Shin mengulurkan tangan menerima buku bersampul biru itu dengan perasaan tak menentu. Tak dihiraukannya lambaian tangan Reina yang menghilang dari balik pintu kelasnya. Pikiran Shin langsung melayang pada orang yang akan ia kasih buku itu. Ada dua prasangka yang berkelebat di benak Shin. Pertama, mungkinkah Reina suka sama Indra atau sebaliknya? Dan kedua, Shin ingin berteriak.. Indra!!! Dasar usil! Sekali lagi Shin dikerjain!
Tepat lima menit sebelum bel, Indra datang dengan wajah tak bersalah. Shin tak peduli, ia langsung menghampirinya. Tapi sebelum menemui Indra, Shin memastikan dulu wajahnya tak merah. Shin sendiri kadang tak habis pikir lho kalau lagi nonton iklan pemutih atau kosmetik apalah namanya, kenapa ya cewek Indonesia pada pengen punya muka or kulit yang putih? Padahal kalau menurut Shin, punya kulit putih tuh nggak selalu enak lho, banyak juga nggak enaknya… apalagi kalau lagi malu, ketahuan banget pipinya memerah! Indra cengar – cengir melihat ekspresi Shin. Indra tahu Shin sedang menahan ekspresi biar mukanya nggak memerah. Tuh kan, nggak salah lagi, pasti dia biang keroknya, pikir Shin kesal bercampur lega atas dugaan pertamanya yang mungkin akan meleset. Sebaliknya ia semakin bertambah yakin dengan dugaan ke-duanya!.
“Kenapa Shin? Pagi yang cerah ya… hm…” Indra merentangkan tangannya seperti orang yang sangat menikmati udara pagi ini, kayak iklannya Jihan Fahira itu lho! (ngaco deh Shin). Ini dia nih salah satu sifat Indra yang Shin sebelin dari dulu, Jail!.
“Maksud kamu apa sih Ndra?”
“Maksud apa? O… abis ada badai ya tadi” tuh kan… ihhhh! Pengen deh Shin sekali – kali nonjok sahabatnya itu.
“Eit, mau nonjok ya? Ayo, kejar…. Ayo..”. Indra berlari menuju pintu kelas. Tuh kan? Awas ya, gw kejar lu sampe ke ujung dunia !. Shin bersiap mengejar. Se-isi kelas mulai heboh (kayak lagi ngedukung petinju jagoannya aja ya?) dengan tingkah Shin dan Indra yang mulai siap tempur. Tapi belum sampai langkah Shin di depan pintu, wajah Indra kembali muncul dengan cengiran khasnya dan tersenyum penuh kemenangan yang membuat Shin makin kesal. Shin bersiap menyerang, tapi Indra cuek aja!. Shin tambah kesal. Tapi.. O..o.. pantesan, orang di sampingnya ada Pak Sentot, guru pengajar Fisika yang paling killer di kelas mereka! Shin semakin geram. Selama pelajaran berlangsung mukanya ditekuk sedemikian rupa (emangnya lutut apa ya bisa di tekuk). Kesel banget!
bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar