Jum’at jelang siang. Semua karyawan berkesiap menuju masjid. Mau apa lagi kalau bukan untuk sholat jum’at. Meskipun ada diantara kami yang sholatnya memang seminggu sekali, ya sholat Jum’at.
Seusai wudhu, perlahan kupilih dimana seharusnya aku duduk. Terlihat dari tempat kuberpijak shaf yang kurang rapat di depan. Tempat itulah yang kupilih. Tadinya sih ingin dishaf pertama, tapi kumenyadari kalau aku tak memakai peci.
Selain itu, shaf pertama tidak dekat jendela, pastinya keringatku tak bisa ditolerir kedatangannya. Selain itu pula, kata banyak orang, yang dishaf depan harus yang berpakaian rapi, berpeci dan sudah naik haji. Entahlah, aku tak pernah mengorek-ngorek latar belakang aturan ini.
Disamping kananku duduk seorang lelaki tua, kacamatanya tebal sekali, berpakaian serba putih, kepalanya dibalut sorban kombinasi merah putih, jemari kanannya memilah biji tasbih, seraya menggerakkan bibirnya. Disamping kiriku jendela, sejuk sekali jika angin mampir dengan semilir.
MC naik keatas podium, memberikan pengumuman seadanya. Setelahnya sang khotib yang bertitel Kiyai Haji naik kesana. Adzan berkumandang, semua terdiam. Ada pula yang memandang sang mu’adzin yang bersuara indah itu.
Sang khotib membuka khutbahnya dengan suara datar. Tak sesuai dengan pakaiannya yang terkesan tegas. Padahal, sebagaimana yang pernah kubaca dalam sebuah hadits, Rasulullah memberikan khutbah dengan wajah marah dan suara tinggi.
Baru saja khatib sampai pada kalimat Ittaqullah, aku menguap. Kantuk menyergap. Kulirik sekitarku diam-diam. Sepertinya banyak kepala tertunduk, hampir semua. Perlahan kepalaku menunduk, seperti daun putri malu terkena sentuhan. Samar-samar suara khatib yang datar itu. Dan tidak kutahu apa yang sedang dibahasnya.
Seperti jum’at yang lalu, jum’at kali ini-pun begitu. Belum selesai khatib membuka khutbahnya, aku sudah terlelap. Dan kembali terbangun ketika khatib berwasiat Ibaadallah, innallaaha ya’murukum bil ‘adli wal ihsan.
Satu diantara keutamaan hari Jum’at ialah karena hari itu merupakan Rajanya Hari. Pendahulu kita, Adam dan Hawa mendapatkan ampunan dihari itu, setelah 40 tahun sebelumnya melanggar aturan Allah SWT, yakni mengkonsumsi khuldi. Sehingga Rasulullah saw bersaksi atas kemuliaan Jum’at “Sesunnguhnya Allah menghapus dosa dari jum’at ke jum’at”. Potongan hadits ini diriwayatkan oleh Bukhari.
Dengan kita terlelap saat khutbah saja, kita termasuk orang yang diampuni Allah. Apalagi kalau kita menyimak khutbah tentu pahala lebih berlipat, ilmu pun kita dapat. Jadilah kita pulang sholat Jum’at dengan membawa manfaat. Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui. Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung. (QS Al-Jumu’ah (62) ayat 10-11)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar