknya, adalah satu faktor penting yang tak boleh diabaikan dalam proses mendidik anak. Dalam al-Qur'an sendiri telah tersirat perintah untuk menunda kehamilan dengan cara menyusui penuh selama dua tahun. Jika setelah penyusuan baru ibu hamil kembali, berarti jarak kelahiran sekurang-kurangnya dua tahun sembilan bulan, bukan? Ini adalah jarak minimum antara kakak beradik, yang sesuai pula dengan tahapan perkembangan psikologis seorang anak.

Sebelum usia dua tahun, umumnya egosentris seorang anak masih begitu besar. Mereka belum siap menerima kehadiran adik yang mengharuskan mereka berbagi kasih-sayang ibu. Dalam usia dua setengah tahun, barulah pengertian mulai tumbuh dan mereka mulai bisa menerima kenyataan jika harus berbagi dengan adik baru.

Itu sebabnya jika seorang anak sudah harus menerima kehadiran adik sebelum usia dua setengah tahun, maka proses penerimaan menjadi lebih sulit dilakukan. Akibatnya akan lebih sulit untuk menumbuhkan rasa kebersamaan. Setidaknya jika mereka tidak sering bertengkar, itu sudah cukup baik.

4. Ikhlaskan Hati
Repot, itu sudah pasti. Apalagi ketika masih memiliki satu atau dua putra. Perjuangan dan pengorbanan ibu sangat dituntut di sini. Tetapi yang pasti, anak bisa merasakan dengan baik suasana hati ibu. Ketika ibu sedang jengkel, sedih atau marah, kerap kali anak justru menjadi susah diatur. Itu karena kepekaan hati mereka menangkap suasana hati ibunya yang tak enak, dan bahkan terimbas kepada dirinya.

Sebaliknya, banyak masalah bisa diselesaikan jika hati ibu ikhlas. Berbekal keikhlasan tersebut, ibu bisa tetap tenang menghadapi seberapa pun berat kerewelan anak. Dengan keikhlasan pula ibu bisa menjadi lebih sabar menghadapi mereka. Dan ketika datang kebahagiaan, ibu bisa menerima dengan rasa syukur yang teramat dalam.

Hal ini pulalah yang menjadi salah satu kunci utama keberhasilan generasi tua angkatan di atas kita, yang rata-rata tak terlalu banyak mengalami masalah dengan jumlah putra-putrinya yang banyak. Lain dengan keluarga di zaman sekarang, sulit untuk bisa ikhlas memiliki anak banyak.
Beratnya beban ekonomi, salah satu penyebabnya. Juga kesibukan ibu yang semakin banyak memiliki kesibukan pribadi. Begitu juga tanggapan negatif masyarakat terhadap keluarga yang berputra banyak, semuanya menjadi tantangan tersendiri bagi ibu untuk bisa bersikap ikhlas.

Selasa, Februari 15, 2005

Banyak Anak, Wacana?

Banyak anak merepotkan? Padahal mengasyikkan, asal tahu kiatnya.

Anak delapan? Bukan main. Di zaman yang serba sibuk, serba mahal, dan serba sulit seperti ini ada keluarga yang mau memiliki delapan orang anak, sungguh membuat orang terheran-heran.

Tetangga baru di sebuah komplek perumahan, keluarga Pak Ali, yang putranya berjumlah delapan, benar-benar membuat orang terkesima. Mulai dari si sulung yang duduk di bangku kuliah, hingga si bungsu yang berusia empat bulan, semuanya memiliki akhlaq yang baik dan menarik.

Dalam waktu sebentar, anak-anak itu menjadi bahan pembicaraan tetangga. Kesopanan mereka terhadap tetangga, pergaulannya yang supel dengan teman-teman sebaya, dan kepatuhannya kepada orang tua benar-benar membuat banyak orang menjadi iri.

Model seperti keluarga Pak Ali ini tidaklah banyak. Jangankan mendidik delapan anak, satu atau dua anak saja sudah kerepotan. Tapi, tahukah Anda bagaimana pendapat Bu Ali? "Mendidik seorang anak lebih sulit dari pada mendidik lima anak," begitu komentarnya. Ah, apa iya, Bu? "Itu saya alami sendiri. Ketika putra saya baru satu hingga dua orang, sangat sulit untuk membentuk kepribadian yang baik kepada mereka. Tetapi kepada anak-anak selanjutnya, ketiga, keempat hingga kedelapan, semuanya menjadi ringan dan lancar-lancar saja."
Sebenarnya, Islam memang menganjurkan ummatnya untuk memperbanyak anak, dengan catatan memenuhi beberapa syarat khusus sehingga keluarga tersebut tetap bisa sejahtera, tanpa ada yang terzalimi, baik ayah, ibu maupun anak-anak itu sendiri. Rasulullah bersabda, "Kawinilah olehmu sekalian wanita yang banyak melahirkan anak dan penuh kecintaan. Karena sesungguhnya aku ingin memiliki banyak ummat dengan kamu sekalian." (HR Abu Daud, An Nasa'I & Al Hakim).

Selasa, Februari 01, 2005

Untuk Apa Kita Punya Anak?

Mempunyai anak sendiri adalah salah satu dari karunia terindah dalam fase kehidupan berumah tangga. Rasa bahagia itu akan lebih terasa lagi saat menunggu kelahiran penyeri rumahtangga itu sudah terlalu lama. Sang ibu merasa bangga, selain karena telah berhasil memenuhi keinginan suami dan keluarga, ia juga bersyukur kepada Allah karena telah dikaruniakan anak yang diimpikannya.

Anak adalah anugerah Ilahi. Semua pasangan secara fitrahnya sangat mendambakan anugerah dan karunia ini. Karena itu, orang tua seharusnya tahu dan menyadari nilai karunia Allah yang begitu besar ini. Anak adalah amanah Allah. Orang tua harus tahu hakikat ini. Mereka yang tidak memahami hakikat nilai ini, sangat mungkin akan meremehkan dan mengabaikan kewajiban mereka untuk menjaga dan mendidik anak. Tidak semua orang yang berkeluarga mudah dan cepat dapat menimang anak. Allah yang menentukan dan mengurniakan amanah ini kepada siapa yang Dia inginkan. Karena itu, pasangan yang telah diizinkan Allah mendapat anak, harus mampu menjaganya dengan baik. Curahkan kasih sayang dan perhatian yang paling baik menurut perintah Allah dan didikan Rasulullah SAW.

Allah SWT berfirman, “Dia memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis lelaki dan perempuan (kepada sesiapa yang dikehendaki-Nya), dan Dia menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.” (QS. asy-Syura: 49-50).

Kita wajib menyambut anak yang lahir dengan penuh syukur dan kasih sayang, karena ini adalah nikmat dari Allah SWT. Nikmat yang akan menjadi penyeri rumahtangga. Membahagiakan dan menyenangkan hati suami. Apatah lagi si isteri. Firman Allah, “Dan orang-orang yang berkata: Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami)”. (QS. al-Furqan: 74).

Allah SWT juga ada mengabadikan doa hamba-hamba-Nya yang akan mampu mewariskan perjuangan mereka. Misalnya, doa Nabi Zakaria, “Ya Rabbi, kurniakan aku seorang anak yang baik di sisi Engkau.” (ali Imran: 38). “Anugerahkan aku seorang putera, yang akan mewarisi sebahagian keluarga Ya’kub.” (QS. Maryam: 5-6).

Bahkan, anak yang baik ini akan memberi manfaat kepada orang tua apabila kembali kepada Allah. Seorang ulama pernah mengungkapkan, “Anak-anak yang soleh akan menjadi sumber sedekah jariah bagi ibu bapa”. Itu terjadi jika anak-anak itu dididik, diasuh dan dijaga diri serta jiwa mereka dengan sempurna hingga menjadi mukmin yang benar. Hanya anak soleh yang bisa menjadi amalan abadi yang terus mengalir pahalanya untuk kedua orang tua.

Kita sadar bahwa Allah SWT telah memerintahkan setiap Muslim supaya menjadikan diri sebagai manusia yang dikehendaki Allah. Allah berfirman, “Hendaklah kamu menjadi manusia-manusia rabbani”. (QS. Ali-Imran: 79). Ibu bapa mempunyai tugas berat mendidik anak-anak yang Rabbani. Satu tanggung jawab yang suci untuk menghasilkan manusia-manusia yang hanya taat kepada Allah dan RasulNya. Amanah ini cukup berat, tapi ia akan ditanya oleh Allah kelak.

Rasulullah SAW bersabda, “....dan setiap suami adalah pemimpin bagi keluarganya. Ia akan diminta pertanggungjawabannya dan setiap isteri adalah pemimpin atas penghuni rumah dan anak suaminya, dan ia akan diminta pertanggungjawabannya”.

Sehubungan dengan itu, orang tua mesti memahami dan menunaikan setiap hak anak yang dipikulkan kepada mereka. Sabda Nabi, “Hak anak ke atas ayahnya ialah memberinya nama yang baik, mengajarnya menulis, mengawinkannya apabila sudah cukup umur dan mengajarnya al- Qur’an.” (Riwayat al-Hakim & ad-Dailami).
Baginda SAW juga pernah bersabda, “Tidak ada suatu pemberian yang lebih baik daripada seorang ayah kepada anaknya daripada budi pekerti yang baik”. (Riwayat at-Tirmidzi).

Di samping itu, kasih sayang ayah dan ibu juga harus diperhatikan. Itu hak mereka. Perhatian dan kasih sayang mereka perlukan untuk menjadi insan yang tunduk kepada tuntunan Allah SWT. Rasulullah SAW bersabda, “Berbaktilah kalian kepada kedua orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu.”

Mendidik anak-anak menjadi insan soleh adalah tanggungjawab orang tua. Orang tua tidak seharusnya gagal mendidik anak-anak dalam mengemban tanggung jawab ini. Jika gagal mendidik anak karena lalai, maka beban yang berat akan dipikul di akhirat nanti. Allah SWT telah mengingatkan masalah ini dalam firman-Nya, “Wahai orang-orang yang beriman! Selamatkan diri kamu dan anggota keluarga kamu dari api neraka”. (QS. At-Tahrim : 6).

Anak-anak adalah penyambung kehidupan keluarga dan penerus cita-cita ibu dan ayah. Mereka harus dididik agar menjadi anak yang soleh. Dipersiapkan untuk memikul dan melaksanakan tugas menyebar dan membela Islam. Merekalah yang mewarisi kerja-kerja kita yang belum selesai.

Mari tanya diri kita. Seriuskah kita dalam kerja mendidik mereka? Betulkah cara yang kita gunakan untuk mendidik, mengasuh dan menjaga anak-anak kita? Adakah karunia Allah ini akan kita sia-siakan hingga kelak bukannya menjadi tabungan pahala di akhirat, malah sebaliknya?