Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kesehatan. Tampilkan semua postingan

Selasa, Oktober 28, 2008

Mainan Baru untuk Anak Kita

Waspadalah pada mainan anak-anak! Mungkin kalimat ini yang pantas untuk disampaikan kepada orang tua. Kemarin (27 Oktober 2008), stasiun TV swasta Trans 7 memberitakan bahwa ada mainan anak-anak yang berbahaya bagi mereka. Pasalnya mainan anak-anak tersebut berasal dari limbah rumah sakit. Diantaranya botol infus yang telah dipakai, selang infus, kantong darah, pipet suntikan dan lain sebagainya. Yang namanya bekas terpakai, pastilah dihinggapi oleh berbagai macam penyakit atau kuman. Dalam wawancara yang ditayangkan TV 7 pada saat itu, seorang dokter menjelaskan bahwa limbah rumah sakit itu dihinggapi oleh ratusan kuman.
Bagaimana jadinya, bila salah satu limbah rumah sakit itu dijadikan mainan? Salah satunya adalah pipet suntikan. Pipet suntikan ini dijadikan mainan anak-anak sejenis pistol air.
Hal ini dapat ditemukan di salah satu rumah sakit di Cirebon, begitu yang dilaporkan stasiun TV swasta itu. Limbah rumah sakit seperti botol infus, selang infus, kantong darah dan pipet suntikan dibuang pihak rumah sakit bercampur dengan sampah-sampah pada lazimnya.
Kemudian limbah-limbah rumah sakit itu dipungut oleh para pemulung dan disetor kepada bos pemulung. Limbah-limbah rumah sakit itu banyak dicari oleh para penjual mainan anak-anak. Pada umumnya para penjual mainan anak memburu pipet suntikan. Sesampai di rumahnya, mereka mencuci pipet suntikan itu dengan air sabun, dibilas dengan air bersih dan selanjutnya dibungkus dengan kantung plastik serta siap dijual kepada anak-anak. Sasaran pistol air ini adalah anak-anak TK dan SD. Dengan lugunya, anak-anak itu bermain pistol-pistolan air yang terbuat dari pipet suntikan tanpa rasa khawatir sedikitpun.
Limbah-limbah rumah sakit –seperti pipet suntikan itu- seharusnya dilenyapkan/dibakar dan diperlakukan beda dengan sampah-sampah biasa.
Arya Nur Amarsyah

Kamis, Agustus 28, 2008

Jogging Membuat Cerdas

Ingin lebih cerdas? Sering-seringlah mengasah otak dan jogging. Belum lama ini para ahli saraf di University of Ulm, Jerman melakukan penelitian terhadap para pecandu jogging yang menyelesaikan sesi jogging dua kali 30 menit selama sepekan. Ternyata diketahui bahwa sewaktu kaki menjejak ke tanah atau jalan aspal, konsentrasi dan memori visual meningkat.

Untuk memastikannya, para peneliti memisah kelompok jogger menjadi dua. Kelompok satu diminta melanjutkan olahraga. Kelompok dua diminta istirahat. Ternyata akurasi respon kelompok dua terhadap tugas-tugas tes visual menurun dibanding kelompok satu yang terus jogging.Meski belum jelas mengapa para jogger lebih cerdas, psikolog Sanna Stroth mengatakan, kuncinya ada di wilayah hippocampus otak yang bertanggungjawab atas sejumlah fungsi memori. Aktivitas diyakini meningkatkan produksi sel hippocampus baru dan sekaligus melindungi yang sudah ada. Itulah mengapa jogging sangat berguna bagi ingatan kita.

Senin, Juli 28, 2008

Jangan Anggap Remeh Migrain!

Banyak orang awam mengenal keluhan atau penyakit ini. Bahkan sebanyak 15 % populasi diperkirakan menderita migrain. Pada wanita migrain sering timbul saat menstruasi yang disebabkan karena adanya perubahan hormon. Diperkirakan 60% wanita penderita migrain akan mengalami serangan saat sebelum atau selama menstruasi.

Serangan migrain yang pertama dapat terjadi pada segala usia, akan tetapi banyak terjadi di usia dibawah 30 tahun, sangat jarang dimulai pada usia diatas 50 tahun. Pada anak-anak seringkali disertai nyeri kepala dengan keluhan mual dan muntah. Seperti diketahui, migrain biasanya terjadi hanya pada satu sisi kepala saja. Lama serangan bervariasi antara beberapa jam hingga sampai 72 jam.

PENYEBAB
Penyebab pasti migrain, saat ini belum diketahui secara pasti. Akan tetapi diduga karena adanya pelepasan bahan-bahan (antara lain : serotonin) yang menyebabkan terjadinya reaksi radang dan nyeri, juga menyebabkan perubahan lebar daripada pembuluh darah di kepala. Didapatkan banyak faktor sebagai pencetus migrain, diantaranya adalah:

Makanan terutama coklat, keju, alkohol, MSG, anggur merah, pisang, makanan diawetkan yang dalam prosesnya menggunakan nitrat.
*Terlambat makan
*Ketegangan dan kecemasan.
*Kelelahan, kurang tidur.
*Perubahan hormonal (masa pubertas, menstruasi, kehamilan, menopause, pemakaian pil KB)
*Perubahan tekanan atau ketinggian
*Bahan aditif : pewarna makanan, nitrat dan nitrit
PEMERIKSAAN
Pemeriksaan diperlukan pada migrain agar dapat diketahui kemungkinan penyebab nyeri kepala lain yang lebih berbahaya. Pemeriksaan yang dapat dilakukan berupa pemeriksaan darah, pemeriksaan radiologi, CT-Scan, MRI kepala untuk melihat kemungkinan adanya perdarahan, stroke dan tumor. Pemeriksaan fungsi lumbal dilakukan bila terjadi adanya kemungkinan infeksi.

PENGOBATAN
Secara umum pengobatan migrain dapat dibagi menjadi 2 kelompok, yaitu pengobatan abortif untuk menghilangkan keluhan nyeri dan pengobatan pencegahan. Pada kasus ringan hingga sedang, dapat dilakukan perawatan di rumah dengan cara :
*Pemberian kompres es pada daerah nyeri.
*Beristirahat dengan bantal yang bisa menyangga kepala/ leher dengan baik.
*Beristirahat di ruangan yang tenang.
*Tidur.
Obat-obatan (yang bisa dengan mudah didapat) : Asetaminophen, Asam mefenamat, aspirin.

Pengobatan pencegahan dapat berupa merubah gaya hidup dan mengenali bahan-bahan pencetus terjadinya serangan, serta dapat pula menggunakan obat-obatan. Obat-obatan ini diberikan bila serangan migrain terjadi lebih dari 1 serangan perminggunya. Obat-obatan yang diberikan untuk pencegahan ini hendaknya diminum secara teratur.

Obat obatan tersebut antara lain :
-Propanolol, atenolol.
-Verapamil.
-Amitriptiline, doxepin.
-Gabapentin.
-Asam valproat.
-Topiramate.
-Flunarizine. Dll

Pencegahan yang lain dengan melakukan diet makanan yang diduga sebagai pencetus migrain. Pengobatan lain dapat berupa psikoterapi, latihan relaksasi, biofeedback, akupuntur, pijat.

Selasa, Juni 20, 2006

Jika Anak Hobby Jajan

Anto, sebut saja begitu, belakangan ini nyaris tidak doyan makan. Tapi bukan berarti anak usia empat tahunan itu tak suka makanan jajanan, khususnya makanan-makanan kemasan yang mengandung MSG (mono sodium glutamat) alias zat penggurih kimiawi. Tentu saja ibu Anto jadi uring-uringan. Pasalnya sejak anak itu senang jajan yang menyebabkannya sulit makan, pertumbuhan badannya cenderung lambat. Eksesnya tentu saja ada, Anto jadi rentan terhadap penyakit.

Tak jarang ibu Anto main keras, memaksa anak itu untuk menelan makannya (nasi dengan lauk dan sayuran -- pen). Dengan takut dan menangis akhirnya memang sesendok demi sesendok makanan itu ditelan. Tapi tak jarang setelah itu makanan yang disuapkan ibunya dimuntahkan Anto kembali. Sang Ibu terang tak sabaran lagi. Tangannya jadi kian ringan terhadap Anto. Akhirnya nyaris setiap hari berlangsung adegan rutin. Selama menyuapi Anto, ibunya terus mengomel dan sang anak terus menangis.

Namun setelah Anto beberapa kali terserang panas tinggi dan kejang, ibunya tak tega untuk memarahi anaknya setiap hari. Walaupun si ibu menyadari, itu bukan solusi terbaik agar Anto dapat kembali menyenangi makan makanan natural (sayuran, daging, ikan, dan sebagainya).

Kasus Anto memang jadi pelajaran berharga buat para orangtua, khususnya kaum ibu. Bahwa kebiasaan jajan pada anak-anak jangan dianggap sepele. Karena itu sejak dini, para ibu sebaiknya tidak me-los-kan anak-anak mereka dengan uang jajan berlebihan. Sebab, kebiasaan jajan pada anak-anak bukan hanya merugikan ekonomi rumahtangga, tapi juga akan mengancam kesehatan dan pertumbuhan fisik serta kecerdasan anak.

Untuk menghindari hobi jajan pada anak yang lebih parah, di bawah ini ada sedikit panduan praktis sederhana yang mudah-mudahan bisa membantu para ibu.

1. Sering-seringlah berdialog dengan anak secara bijak, tentang efek buruk dari makanan kemasan maupun makanan jajanan yang di-ler di luaran. Entah itu soal kandungan yang terdapat dalam makanan kemasan, maupun soal higinitas makanan jajanan "tradisional". Dengan begitu ibu sebaiknya juga memahami tentang zat-zat beresiko tinggi bagi pertumbuhan anak yang terkandung dalam makanan kemasan, misalnya soal bahaya MSG dan zat pewarna makanan.

2. Dampingilah anak-anak ketika melihat tayangan iklan-iklan beragam makanan pabrik yang sangat bombastis di tivi. Katakanlah pada mereka dengan bijak, bahwa tidak semua makanan pabrik itu lebih unggul dari makanan asli (natural). Juga katakan pada anak-anak, tentang kemungkinan bahayanya jika keseringan mengkonsumsi makanan pabrik.

3. Usahakan sejauh itu mampu dilakukan, ibu membuat penganan sendiri yang sederhana setiap hari. Atau sekali-sekali mengajak anak-anak bertamasya dengan membawa bekal dari rumah. Sebab makanan rumah, jelas lebih terjamin higinitasnya. Dengan itu juga diharapkan, anak-anak cinta dengan makanan produk rumah/ibu.

4. Kalaupun ingin memberikan uang jajan pada anak, berilah sepantasnya sembari diarahkan untuk tidak membeli makanan yang tidak terjamin kebersihan maupun kandungan gizinya. Tentu saja bersamaan dengan itu, sikap amanah harus terus ditanamkan pada anak.

5. Berilah pujian atau hadiah bagi anak-anak yang disiplin, dalam arti tidak membelanjakan uangnya untuk membeli jajanan yang dilarang orangtua.

6. Giatkan budaya menabung dalam keluarga dan berilah penghargaan yang pantas bagi anak-anak yang paling rajin menabung.
7. Mungkin sesekali anak-anak perlu diajak menengok anak-anak yang sakit akibat kekurangan gizi, atau sakit akibat mengkonsumsi makanan pabrik secara berlebihan. Akan lebih baik tentunya, jika para ibu menggalang kegiatan rutin misalnya menggelar dialog kesehatan keluarga yang membahas tentang bahaya makanan pabrik bagi perkembangan pertumbuhan dan kecerdasan anak.

Minggu, Juni 04, 2006

Kita Memberi Obat pada Anak

Anda yang sudah pernah memiliki bayi tentu merasakan betapa repotnya memberi obat si buah hati. Bayi tak bisa meminumnya langsung gleg seperti orang dewasa.

Sering kali ia melakukan aksi tutup mulut, berontak, atau memuntahkan kembali obat yang masuk ke mulutnya. Padahal, kebanyakan obatnya berupa sirup yang manis dan terkadang berasa buah. Wajar kalau orang tua mesti ekstra sabar dalam memberinya obat.

Nah, agar anak dapat menerima dengan baik dan Anda tak mengalami kesukaran dalam memberikan obat kepada bayi Anda, cobalah tip berikut:

Memberikan obat pada bay i:
Gendonglah bayi ketika diberi obat. Posisi menggendongnya, kepala berada lebih tinggi ketimbang badan, agar si bayi tidak tersedak yang bisa berakibat obat masuk ke dalam paru-paru.

Karena bayi biasanya susah diam, mintalah bantuan orang dewasa atau anak yang lebih besar untuk menenangkannya. Kalau tidak ada orang lain, Anda bisa membungkus tangan dan tubuh bayi dengan selimut agar tangan si bayi tak mengganggu Anda.

Jika bayi sering memuntahkan kembali obat yang diminumnya, mintalah bantuan seseorang untuk membuka mulutnya dengan lembut. Lalu, dengan lembut pula masukkan obat ke dalam mulut bayi.

Pemberian obat, yang biasanya berbentuk cair, itu bisa menggunakan sendok atau pipet. Namun bila menggunakan sendok, letakkan sendok yang telah disterilkan dan diisi obat pada bibir bagian bawah. Angkat sedikit sendoknya agar obat mengalir ke dalam mulutnya.

Bila menggunakan pipet, isilah pipet dengan sejumlah obat yang sesuai dengan petunjuk dokter. Letakkan pipet obat di sudut mulut bayi dan keluarkan obat perlahan-lahan.

Pemberian obat tetes untuk hidung, mata, dan telinga pada bayi juga perlu kiat khusus:
· Obat tetes hidung: Tengadahkan sedikit kepala bayi. Perlahan teteskan obat ke setiap lubang hidung. Hitung jumlah tetesan yang masuk ke hidung. Dua atau tiga tetes biasanya sudah cukup.
· Obat tetes mata: Miringkan sedikit kepala bayi, hingga mata terinfeksi berada di bawah. Dengan cara ini tetesan obat tak mengalir masuk ke mata sehat. Perlahan tariklah kelopak mata bawah agar obat dapat mudah mengalir.
· Obat tetes telinga: Baringkan bayi pada salah satu sisi dengan lubang telinga terinfeksi berada di atas. Teteskan obat ke dalam lubang telinga yang sakit. Buat bayi tetap diam agar obat benar-benar masuk ke lubang telinga bagian dalam.
Sebelum obat tetes tersebut diberikan, ada baiknya hal-hal berikut ini diperhatikan:
· Rendam obat tetes dengan posisi tegak dalam tabung berisi air suam-suam kuku selama beberapa menit, agar ketika diteteskan dan masuk ke lubang hidung atau telinga, anak tidak terlalu kaget.
· Jangan sentuhkan obat tetes ke hidung, telinga, atau mata agar bakteri tidak berpindah ke dalam botol obat. Perhatikan batas waktu pemakaian obat itu. Obat kadaluwarsa akan memperburuk peradangan atau kondisi bayi yang diobati.
Memberikan obat pada anak-anak :
· Mintalah anak menutup lubang hidung saat meminum obat agar rasa obat tak terlalu keras.
· Campurlah obat, terutama yang berupa tablet, dengan sirup atau madu agar tak terasa pahit.
· Jangan larutkan obat dengan air di gelas karena ada kemungkinan obat mengendap dan tak terminum si anak.
Mintalah anak untuk menggosok gigi setelah meminum obat yang manis agar tidak menempel di gigi.

Sabtu, November 19, 2005

Madu, Sumber Gizi Balita

Balita Anda susah makan? Sebelum menderita kurang gizi, beri dia madu setiap hari. Dari penelitian terbukti, madu bisa menambah nafsu makan, menurunkan tingkat morbiditas terhadap panas dan pilek, di samping itu lengkap kandungan gizinya.

Memberi makan anak-anak usia di bawah lima tahun (balita) memang gampang-gampang susah. Kalau si anak punya nafsu makan tinggi, orang tua tidak bakal repot. Diberi makan apa saja balita itu akan menyantapnya dengan lahap. Sebaliknya, anak balita yang bernafsu makan rendah atau susah makan, membuat orang tua sering kewalahan, bahkan hampir kehilangan akal untuk membujuknya makan.

Berbagai jenis makanan dicobakan. Reaksi si anak cuma membuang kembali makanan di mulutnya bila tidak sesuai kesukaannya. Celakanya, makanan kesukaannya justru kurang bergizi. Padahal, variasi makanan sangat perlu. Kalau keadaan ini berlanjut bisa-bisa si anak menderita kurang makan dan kurang gizi, sehingga mudah sakit. Akibat semua itu proses tumbuh kembangnya menjadi tidak normal. Yang paling merisaukan, bila ia menjadi bagian dari generasi tanpa masa depan (lost generation).

Meningkatkan nafsu makan Untunglah ada hasil penelitian Y. Widodo. Peneliti pada Pusat Penelitian dan Pengembangan Gizi di Bogor ini, tahun lalu membawa kabar gembira bagi para orang tua yang memiliki anak kurang energi protein (KEP). Ia melaporkan bahwa pemberian madu secara teratur setiap hari dapat menurunkan tingkat morbiditas (panas dan pilek) dan memperbaiki nafsu makan anak balita.

Penelitian dilakukan terhadap balita pasien Klinik Gizi, Puslitbang Gizi, yang menderita kurang energi protein (KEP) akibat krismon. Ada 51 balita usia 13 - 36 bulan yang terlibat dalam penelitian. Mereka dibagi menjadi dua kelompok, pertama Kelompok Madu (25 orang) sebagai sampel, dan kedua Kelompok Sirop (26 orang) sebagai kontrol. Kedua kelompok sama-sama diberi tambahan vitamin B-kompleks dan vitamin C (50 mg).

Indikator yang diamati antara lain data antropometri (umur, bobot badan, tinggi/panjang badan), sosial-ekonomi, recall konsumsi, riwayat kesehatan anak pada saat sebelum, selama, dan sesudah perlakuan sekitar dua bulan.

Hasil penelitian menunjukkan, tingkat morbiditas terhadap panas dan pilek kelompok madu atau sampel menurun, nafsu makan meningkat, porsi dan frekuensi makan bertambah, sehingga konsumsi energi dan protein mereka juga meningkat dibandingkan dengan kelompok kontrol yang mendapat sirop.

Manfaat kesehatan pemberian madu yang tampak dalam penelitian tersebut antara lain disebabkan oleh dua hal. Pertama, madu merupakan makanan yang mengandung aneka zat gizi sedangkan gula hanya mengandung energi atau kalori. Kedua, madu ternyata juga mengandung senyawa yang bersifat antibiotik.

Mengandung faktor pertumbuhan Kandungan gizi utama madu adalah aneka senyawa karbohidrat seperti gula fruktosa (41,0%), glukosa (35%), sukrosa (1,9%), dan dekstrin (1,5%). Karbohidrat madu ikut menambah pasokan sebagian energi yang diperlukan balita.

Kadar protein dalam madu relatif kecil, sekitar 2,6%. Namun kandungan asam aminonya cukup beragam, baik asam amino esensial maupun non-esensial. Asam amino tersebut turut pula memasok sebagian keperluan protein tubuh balita.

Vitamin yang terdapat dalam madu antara lain vitamin B1, vitamin B2, B3, B6, dan vitamin C. Sementara mineral yang terkandung dalam madu antara lain kalium, natrium, kalsium, magnesium, besi, tembaga, fosfor, dan sulfur. Meskipun jumlahnya relatif sedikit, mineral madu merupakan sumber ideal bagi tubuh manusia karena imbangan dan jumlah mineral madu mendekati yang terdapat dalam darah manusia.

Penelitian menunjukkan, madu juga mengandung faktor pertumbuhan. Dilaporkan, stek batang pohon yang dicelupkan dalam madu akan lebih cepat berakar dan tumbuh lebih baik dibandingkan dengan stek yang ditanam tanpa perlakuan madu.

Madu juga mengandung zat antibiotik. Kandungan ini merupakan salah satu keunikan madu. Penelitian Peter C. Molan (1992), peneliti dari Departement of Biological Sciences, University of Waikoto, di Hamilton, Selandia Baru membuktikan, madu mengandung zat antibiotik yang aktif melawan serangan berbagai patogen penyebab penyakit.

Beberapa penyakit infeksi berbagai patogen yang dapat "disembuhkan" dan dihambat dengan (minum) madu secara teratur antara lain penyakit lambung dan saluran pencernaan; penyakit kulit, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), batuk dan demam; penyakit jantung, hati, dan paru; penyakit-penyakit yang dapat mengganggu mata, telinga, dan syaraf.

Berdasarkan hasil penelitian Kamaruddin (1997), peneliti dari Departement of Biochemistry, Faculty of Medicine, Universiti of Malaya, di Kualalumpur, paling tidak ada empat faktor yang bertanggung jawab terhadap aktivitas antibakteri pada madu. Pertama, kadar gula madu yang tinggi akan menghambat pertumbuhan bakteri sehingga bakteri tersebut tidak dapat hidup dan berkembang.

Kedua, tingkat keasaman madu yang tinggi (pH 3.65) akan mengurangi pertumbuhan dan daya hidupnya sehingga bakteri tersebut merana atau mati. Ketiga, adanya senyawa radikal hidrogen peroksida yang bersifat dapat membunuh mikroorganisme patogen. Dan faktor keempat, adanya senyawa organik yang bersifat antibakteri. Senyawa organik tersebut tipenya bermacam-macam. Yang telah teridentifikasi antara lain seperti polyphenol, flavonoid, dan glikosida.

Takaran minum madu
Untuk mendapatkan manfaat kesehatan dari madu, cairan manis yang menjadi cadangan makanan koloni lebah ini harus dikonsumsi secara teratur. Dalam penelitian Widodo tersebut balita sampel diberi madu sebanyak 20 gram setiap hari. Madu tersebut tidak dianjurkan untuk bayi usia 0 - 4 bulan, karena makanan pertama dan yang utama untuk mereka adalah air susu ibunya (ASI). Setelah usia 4 bulan baru boleh diberi madu seiring dengan pemberian makanan tambahan sesuai anjuran.

Menurut Muhilal, 2-3 sendok makan madu 2 X sehari sudah cukup memadai untuk menjaga stamina dan kesehatan tubuh. Namun untuk penyembuhan atau pengobatan, madu lebih baik dikonsumsi dalam bentuk larutan dalam air karena akan memudahkan penyerapannya di dalam tubuh. Madu tersebut sebaiknya dikonsumsi dua jam sebelum makan atau tiga jam sesudah makan. Selain menambahkan madu pada menu makanan balita secara teratur, tentu saja berbagai upaya kesehatan lainnya seperti pengobatan medis, pemberian makanan tambahan, dan imunisasi umum, harus pula dilakukan. Upaya tersebut akan lebih mempercepat upaya pemulihan kesehatan dan perbaikan gizi balita, terutama yang susah makan, sehingga mereka terhidar kemungkinan menjadi generasi tanpa masa depan.

Senin, Juli 11, 2005

Gemuk Tak Mesti Sehat

Suatu hari Reda, 9 bulan, putra kedua bu Yayuk, menangis keras, tidak bisa dihentikan dengan bujukan apapun. “Saya memang sedang menyapihnya, supaya nanti makannya banyak dan cepat gemuk seperti kakaknya, “ucap bu Yayuk sambil tersenyum.

Masih banyak masyarakat yang berpendapat bahwa anak yang gemuk adalah anak yang sehat. Sehingga para ibu merasa bangga jika anaknya sangat gemuk, sementara ibu yang lain juga merasa kecewa melihat anaknya tidak segemuk anak tetangganya. Sebenarnya hal tersebut tidak beralasan, asalkan secara fisik, grafik pertumbuhan anak pada KMS (Kartu Menuju Sehat) sudah menunjukkan kenaikan yang kontinyu setiap bulan sesuai lengkungan grafik dan berada pada pita warna hijau, maka anak tersebut pasti sehat. Lebih-lebih bila anak juga menunjukkan perkembangan mental yang normal, yaitu perkembangan motorik, bahasa, intelektual, emosional, dan sosial sesuai dengan umurnya, maka anak tersebut walaupun tidak terlalu gemuk, tapi sehat.

PENYEBAB
Penyebab terjadinya obesitas pada bayi :
1. Masukan energi yang melebihi kebutuhan tubuh
 bayi yang minum susu botol yang selalu dipaksakan oleh ibunya, bahwa setiap kali minum harus habis
 kebiasaan memberikan makanan/minuman setiap kali anak menangis
 pemberian makanan tinggi kalori pada usia yang terlalu dini
 osmolaritas susu formula yang diberikan terlalu tinggi (terlalu kental, terlalu manis,kalorinya tinggi)
2. Faktor lain
 keturunan. Jika salah satu orang tuanya obese, maka anaknya memiliki resiko 40% menjadi obesitas. Sedangkan jika kedua orang tuanya obese, maka resikonya meningkat 80%.
 pandangan masyarakat yang salah, yaitu bahwa bayi yang sehat = bayi yang gemuk.
 aktivitas yang kurang, sehingga penggunaan kalori kurang
Obesitas pada bayi umur 1 tahun pertama, sebagian berhubungan dengan berat badan lahir dan cara pemberian makannya. Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya bayi berat badan lahir yang lebih tinggi dari biasanya, yaitu : keturunan, ibu yang obese, pertambahan berat badan ibu pada waktu hamil yang berlebihan (idealnya = 10 – 12,5kg), ibu yang diabetes atau pradiabetes.
KOMPLIKASI
Obesitas pada bayi akan mengakibatkan :
 menurunnya respon imunologik sel T dan aktivitas sel-sel polimorfonuklear yang berperan sebagai penyangga kekebalan tubuh.
 meningkatkan resiko terjadinya infeksi saluran pernafasan bagian bawah, karena terbatasnya kapasitas paru-paru. Keluhan lainnya adalah nafas yang pendek.
 bisa terjadi pembesaran kelenjar tonsil (amandel) dan adenoid yang mengakibatkan tertutupnya saluran nafas atas, sehingga terjadi kekurangan oksigen san saturasi oksigen yang rendah, disebut sindrom Chubby Puffer
 kulit sering lecet karena gesekan. Sering juga disertai bintik-bintik gatal, maupun jamur pada daerah lipatan
 pergerakannya lambat. Kadang juga disertai kelainantulang
 bila obesitas bayi berlanjut sampai dewasa, maka akan mengakibatkan : tekanan darah tinggi, atherosklerosis, penyakit jantung koroner, diabetes, gagal jantung, maturitas seksual lebih awal, haid yang tidak teratur, dll.Nah, dengan mengetahui betapa kompleksnya akibat dari obesitas, masihkah orang tua berbangga diri dengan bayinya yang super gemuk ?